
Pagi itu bukannya berangkat bekerja, Bara malah asyik bermain-main dengan Nela.
Merasa tidak ada yang mengganggu, mereka pun keasyikan dan begitu terbuai dengan kenikmatan sesaat itu.
Kenikmatan dunia yang tak pernah dirasakan oleh Bara dan Nela itu, membawa mereka kedalam awal yang mungkin akan menimbulkan penyesalan.
Tak puas melakukan perc****an di dapur, dengan segera laki-laki itu memangku tubuh Nela ala bridal style dan membawanya ke dalam kamar Nela yang jaraknya tidak jauh dari dapur.
Dibaringkannya tubuh gadis itu di atas tempat tidur lalu langsung menyerang Nela tanpa jeda sedikitpun.
Nela yang sudah terbuai oleh kenikmatan pun hanya bisa diam dan membiarkan Bara melanjutkan hasratnya.
Tak lama ia memekik kesakitan tatkala sesuatu benda kerasa menerobos masuk kedalam goa rahasia miliknya, benda itu menancap sangat dalam hingga membuatnya sangat kesakitan hingga meneteskan air mata.
Meski begitu, dirinya tak meminta Bara untuk menghentikan pergerakannya. Bara yang terus memompa tubuhnya dengan ritme naik turun membuat dirinya begitu terbuai dan tak ingin berhenti merasakan kenikmatan itu.
Hingga setelah setengah jam berlalu Nela baru sadar bahwa perbuatannya sudah sangat melampaui batas.
Kesuciannya hilang, direnggut oleh kaki-laki yang sama sekali tidak mencintainya bahkan tidak mempunyai niat untuk menikahinya.
Nela terisak di samping Bara yang tengah tertidur pulas. Dia kelelahan setelah melakukan hubungan yang tak seharusnya itu.
*******
Di kantor.
Cindy begitu kewalahan karena harus bekerja sendirian, jika biasanya ada Farel yang membantunya kini dia tidak ada yang menambah dirinya semakin sibuk adalah Bara yang juga ikut-ikutan tidak masuk kantor padahal seharusnya laki-laki itulah yang harus memastikan semua keadaan kantor baik dan semua pekerjaan tertangani.
"Bu Cindy, ini ada berkas laporan keuangan bulan ini," ucap seorang karyawan yang bertugas di bagian keuangan di perusahaan itu.
"Taruh saja di meja saya, sekarang Pak Bara belum datang."
"Oh baik Bu." Karyawan laki-laki itu pun meletakkan berkas itu di atas meja kerja Cindy lalu langsung pergi dari tempat itu!
Cindy duduk di kursi kerjanya lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi itu. Ia pemijat keningnya yang terasa pusing.
"Coba ada Pak Farel, pasti aku gak lelah seperti ini. Pak Bara juga kemana sih kok gak bisa dihubungi?" gumam Cindy.
__ADS_1
**********
Di luar kota.
"Jadi bagaimana Pak, apa Anda bersedia bekerjasama dengan perusahaan kami?" tanya Farel pada calon investornya.
"Seperti yang saya katakan di awal, saya setuju bekerjasama dengan perusahaan Anda."
"Baik Pak, kalau begitu silahkan tanda tangan disini."
Laki-laki itu pun langsung menandatangani surat perjanjian itu di tempat yang diarahkan oleh Farel.
"Sudah selesai semua Pak Farel?" tanyanya setelah menandatangani surat itu.
"Sudah Pak, terimakasih atas kepercayaan Anda pada perusahaan kami," ucap Farel sembari merapikan berkas-berkas itu.
"Kalau gitu saya permisi Pak."
"Oh iya silahkan Pak."
Mereka berjabat tangan lalu berpisah.
[Halo sayang, kamu siap-siap ya. Aku udah mau jalan pulang.] ucap Farel setelah telponnya tersambung.
[Iya, dari pagi aku udah siap kok.]
[Aku jalan sekarang ya. Ingat jangan keluar sebelum aku datang.]
[Iya bawel.] Kinara tertawa kecil sebelum akhirnya dirinya mematikan sambungan telponnya.
