
"Assalamu'alaikum," ucap Nicole dan Jeremy secara bersamaan.
Mereka baru tiba di rumah kedua orang tuanya Bara.
"Waalaikumsalam," ucap Luci sembari membuka pintu rumahnya.
"Pak, Bu. Mari masuk," ucap Luci pada kedua orang tuanya Sisca.
"Maaf Bu, kami datang dan mungkin mengganggu istirahat Anda," ucap Nicole.
"Tidak, Bu. Masih sore kok ini."
Mereka pun duduk di kursi ruang tamu sedangkan Luci pergi untuk memanggil Sisca di kamarnya!
"Pa, Papa yakin untuk ini?" ucap Nicole yang sudah merasa khawatir.
"Mama jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja," ucap Jeremy.
"Mama, Papa." Sisca segera berjalan menghampiri kedua orang tuanya! Dia langsung mencium punggung tangan keduanya secara bergantian.
"Suamimu belum pulang?" tanya Jeremy.
"Udah Pa, aku di sini," ucap Bara sembari terus melangkah menghampiri mereka.
Bara pun langsung menyalami kedua mertuanya itu dan setelah itu ia duduk di samping Sisca.
"Minumnya sudah tiba," ucap Luci yang datang dengan membawa minum untuk tamunya.
"Mama, kenapa harus repot-repot, aku bisa membuat minum untuk Mama, Papa, aku," ucap Sisca.
"Gak apa-apa sayang. Mama senang kok melakukan ini," ucap Luci.
"Kami datang untuk membicarakan sesuatu hal yang penting," ucap Jeremy.
Sisca menatap Papanya, dia sedikit menggelengkan kepalanya melarang Papanya untuk berbicara jujur.
Nicole meraih jemari sang putri lalu menggenggamnya. Ditatapnya wajah Sisca yang terlihat sudah pucat karena kekhawatiran yang begitu besar.
"Bara, sepertinya ada sesuatu yang perlu kamu ketahui," ucap Nicole.
__ADS_1
"Sepertinya ini permasalahan keluarga, saya permisi." Luci bangkit dari duduknya dan hendak pergi.
"Tidak usah Bu, Anda juga harus tahu ini," ucap Jeremy.
Luci kembali duduk di tempatnya dan kembali menyimak pembicaraan mereka.
"Sebenarnya, Sisca tidak akan pernah bisa hamil," ucap Jeremy.
Bara dan Luci terkejut. Mereka menatap Jeremy dengan tatapan tak percaya.
"Tidak bisa hamil?" ucap Bara.
Saat itu Sisca hanya menundukkan kepalanya dengan air matanya yang sudah mengalir deras, ia takut menerima kenyataan pahit setelah Bara mengetahui semuanya.
"Sebenarnya kecelakaan waktu itu membuat Sisca kehilangan ovariumnya. Dokter melakukan operasi pengangkatan ovarium demi menyelamatkan nyawa Sisca. Ini salah saya karena tak langsung memberitahu kalian, saya pikir Sisca sudah memberitahu kalian tentang ini sedari dulu," ucap Jeremy.
"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku, Ma. Aku takut kalian tidak akan menerima aku kalau tahu aku tidak bisa memberikan Mas Bara anak," ucap Sisca yang sudah berurai air mata.
"Nak, tolong maafkan Sisca. Dia begitu mencintai kamu sehingga dia tak berani mengatakan ini karena takut kamu meninggalkannya," ucap Nicole.
Luci hanya diam karena tak tahu apa yang harus ia katakan.
"Kenapa kamu gak bilang ini dari dulu. Kalau aku tahu apa yang sebenarnya terjadi, mungkin aku tidak akan memaksa dan terus menuntutmu untuk hamil. Maafkan aku, mungkin selama ini aku sudah sangat menyakiti hati kamu," ucap Bara sembari menatap Sisca.
"Mas, aku takut. Aku takut kamu akan meninggalkan aku kalau tahu aku tidak bisa hamil," ucap Sisca.
