
Setibanya di tempat mereka akan bertemu, Farel langsung berlari memasuki kafe itu!
Ia mencari-cari Kinara ke setiap sudut ruangan dan akhirnya dirinya menemukan Kinara yang duduk duduk di kursi yang terdapat di dekat kaca jendela. Kinara terlihat kesal, mungkin karena terlalu lama menunggu.
Dengan segera, Farel menghampiri Kinara!
"Sayang, maaf tadi aku ada urusan jadinya aku telat datang," jelas Farel pada Kinara yang tengah cemberut.
"Urusan apa sampai kamu lupa sama aku? Bilangnya aja aku yang utama tapi ada urusan lain kamu lupa sama aku."
"Maaf, jangan marah ya. Apa yang bisa aku lakukan biar kamu gak marah?"
Kinara mengerucutkan bibirnya ke depan lalu membelakangi Farel!
"Kinara ayolah, maafkan aku. Apa perlu aku mencium kaki kamu biar kamu memaafkan aku."
Kinara tetap terdiam meski Farel sudah memohon padanya. Farel pun memutar tubuh Kinara agar menghadap padanya!
"Apa aku harus mencium bibir manyun kamu yang menggemaskan itu hemm? Kayaknya aku gak tahan menunggu sampai kita menikah kalau kamu seperti ini. Bibir kamu itu kok kaya menggoda imanku banget," ucap Farel.
"Iiih kamu apaan sih!" Kinara mencubit perut Farel dengan sedikit keras hingga pemuda itu kesakitan.
"Aduh sakit, sakit," ucap Farel sembari terus menghindar.
__ADS_1
"Makanya kalau ngomong jangan sembarangan." Kinara mulai tertawa melihat Farel yang kesakitan.
"Abisnya kamu bikin aku gemes."
"Udah ah, aku lagi marah nih sama kamu."
"Jangan marah dong sayang. Kan aku udah minta maaf."
"Iya-iya aku gak marah lagi tapi kamu harus ...." Kinara menggantung ucapannya.
"Harus apa? Apapun akan aku lakukan untuk kamu."
"Cepat nikahi aku kalau perlu besok sekalian kamu halalin aku."
"Besok? Kamu kayak udah hamil aja ngebet banget minta nikah besok."
**********
"Mam, aku balik kantor dulu deh sekalian mau ketemu Sisca sebentar," ucap Bara setelah mengurus beberapa urusan di rumahnya yang bersangkutan dengan pernikahannya.
"Biarkan Farel dulu yang ngurus kantor lagipula dia kan pasti mengerti kalau kamu lagi sibuk ngurus pernikahan kamu."
"Emang mau apa lagi? Semua sudah beres, aku kangen sama Cindy, Mam."
__ADS_1
Luci melotot ke arah Bara lalu sedetik kemudian sebuah majalah terbang melayang ke arahnya.
Ya, karena merasa kesal. Luci melempar majalah yang ada di atas meja pada Bara yang berdiri tak jauh darinya.
"Aduh, Mama kenapa tiba-tiba ngambek gitu?" Bara memungut majalah itu lalu memegangi majalah itu.
"Lagian, tiga hari lagi hari pernikahan kamu, kamu malah kangen sama sekretaris kamu."
"Aku bercanda Ma, gak mungkin juga aku kangen beneran sama Cindy."
"Bercandanya jangan keterlaluan ah. Kalau Sisca tahu bisa repot kamu."
"Iya-iya, nanti nggak lagi deh."
**********
"Mbak Nela, tadi itu suaminya Mbak ya? Kok dia malah pergi lagi?" ucap tetangga Nela yang lain lagi.
"Dia masih harus kerja Mbak, lagian kalau kerjanya jadi supir pribadi kan gak bisa pulang setiap saat."
"Katanya suami Mbak Nela kerja di luar kota, kok sekarang kerja di sini jadi sopir pribadi?"
"Mbak, bisa aja kan suaminya Mbak Nela ada di sini karena majikannya pindah ke sini juga. Saya tadi sudah ngobrol sama suaminya Mbak Nela. Dia laki-laki yang baik," ucap tetangga Nela yang tadi sempat mengobrol dengan Farel.
__ADS_1
Saat tetangga Nela terus berbicara, Nela hanya diam tanpa kata. Dirinya tak tahu harus berkata apa karena tak sedikitpun berniat untuk berbohong pada mereka tentang siapa Farel yang sebenarnya.
Bersambung