[Ha-]
Tut! Tut! Tut!
Baru Farel hendak berbicara lagi, Kinara sudah lebih dahulu mematikan sambung telpon mereka.
Farel menggigit bibir bawahnya lalu tersenyum tipis.
__ADS_1
"Dasar cewek, gak bisa ya mereka mendengarkan orang bicara dulu," gumam Farel lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
Farel pun langsung pergi meninggalkan tempat itu! Dia tak sabar ingin mengajak Kinara jalan-jalan di kota indah itu.
*******
"Kenapa kamu menangis?" tanya Bara saat melihat Nela yang menangis sambil menutup tubuhnya dengan selimut.
"Mas, kamu jahat. Aku sudah bilang untuk tidak melakukan ini tapi kenapa kamu melakukannya juga," ucap Nela dengan suara serak khas orang menangis.
"Aku rasa kamu juga menikmati permainan tadi. Udahlah jangan nangis lagipula tidak ada yang tahu ini," ucap Bara dengan santainya seolah tak berdosa sedikitpun.
"Bagaimana kalau aku hamil? Aku takut."
"Gak akan hamil, kamu tenang saja lagian gak mungkin hamil hanya dalam satu kali berhubungan. Awas ya kalau kamu mengadu atau mengatakan pada siapapun tentang kejadian hari ini."
"Aku mau kamu menikahi aku." Dengan suara lirih Nela mengutarakan keinginannya.
"Jangan mimpi kamu ya. Saya ini seorang CEO di perusahaan besar sedangkan kamu siapa hah? Kamu hanyalah seorang pembantu, jangan coba-coba mencemarkan nama baik saya dan keluarga saya. Anggap ini tidak pernah terjadi dan simpan rapat-rapat rahasia ini, kalau ada satu orang saja yang tahu tentang ini, kamu tidak akan pernah bisa selamat. Jangan pikir kamu bisa bebas keluyuran di dunia ini."
Nela menangis deras, rasa sesak semakin mendera hatinya, betapa ia merasa tersakiti oleh perkataan Bara yang menurutnya tidak seharusnya diucapkan.
Bara menatap Nela dengan tatapan datar, perlahan ia meraih dagu Nela lalu turun ke bagian dada!
"Jangan nangis lagi, anggap semua sebagai hiburan semata dan bawa bahagia aja. Oh ya, gunung kembar mu ini sangat membuatku betah memainkannya," ucap Bara sembari terus me****s benda kenyal milik Nela.
Nela hanya diam sambil terus menangis. Rasanya ingin sekali dirinya berteriak sekuat tenaganya namun sayang, tidak mungkin dirinya melakukan hal itu karena takut mengundang kecurigaan pada orang-orang sekitar rumah majikannya.
"Sudah siang rupanya, saya mau mandi. Kamu istirahat saja dulu jangan pikirkan pekerjaan rumah, lagipula rumah juga tidak akan terlalu kotor meski seharian tidak dibersihkan, jangan masak untuk makan siang atau makan malam, kita makan pesan pia online saja."
Setelah selesai dengan perkataannya, Bara langsung berjalan keluar dari kamar itu dan langsung masuk ke dalam kamarnya untuk selanjutnya membersihkan dirinya!
Tak terasa karena asyiknya bermain dengan Nela, Bara sampai lupa untuk bekerja. Hari sudah siang, sudah memasuki tengah hari namun, Bara belum keluar dari rumahnya karena sibuk dengan Nela.
Di kamarnya, Nela masih menangis menyesali semua yang sudah terjadi, meski tangisan dan penyesalannya tak bisa mengembalikan yang sudah hilang darinya tapi setidaknya dirinya bisa mengeluarkan semua kekesalannya lewat air matanya.
"Kenapa aku begitu bodoh, kenapa aku gampang sekali terbuai dengan hanya sedikit sentuhan," batin Nela.
__ADS_1
Gadis kitu me****s selimut yang menutupi tubuhnya lalu beberapa detik kemudian memukuli dirinya sendiri!
Bersambung