
"Kinara kenapa ya, kok dia gak mau nerima telpon dari aku? Gak biasanya dia kayak gini," gumam Farel yang sedari tadi menelpon Kinara namun tak kunjung tersambung karena Kinara tidak menerima telponnya.
"Mas, ditunggu Ibu di meja makan," ucap Nela dari depan pintu kamar Farel.
"Oh ya, sebentar lagi," sahutnya.
Nela tak berucap lagi, dia lanjut ke kamar Bara!
"Mas Bara!" seru Nela sembari mengetuk pintu kamar Bara.
Tak ada jawaban, Nela terus memanggil Bara.
"Ada apa Nel? Tunggu sebentar." Bara berjalan menuju pintu kamarnya sembari menautkan kancing celananya!
"Ada apa?" tanyanya saat melihat Nela didepan pintu kamarnya.
"Makan malam sudah siap Ibu sudah menunggu di meja makan."
"Oh, iya." Bara langsung keluar dari kamarnya tak lupa ia menutup pintunya!
Nela berjalan menuruni satu persatu anak tangga tanpa dia sadari, Bara yang berjalan di belakangnya terus memperhatikan dirinya!
"Kalau diperhatikan, Nela memang lebih menggoda dari Sisca," batin Bara sembari terus fokus pada pinggul gadis berusia delapan belas tahun itu.
Di kamar Farel.
Pemuda itu sudah berdandan rapi dan sudah siap untuk pergi, dirinya akan pergi ke rumah Kinara untuk menemuinya dan berbicara padanya.
Ia pun segera keluar dari kamarnya dengan menggenggam kunci mobilnya!
"Kak, Mam, aku mau makan di luar. Kalian lanjutkan saja makannya," ucap Farel sebelum dirinya pergi dari rumah.
"Makan di luar? Kayaknya mendadak banget," ucap Luci.
"Iya sebenarnya ini juga tidak direncanakan, tiba-tiba aku ingin bertemu seseorang jadi sekalian aja aku ajak makan malam bareng."
"Pergi sana! Lagian jangan ngejomblo aja jadi cowok," sambung Bara.
Farel tersenyum lalu langsung pergi meninggalkan mereka!
Bara memang tidak mengetahui bahwa Farel sudah memiliki kekasih karena Farel tidak pernah menceritakan tentang hal pribadinya. Farel terbilang cukup tertutup dalam urusan pribadi apalagi soal hati dan cinta.
**********
Di depan jalan perumahan tempat Farel dan keluarganya tinggal.
Cindy duduk di bahu jalan sembari memegangi kakinya, dia nampak kesakitan, terlihat dengan jelas dari wajahnya kalau gadis itu sedang menahan sakit.
"Cindy? Kenapa dia duduk di sana?" ucap Farel yang melihat Cindy.
Farel pun memperlambat laju mobilnya lalu menepikan mobilnya tepat di dekat Cindy.
__ADS_1
Dia turun dari mobilnya dan langsung menghampiri Cindy!
"Kamu kenapa?" tanya Farel.
"Aduh Pak, kaki saya sakit banget. Tadi tiba-tiba ada motor yang menyerempet saya dari belakang," jelas Cindy.
"Astaga, sekarang mana orangnya?"
Farel berjongkok dan meneliti kaki Cindy yang sedari tadi dipeganginya itu.
"Orang kabur Pak, saya udah berteriak minta tolong tapi kayaknya gak ada yang mendengar suara saya."
"Ya udah, ayo saya bantu." Farel membantu Cindy untuk berdiri dan menawarkan diri untuk mengantar Cindy pulang.
"Aku harus ke rumah Kinara tapi aku gak mungkin membiarkan Cindy pulang sendiri biar bagaimana pun Cindy adalah karyawan di kantorku," ucap Farel didalam hatinya.
Cindy menatap Farel yang terlihat sedang memikirkan sesuatu, tanpa Farel sadari, Cindy tersenyum misterius ke arahnya.
"Rumah kamu di mana? Biar saya antar kamu pulang."
"Gak usah Pak, saya naik taksi aja."
