
Siang itu, Nela masih melakukan aktivitasnya seperti biasa, ia masih menjajakan kue buatannya dengan berkeliling menghampiri pembelinya.
Tanpa sengaja dirinya melihat Bara sedang berjalan sambil bermesraan bersama seorang perempuan.
"Mungkin itu calon istrinya Mas Bara," pikir Nela.
Nela langsung bersembunyi karena tak ingin Bara sampai melihatnya. Bukan apa-apa, terakhir mereka bertemu, Bara sempat mengancamnya. Jika dirinya tidak pergi jauh dari kehidupan Bara maka Bara akan membuatnya tersiksa bahkan dia tak segan untuk melenyapkan bayinya.
Nela tak ingin Bara melakukan apa yang diucapkannya, biar bagaimana pun anak yang berada dalam kandungannya tidaklah bersalah.
"Sayang, besok kita menikah tapi rasanya aku begitu lama menunggu akan hari pernikahan kita," ucap Sisca.
"Bukan besok tapi besoknya lagi sayang," sahut Bara.
"Iya, perasaan lama banget ya. Untuk melewati satu hari saja rasanya udah kayak satu minggu bahkan aku rasa satu hari jadi satu bulan."
"Sebentar lagi sayang, cuma dua hari lagi, aku juga gak sabar pengen cepat-cepat menikah dengan kamu."
Sisca terus nempel pada Bara, tangannya terus menggandeng tangan Bara dan sesekali ia menyandarkan kepalanya di dada Bara.
Karena sudah mau menikah, mereka sudah tak malu lagi mengumbar kemesraan di depan umum.
__ADS_1
Nela yang kala itu bersembunyi di balik mobil mewah yang entah milik siapa, hanya bisa terdiam dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
Dia mengusap perutnya beberapa kali.
"Semoga kelak Ayahmu akan menerima kehadiran kamu Nak," ucap Nela sambil terus mengusap perutnya.
"Maafkan Ibu karena tidak bisa membuat kamu merasakan hangatnya belaian Ayahmu."
Setelah Bara dan Sisca benar-benar pergi, Nela baru keluar dari tempat persembunyiannya dan mulai kembali berjualan karena kuenya masih belum habis!.
"Kue-kue! Kuenya Mbak." Mawar terus berteriak agar orang-orang disekitarnya tahu bahwa dirinya berjualan kue.
"Maaf Mbak, lain kali aja," ucap orang yang lewat yang kebetulan ditawari untuk membeli kuenya.
**********
"Kebetulan rumah saya ini gak gede Mas, nanti kita lihat sama-sama."
Farel dan Bapak pemilik rumah itu berjalan kaki untuk sampai di rumah yang mereka maksud.
"Pak, maaf kenapa Bapak mau jual rumahnya?"
__ADS_1
"Saya sudah lama tinggal sama anak saya Mas jadi rumah saya ini kosong, sayang kalau kosong lama-lama bisa rusak karena dijadikan sarang hewan."
"Udah berapa lama kosong?"
"Lumayan lama tapi Mas tenang aja karena rumahnya masih terawat kok. Biasanya saya setiap hari datang untuk menyapu semua ruangan tapi karena saya sakit, sudah satu minggu ini tidak ada orang yang masuk."
Untuk menepati janjinya pada Nela, Farel rela berkeliling mencari rumah yang layak untuk dihuni namun dengan harga yang terjangkau.
Dirinya tak mengatakan tentang ini pada Luci ataupun Bara. Ia akan mengungkap kebenaran itu sendirian, jika memang terbukti anak yang dikandung oleh Nela adalah anaknya Bara, baru ia akan bicara pada Bara dan Luci.
Meski pernikahan antara Bara dan Sisca sudah didepan mata tapi sedikitpun Farel tak berniat untuk menghentikan pencariannya dan pembuktian tentang semua yang dikatakan oleh Nela.
**********
Di kantor.
"Karena Pak Bara mau nikah, aku jadi sibuk sendirian. Pak Farel mana lagi? Kenapa dia belum kembali juga padahal kalau ngeliat dia, aku jadi semangat," batin Cindy.
Sejak pernikahannya sudah direncanakan dan sudah ditetapkan, Bara memang sering keluar saat jam kerja alasannya karena ingin mengurus persiapan pernikahannya.
Biasanya Farel yang selalu ada di kantor namun karena ada meeting di luar, jadinya Farel harus pergi. Setelah meeting selesai, Farel langsung mencari rumah untuk ditempati oleh Nela dan bayinya.
__ADS_1
"Pak Farel lama banget sih padahal biasanya meeting nya gak sampai berjam-jam," gumam Cindy.
Bersambung