AKU DAN ANAK MAJIKANKU

AKU DAN ANAK MAJIKANKU
bab 13


__ADS_3

Pagi hari, Farel dan Luci sudah siap untuk pergi ke luar kota namun dengan tujuan yang berbeda.


"Bu, katanya Ibu mau berangkat sore tapi kenapa jam segini udah siap?" tanya Nela.


"Teman saya ngajak berangkat bareng jadi ya udah lah pergi bareng aja sama dia," sahut Luci.


"Kamu hati-hati ya Nel di rumah," ucap Farel yang sudah menyeret kopernya keluar rumah!


"Iya Mas."


"Udah siap semuanya? Kalau gitu kita berangkat," ucap Bara.


"Saya titip rumah ya Nel, awas jangan masukin orang selama saya gak ada di rumah."


"Iya Bu, lagipula saya tidak mengenal siapa pun di sini jadi gak bakal ada orang yang datang ke sini terkecuali orang yang memang ada keperluan sama Ibu dan anak-anak Ibu."


"Oh ya Nel, satu lagi. Karena kak Bara juga gak akan tidur di rumah, kamu jangan lupa kunci semua pintu," sambung Farel.


"Iya Mas."


Bara tersenyum ke arah Nela namun Nela tak menanggapinya karena sibuk dengan koper milik Luci yang harus ia angkut ke dalam mobil.


Setelah memastikan semua barang-barang yang akan dibawa sudah masuk ke dalam mobilnya, Farel langsung masuk dan duduk di bangku kemudi!


"Kita pergi dulu Nel, hati-hati di rumah."


Farel mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang!


Kini di rumah itu hanya ada Bara dan Nela saja.


"Saya juga berangkat, nanti malam saya pulang ke rumah ya Nel, kamu jangan tidur dulu," ucap Bara.


"Iya Mas, tapi Mas bukannya Mas mau tidur di luar?"


"Iya, saya kan harus ganti baju dulu."


Nela tersenyum lalu menundukkan kepalanya.


Bara melangkah beberapa langkah untuk lebih mendekat pada Nela lalu dia menggerakkan tangannya melingkar di pinggang Nela!

__ADS_1


Perlakuan Bara membuat Nela terkejut dan berusaha melepaskan tangan kejar yang tiba-tiba melingkar dengan erat di pinggangnya.


"M_mas mau apa? Lepaskan saya," ucapnya sembari mendorong dada Bara dengan kedua tangannya.


"Tenang saja Nel, saya cuma penasaran sama ukuran tubuh kamu, siapa tahu saya ingin membelikan kamu baju pas saya di luar nanti."


Bara langsung melepaskan Nela! Sebuah senyuman pun terukir di bibirnya.


Bara langsung pergi karena sudah terlambat pergi ke kantor!


**********


Di kantor Bara.


Fasha sudah menunggu kedatangan Bara di kantornya, dia duduk di ruang tunggu dengan ditemani oleh Cindy.


"Maaf ya Pak Pasha, mungkin Pak Bara terjebak macet atau ada masalah lain yang membuat beliau telat datang," ucap Cindy.


Ya, hari ini memang Bara ada pertemuan penting dengan pihak perusahaan lain yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaannya tapi karena ada sedikit masalah, dirinya menjadi terlambat datang ke kantor.


Pikiran mesumnya tidak bisa dihindarkan meski Bara tahu bahwa hari ini ada pertemuan penting dengan Pasha.


"Iya, tidak apa-apa lagipula saya yang datang terlalu cepat," sahut Pasha.


Di lobby kantor.


Bara berjalan cepat bahkan sedikit berlari untuk sampai di tempat Pasha dan Cindy berada!


Dari luar dirinya sudah dapat melihat kalau Pasha dan Cindy sedang menunggunya di ruang tunggu.


"Selamat pagi Pak Pasha, maaf saya datang terlambat," ucap Bara.


Pasha langsung berdiri kala melihat Bara, lalu mereka berjabat tangan!