"Gak apa-apa, saya saja yang mengantarkan kamu pulang. Saya gak mungkin membiarkan kamu pulang sendiri dalam keadaan seperti ini."
"Kenapa gak dari dulu aja aku pura-pura sakit biar dapat perhatian lebih dari Pak Farel," batin Cindy.
"Tapi Pak apa Gak merepotkan?"
Cindy tersenyum tipis, dalam hatinya ia merasa bahagia karena mendapatkan perhatian lebih dari orang kedua di perusahaan tempat dirinya bekerja.
*********
Di kediaman Kinara.
"Kinara, makan malam dulu," ucap Ibunya Kinara dari luar.
Kinara yang tengah terbaring dengan posisi tengkurap, mengangkat kepalanya menatap ke arah pintu kamarnya!
"Duluan saja Bu, aku nyusul," ucapnya dengan suara pelan.
"Jangan tidur dulu, makan dulu sebelum tidur."
"Iya Bu, aku tahu."
Kinara kembali menelusup kan kepalanya kebawah bantal, mencoba melupakan apa yang ia dengar tadi siang dari sekretarisnya Bara.
"Tega sekali kamu Rel, aku gak nyangka kamu sama seperti laki-laki lain yang sukanya menduakan cinta."
*********
Bara berdiri di belakang Nela yang sedang sibuk mencuci piring bekas mereka makan.
__ADS_1
"Sisca sudah pergi lagi ke luar negeri, untuk mengurangi kerinduan, aku bisa sama Nela. Selingkuh sama pembantu kayaknya seru," batin Bara.
Bara terus menatap Nela apalagi saat melihat pinggulnya membuatnya anteng dan tak ingin berpindah dari tempat itu.
Setelah beberapa lama, Nela sudah selesai dengan pekerjaannya di dapur kini dia hendak masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat namun dirinya dikejutkan oleh Bara yang ternyata berada di dapur.
"Mas Bara, Mas lagi ngapain di sini?" tanya Nela.
"Eh, emmm anu ... aku lagi mencari sesuatu. Aku ke sini mau minta tolong sama kamu."
"Oh, emang apa yang lagi dicari?"
"Baju tidur saya yang warna biru dimana ya?"
"Biru yang mana?"
"Yang gambarnya menara Eiffel itu."
"Oh, sebentar ya saya carikan."
Bara tersenyum tipis dan membiarkan Nela pergi dari hadapannya.
"Sebenarnya aku suka sama Nela atau sekedar hanya ingin menikmatinya saja? Aku baru saja bersama dengan Sisca tapi tetap saja aku merasa seperti ini saat melihat Nela," ucap Bara didalam hatinya.
Bara terus menatap Nela yang sedang berjalan ke kamar khusus tempat menyetrika, merasa tidak puas melihat dari jauh, ia pun mendekati ruangan itu namun tak sampai masuk ke dalam kamar itu karena takut menyebabkan Nela ketakutan padanya!
**********
Setelah sepuluh menit berkendara akhirnya mobil Farel tiba di depan rumah Cindy.
Ia langsung memarkirkan mobilnya namun tidak turun karena ia akan langsung pergi ke rumah Kinara.
"Pak, terimakasih ya sudah mengantarkan saya pulang," ucapan Cindy.
"Iya sama-sama. Saya langsung balik ya."
"Gak mau mampir dulu Pak?"
"Tidak usah, takut keburu malam. Saya ada pertemuan penting."
Cindy tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.
"Permisi, Cindy. Istirahat dengan baik ya biar besok kamu bisa masuk kerja."
Farel langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang!
Cindy tetap berdiri ditempat semula sambil terus menatap mobil yang dikendarai oleh Farel, sebuah senyuman bahagia terus terukir di bibirnya kala mengingat perhatian Farel yang begitu istimewa baginya.
"Masa bodo yang aku lakukan ini adalah sebuah kebohongan, yang penting aku bisa bersama Pak Farel," batin Cindy.
Gadis itu rupanya mulai berani melakukan segala cara untuk mendapatkan hati Farel yang sedari dulu ia sukai namun tak berani mengungkapkan perasaannya itu.
__ADS_1
Bersambung