
Tok!
Tok!
Tok!
Farel mengetuk pintu rumah Kinara dengan perasaan ragu karena saat itu jam sudah menunjukkan pukul dia puluh satu malam.
Tak lama seseorang membuka pintu itu.
"Selamat malam Bu," ucap Farel ramah.
"Selamat malam. Siapa ya?" tanya Ibu itu.
"Saya Farel Bu, temannya Kinara. Apa boleh saya bertemu sebentar dengan Kinara?"
"Saya Ibunya Kinara. Apa yang membuat kamu datang malam-malam seperti ini? Saya tidak akan mengizinkan Kinara pergi saat hari sudah malam seperti ini."
"Saya tidak akan mengajaknya pergi, saya hanya ingin bicara sebentar dengannya. Ada sesuatu yang harus saya tanyakan pada Kinara. Dari tadi saya sudah mencoba menelponnya tapi tidak diangkat."
"Silahkan duduk dulu, Ibu panggil Kinara dulu." Ibunya Kinara tak sampai hati mengusir orang yang sudah berduri didepan pintu rumahnya itu, akhirnya dirinya menyuruh tamunya duduk dan menunggu orang yang ingin ditemuinya.
Farel duduk di kursi yang ada di teras depan rumah Kinara dan membiarkan Ibunya Kinara pergi. Ia duduk menunggu Kinara dengan sabar meski sebenarnya dirinya sudah tak tahan ingin bertemu dan berbicara pada kekasihnya itu.
Tak lama, Kinara datang dan langsung duduk di kursi yang ada di samping kursi yang diduduki oleh Farel!
"Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Kinara ketus.
"Kamu kenapa sih, kok mendadak jadi gini? Dari tadi aku telpon kamu tapi kenapa kamu gak mau mengangkat telpon dari aku?"
"Kamu beneran gak tahu atau pura-pura gak tahu?" Kinara mendelik pada Farel lalu sedetik kemudian memalingkan wajahnya.
"Aku rasa kita tidak ada masalah, kenapa begini? Tiba-tiba kamu diemin aku kayak gini, aku gak bisa diginiin, aku takut kehilangan kamu."
"Udah deh Farel, jangan mengucapkan kata-kata manis kalau pada akhirnya kamu punya wanita lain selain aku."
"Maksud kamu apa? Aku tidak mengerti."
"Siapa sekretaris Bara?"
"Sekretaris kak Bara?" Farel menatap Kinara dengan penuh tanya.
"Dia pacar kamu kan?"
"Pacar aku cuma kamu, kenapa kamu berkata seperti ini?"
"Tadi aku ke kantor kamu dan saat aku mau masuk ke dalam ruangan kamu, wanita itu datang mencegah aku masuk kedalam ruangan kamu. Dia bilang kalau kamu lagi sibuk dan dia bilang juga kalau dia itu pacar kamu."
__ADS_1
"Nggak, demi Allah aku gak pacaran sama dia lagipula untuk apa aku minta kamu datang ke kantor kalau aku punya pacar di sana. Gak mungkin kan?"
Kinara terdiam sembari menundukkan kepalanya ke bawah.
Farel meraih tangan Kinara lalu menggenggamnya!
"Coba kamu pikir, kalau aku pacaran sama dia, gak mungkin aku minta kamu datang ke kantor. Yang ada nanti malah aku ketahuan selingkuh dan akhirnya aku tidak akan mendapatkan apa-apa."
**********
Di rumah keluarga Luci.
Bara berdiri didepan jendela kamarnya yang terbuka, dia menatap pepohonan yang bergoyang terkena angin.
"Apa mungkin aku suka sama Nela? Tapi bagaimana dengan Sisca, aku cinta sama dia."
Bara melihat foto Nela yang ia ambil secara diam-diam menggunakan kamera ponselnya.
"Nela cantik, manis lagi." Ia beralih melihat foto Sisca yang terpajang di atas meja.
"Sisca juga cantik. Apa salahnya memiliki dua wanita selama aku bisa mengatur waktu untuk dua perempuan sekaligus."