Pasha melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh menit, itu artinya tiga puluh menit lebih dirinya menunggu Bara di sana.


"Pak Bara, ada masalah apa sehingga Anda terlambat hampir satu jam?" ucap Pasha namun dengan sedikit tertawa.


Ia tak ingin membawa masalah sepele ini menjadi serius, akhirnya dirinya berucap dengan bahasa candaan.

__ADS_1


"Maaf-maaf Pak, saya janji hal seperti ini tidak akan terulang lagi."


"Tidak masalah Pak Bara, lagipula saya betah karena ditemani oleh sekretaris Anda yang ramah dan cantik ini." Pasha menatap Cindy sekilas lalu kembali fokus pada Bara.


"Anda bisa saja padahal dalam hati, Anda sedang menggerutu kesal."


Mereka bertiga tertawa kecil mendengar perkataan Cindy yang seratus persen benar.


**********


Didalam pesawat yang ditumpangi oleh Farel.


Farel duduk bersebelahan dengan Kinara dengan tangan yang terus saling menggenggam satu sama lain.


Farel memang sengaja mengajak Kinara pergi bersamanya, setelah kemarin ada sedikit masalah dalam hubungan mereka, kini Farel ingin memperbaiki hubungan itu dan membuktikan bahwa ia tidak menyimpan perasaan pada wanita lain selain dari Kinara.


"Jangan diamkan aku seperti kemarin lagi ya, kalau ada masalah atau ada yang mengganjal di hati kamu, baiknya kamu langsung bicarakan denganku," ucap Farel.


"Aku cemburu dan terbawa emosi. Aku cinta banget sama kamu eh malah ada perempuan lain yang mengaku sebagai pacar kamu. Perempuan mana yang tak marah dan cemburu coba?"


"Seharusnya kamu tanyakan pastinya dulu sama aku, jangan langsung marah. Aku hampir gila karena seharian gak mendengar suara kamu."


"Aaah, ini nih yang bikin aku gak bisa tanpa kamu. Kenapa sih kamu tuh gombal melulu?"


"Gak gombal, ini serius. Kalau gak, gak mungkin sekarang aku ajak kamu ke Bali."


"Ke Bali juga bukan untuk liburan, kamu mau kerja kan?"


"Iya tapi kan pastinya ada waktu luang untuk kita pacaran." Farel tersenyum sembari mengedipkan sebelah matanya pada Kinara.


Kinara membalas senyuman sang kekasih lalu menyandarkan kepalanya di bahu Farel.


"Aku tuh serius sama kamu, gak mungkin aku berpaling gitu aja sama yang lain." Farel mengecup pucuk kepala Kinara dengan begitu mesra.


"Aku harap kamu tidak mengingkari perkataan yang sudah kamu ucapkan barusan, bukan tidak mungkin keteguhan hati kamu bisa goyah karena adanya orang yang lebih segalanya dari aku. Mungkin sekarang aku masih muda, aku cantik dan alhamdulillah aku sehat dengan semua kelengkapan anggota badan yang membuatku terlihat sempurna tapi sering berjalannya waktu, seiring dengan kebersamaan kita, muda pasti tua yang cantik akan menjadi jelek karena mulai keriput dan yang penyabar dan tak pernah marah suatu saat akan menampakkan jati dirinya yang asli, lamanya kita bersama akan membuat kita semakin banyak mengetahui semua baik buruknya pasang kita."


"Cantik itu relatif. Kamu benar, cantik bisa berubah menjadi jelek karena bertambahnya usia yang muda juga bisa jadi menua tapi sikap dan sifat kamu yang akan membuat cintaku kuat. Aku yakin seyakin-yakinnya kalau kamu adalah pilihan yang tepat untuk menjadi cinta terakhirku."


"Amin, semoga Tuhan merestui cinta kita agar kita bisa menjalani hidup bersama dan menua bersama."

__ADS_1


Farel membelai pipi Kinara dengan lembut, dirinya hanya bisa melakukan itu untuk menyampaikan betapa sayangnya dirinya terhadap Kinara.


Bersambung


__ADS_2