AKU DAN ANAK MAJIKANKU

AKU DAN ANAK MAJIKANKU
bab 39


__ADS_3

Di rumah Nela.


"Mbak maaf ya, mungkin saya sudah membuat hubungan Mbak Kinara dengan Mas Farel jadi bermasalah tapi sedikitpun saya tidak ada niatan untuk itu," ucap Nela pada Kinara.


Mengetahui Farel berantem dengan Kinara membuat Nela merasa tak enak hati pada Kinara.


"Gak apa, Mbak. Sekarang semuanya sudah jelas, saya percaya bahwa kalian memang tak memiliki hubungan apapun. Saya malu karena terburu-buru mengambil keputusan sekarang saya tahu kalau laki-laki yang akan menikahi saya adalah laki-laki baik dan bertanggungjawab. Saya harus bersyukur karena dapat dipertemukan dan dijodohkan dengan Farel," ucap Kinara.


Nela tersenyum dengan tangannya yang asyik mengelus pucuk kepala Bagas.


"Maaf Mbak, kalau boleh tahu apa benar anak ini adalah anaknya kak Bara? Jujur saya masih tidak percaya dengan ini semua karena yang saya tahu keluarga mereka adalah keluarga baik-baik. Maaf ya Mbak, bukannya saya menilai Mbak yang gak baik, saya hanya ingin memastikannya saja," ucap Kinara dengan penuh kehati-hatian.


"Anak ini memang anaknya Mas Bara. Saya sudah melakukan tes DNA dan hasilnya cocok dengan Mas Bara tapi Mas Bara tetap tak ingin mengakui anak ini. Untuk lebih jelasnya tanyakan saja pada Mas Farel, Mas Farel tahi semuanya karena dari awal saya diusir dari rumahnya mereka, Mas Farel lah yang selalu ada untuk saya dan anak saya," jelas Nela.


**********


Di kediaman Luci.


"Aku mau kamu minta maaf sama perempuan itu atau jika mungkin, nikahi dia juga, Mas," ucap Sisca dengan suaranya yang bergetar.


Bara terkejut mendengar perkataan Sisca barusan, dia menatap Sisca dengan tatapan tak percaya.

__ADS_1


"Jangan bercanda, Sisca. Aku tidak mungkin menghadirkan wanita lain sementara sudah ada kamu di sini," ucap Bara.


"Kenapa tidak bisa? Dulu kamu bisa melakukan perbuatan menjijikkan itu sampai dia hamil bahkan kamu melakukan itu sebelum melakukannya bersamaku." Sisca terus menangis, sebenarnya dirinya merasa sesak tapi ia sendiri tak bisa berbuat apa-apa.


Nela sudah memiliki anak hasil hubungan mereka, tak mungkin dirinya membiarkan anak kandung suaminya itu hidup terlunta-lunta dengan tanpa sosok seorang Ayah di sampingnya.


"Sisca, aku cinta sama kamu, aku gak mungkin menikahi Nela. Oke aku memang salah, dulu aku memang seorang brengsek tapi sebrengsek-brengseknya aku, aku hanya melakukan itu dengan Nela saja. Sekarang aku sudah berubah, aku hanya menyimpan kamu saja dalam hati ini," ucap Bara.


"Anak itu anak kamu, Mas. Tega ya kamu membiarkan dia terlahir tanpa seorang Ayah."


"Maafkan aku, aku khilaf."


*******


Waktu menunjukan pukul dia puluh lewat lima menit. Di rumah Nela masih ada Kinara dan Farel, di sana juga ada Fasha yang menemani mereka mengobrol.


"Kita makan malam bersama di luar aja malam ini, kamu pasti belum makan," ucap Fasha pada Nela.


"Pak Farel, gimana kalau kita makan malam bersama di restoran? Kebetulan di depan komplek ini ada restoran," ucap Fasha pada Farel.


"Boleh, saya setuju," ucap Farel.

__ADS_1


"Gimana dengan para wanita-wanita ini, kalian mau makan bareng kita?" tanya Fasha pada Kinara dan Nela.


"Untuk menjalin hubungan yang baik antara aku dan kita semua, aku mau. Anggap aja ini untuk merayakan perkenalan kita," ucap Kinara.


Gadis itu tersenyum ramah pada Nela dan Nela pun membalas senyuman Kinara.


"Ya Allah, semoga ini awal dari kebahagiaanku," batin Nela.


"Betul itu, kita juga bisa merayakan keseriusan hubungan kita. Mereka harus tahu kalau sebentar lagi kita akan menikah," ucap Fasha pada Nela.


"Kalian mau menikah? Kapan?" tanya Farel dengan raut wajahnya yang dipenuhi dengan kegembiraan.


"Kak Fasha, kamu gak bisa jaga rahasia banget," ucap Nela.


"Hal yang baik tidak perlu dirahasiakan," ucap Fasha.


"Wah, selamat ya Mbak, Mas," ucap Kinara.


Mereka semua pun pergi dari rumah Nela untuk makan bersama di restoran terdekat.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2