Bara sedang dilanda cinta gila pada Nela, meski dirinya sudah mempunyai pacar tapi entah kenapa setiap kali dirinya melihat Nela, dirinya selalu ingin memiliki bahkan mendapatkan Nela secepatnya.
Di kamar Nela.
Tanpa rasa takut dan khawatir lagi, Nela sudah betah bekerja di rumah itu dan sudah mulai bisa berbicara normal dengan Bara.
**********
Waktu terus berputar, kini pagi mulai datang.
Azan subuh mulai berkumandang dari masjid terdekat, Nela pun terbangun dari tidurnya dan langsung beranjak dari tempat tidurnya!
Dirinya mulai menyapa pekerjaan yang setiap pagi sudah menunggunya.
Mata hari mulai muncul dan menampakkan sinarnya, kini bulan benar-benar sudah pergi dan berganti dengan bulan.
"Selamat pagi Mama, selamat pagi Nela," ucap Farel yang baru tiba didepan meja makan.
"Semangat sekali hari ini? Ada apa?" tanya Luci.
"Kakak menugaskan aku ke luar kota selama dua hari," sahut Farel.
"Ke luar kota, kemana? Mama juga ada urusan di Makasar."
"Sayangnya aku bukan ke Makasar Ma, aku ada tugas di Bali."
__ADS_1
"Jadi kamu siap pergi ke Bali?" tanya Bara yang baru datang dan langsung nimbrung.
"Iya kak, masa aku nolak tugas dari bos aku sendiri."
"Nggak ada bos atau bawahan diantara kalian. Perusahaan itu masih hak Mama jadi kalian harus bekerjasama untuk memakmurkan perusahaan kita itu."
"Iya Ma, aku tahu, Farel nya aja tuh yang terlalu lebai."
"Dalam sebuah kerajaan hanya ada satu raja dan dalam sebuah perusahaan hanya ada satu pemiliknya. Di berusaha kita ini, karena Papa sudah tidak ada pastinya Papa sama Mama mewariskan perusahaan kita ini sama kakak."
"Tidak juga, bisa aja Papa sama Mama mewariskan perusahaan kita ini pada kita berdua."
"Udah-udah. Kembali ke pembicaraan soal pekerjaan. Jadi untuk apa Farel ditugaskan di Bali?" ucap Luci.
"Farel mau meeting bersama klien kita yang di Bali. Jangan tanya hasilnya bagaimana karena ini Farel yang memegang," ucap Bara.
"Nela, tolong masukan pakaian yang sudah aku siapkan ke dalam koper aku ya," ucap Farel pada Nela.
"Baik Mas, pakaiannya ditaruh dimana?"
"Ada di atas tempat tidur, kopernya juga ada di atas tempat tidur ya."
"Oh, iya Mas." Nela pun langsung pergi ke dalam kamar Farel untuk mengerjakan pekerjaan yang disuruh oleh anak majikannya itu!
"Mama juga mau ke luar kota tapi nanti sore aja biar malamnya bisa langsung istirahat," ucap Luci.
"Mama juga mau ke luar kota?" tanya Bara.
"Iya, Mama mau mengecek tempat untuk membuka cabang restoran kita."
"Berapa hari Mama di sana?"
"Satu hari aja, dua hari sama hari waktu pulang."
Bara tersenyum, seketika pikiran busuk melintas dipikirannya. Ia mulai merangkai rencana gila saat dirinya hanya berdua dengan Nela di rumahnya.
"Kamu jangan tidur di rumah selama kami tidak ada di rumah," ucap Luci.
"Benar. Untuk menghindari fitnah lebih baik kakak tidur di hotel aja untuk dua malam ini saja," sambung Farel.
"Tenang aja lagian aku juga tahu itu. Aku akan menginap di hotel."
"Bukannya Mama gak percaya sama kamu tapi ini untuk menjaga kamu dari perbuatan dosa juga."
"Kalian tenang saja, aku tidak mungkin melakukan hal bodoh lagipula Nela bukan tipe aku."
"Hati-hati kalau bicara, jangan sampai kakak kena tulah ucapan sendiri. Jangan sampai kakak ngejar-ngejar Nela nanti."
__ADS_1
Bersambung