"Aku tidak menyangka ternyata kamu berpikir buruk seperti itu padaku. Aku tulus mencintai kamu, aku gak akan mungkin meninggalkan kamu," ucap Bara.
"Alhamdulilah, berarti sekarang kamu tidak boleh lagi meminta Sisca untuk melakukan terapi agar bisa cepat hamil. Mama yakin, Allah akan memberikan kalian anak meski dengan cara yang tidak mungkin," ucap Luci.
"Maafkan aku ya. Aku tidak tahu kalau kejadiannya seperti ini," ucap Bara.
**********
Di salah satu butik tempat, Farel dan Kinara mempercayakan untuk membuat gaun pernikahan mereka.
Seorang disainer sedang mengukur tubuh Kinara agar gaun pengantin yang dibuatnya pas di badan gadis itu.
Sementara itu, sambil menunggu Kinara, Farel duduk di sebuah kursi yang disediakan khusus untuk pengunjung.
__ADS_1
Dia memainkan ponselnya untuk menghilangkan rasa jenuhnya.
"Bagas udah sembuh belum ya? Aku khawatir sama dia, bagaimana kalau anak itu terus rewel. Kasihan Nela, dia pasti kewalahan menenangkan Bagas. Kalau saja Kak Bara tidak sejahat itu, mungkin kejadiannya tidak akan seprti ini," batin Farel.
Entah kenapa, tiba-tiba Farel teringat pada Bagas yang kini tengah demam. Karena dia tidak memiliki seseorang yang bisa dipanggilnya Papa, Farel selalu merasa khawatir pada anak itu terlebih ia tahu bahwa dia adalah anak dari kakaknya, sudah kewajibannya untuk melindungi dia dan bertanggungjawab atas semua kebutuhannya.
"Gak mungkin aku telpon Nela sekarang, yang ada nanti Kinara malah cemburu dan curiga kalau aku selingkuh," ucapnya masih dalam hatinya.
"Mas Farel!" seru Kinara.
Suara Kinara yang memanggilnya membuat lamunannya buyar. Ia pun segera merespon Kinara.
"Ya, sudah selesai?" tanyanya.
"Belum, kamu pilih dulu mau model yang seperti apa," ucap Kinara.
Farel pun segera menghampiri Kinara yang tengah berdiri didepan sebuah meja!
"Aku terserah kamu aja. Menurut kamu bagus, pasti menurutku juga bagus," ucap Farel.
"Ini, saya sudah buatkan beberapa gambar. Mungkin ada yang cocok kalau tidak, saya masih ada beberapa model yang belum sempat saya selesaikan," ucap disainer itu sembari memperlihatkan beberapa gambar.
Farel dan Kinara pun mulai melihat dan memilih yang mana yang mereka sukai.
**********
"Nel, kamu gak berpikir untuk mencari pengganti Ayahnya, Bagas?" tanya Fasha.
Setahu Fasha, Ayahnya Bagas pergi merantau dan sampai saat ini belum pulang dan juga tidak pernah memberi kabar.
Nela mengaku dirinya adalah seorang janda yang dicerai hanya lewat pesan singkat saja.
"Aku belum memikirkan hal itu. Aku takut kejadian menyakitkan ini akan terulang lagi. Saat ini aku ingin fokus pada Bagas dulu," sahut Nela.
"Kamu tahu, aku tidak akan menyakiti kamu dan seharusnya kamu tahu kalau dari dulu aku sangat mengharapkan kamu. Apa gak kamu coba untuk membuka hatimu untukku? Kita buka lembaran baru dalam hidup kita. Jujur, sampai saat ini aku belum menemukan perempuan yang cocok selain dirimu. Aku masih mengharapkan kamu."
"Kak, aku sudah bukan lagi Nela yang dulu. Kamu gak lihat? Aku sudah punya anak, itu artinya aku sudah bukan gadis lagi."
"Aku tahu tapi rasa cinta ini masih sama seperti yang dulu. Meski aku bukan yang pertama yang menikahimu, aku akan terima, aku tulus sama kamu Nel," ucap Fasha.
__ADS_1
Bersambung