
Pagi hari sekitar pukul sembilan, Bara dan Sisca sudah berada di depan rumah Nela.
Sebelum mengetuk pintu itu, Bara menatap Sisca seolah bertanya apakah mereka yakin ingin menemui orang yang telah disakitinya dahulu.
Sisca tersenyum tipis lalu mengusap punggung Bara dengan lembut.
"Ayo, Mas," ucap Sisca.
"Aku takut dia tidak mau memaafkan aku," ucap Bara.
"Dia pasti memaafkan kamu, Mas. Jangan berpikir buruk dulu, cobalah berpikir positif dulu," ucap Sisca.
Dengan tangannya, Bara mengeruk pintu itu, terlihat di wajahnya ada keraguan dan juga rasa malu yang begitu besar.
Setelah beberapa kali mengetuk pintu akhirnya pintu itu pun terbuka dan menampakkan sosok Nela yang sedang menggendong putranya.
"Mas Bara," gumam Nela.
Seketika Nela langsung ketakutan, wanita itupun langsung menutup kembali pintunya namun sebelum Nela berhasil menutup pintunya, Bara sudah lebih dahulu berlutut di kakinya sambil memohon padanya.
"Maafkan aku, Nel. Aku mohon maafkan aku," ucap Bara sambil menangis.
Dalam posisi berlutut di kaki Nela, Bara meminta maaf pada perempuan yang pernah ia campakkan itu. Betapa ia menyesali semua perbuatannya pada Nela.
__ADS_1
Sementara itu Sisca hanya berdiri di samping Nela dengan air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya.
Sebagai seorang perempuan ia turut merasakan sakit dan penderitaan yang dialami oleh Nela, betapa tidak menderita, digauli oleh seorang laki-laki hingga dirinya hamil dan harus hidup tanpa keluarga dalam keadaan hamil sementara laki-laki yang menghamilinya malah pergi membuangnya begitu saja dan menikah dengan perempuan lain.
Nela menangis deras dengan tangannya yang memeluk Bagas dengan begitu erat. Perkataan Bara yang selama ini ditunggunya, kini diucapkan oleh Bara bahkan laki-laki itu sampai berlutut padanya.
"Mbak, kami datang untuk meminta maaf pada Mbak dan juga anak Mbak, saya benar-benar tidak tahu kalau suami saya pernah melakukan kesalahan sebesar ini pada, Mbak. Saya mohon maafkan suami saya, saya datang untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan suami saya pada, Mbak," ucap Sisca.
Nela masih terdiam, dirinya tak percaya Bara datang bersama istrinya dan meminta maaf padanya.
Bara berdiri lalu meraih sebelah tangan Nela!
"Maafkan aku, aku akan menikahi kamu dan aku ingin merasawat anak kita dengan baik. Kita bangun keluarga bahagia mulai saat ini," ucap Bara.
"Jangan, aku mohon jangan Nela. Aku sudah mendapat hukuman atas perbuatanku tolong jangan hukum aku lagi, izinkan aku menebus semua kesalahan aku padamu," ucap Bara.
"Mbak, saya mohon maafkan, Mas Bara. Saya tahu ini terlalu menyakitkan tapi saya tidak ingin hidup dibayang-bayangi oleh dosa masa lalu yang suami saya lakukan. Menikahlah dengan suami saya dan hiduplah bersama kami, saya akan mengalah untuk Mbak, saya yakin Mas Bara bisa bersikap adil pada kita," ucap Sisca.
"Keputusan saya sudah bulat. Saya sudah memaafkan Mas Bara tapi saya tidak dapat memenuhi permintaan kalian," ucap Nela.
Dari jalan depan rumah Nela, mobil Farel berhenti tepat di depan rumah Nela, tak lama Farel dan Luci pun keluar dari mobil itu.
"Bara, Sisca sedang apa mereka di sana?" gumam Luci.
__ADS_1
"Ma, jangan-jangan kak Bara datang untuk mengancam Nela," ucap Farel.
Seketika prasangka buruk langsung muncul dalam benak Farel, bukan tanpa alasan dia berpikir seperti itu karena sebelumnya Bara pernah mengancam Nela sebanyak beberapa kali.
Luci dan Farel pun segera bergegas menghampiri mereka dan langkah mereka langsung terhenti saat melihat mereka sedang menangis.
"Farel, ada apa ini?" ucap Luci.
"Nela," gumam Farel saat tahu wanita itu sedang menangis.
Farel pun segera menghampiri mereka!
"Izinkan aku untuk memeluk anakku, aku mohon Nela. Aku tahu aku sudah terlalu menyakitimu tapi aku tetaplah Ayah kandungnya, aku berhak atas dirinya," ucap Bara.
Bukannya memberikannya Bagas pada Bara, Nela malah mengeratkan pelukannya pada sang putra.
Sementara itu, Sisca hanya menangis sambil menatap Nela dan Bara.
Luci langsung memeluk Nela dengan berurai air mata! "Maafkan saya, saya sudah memperlakukan kamu dengan tidak baik, maafkan Mama," ucapnya sembari memeluk Nela dari samping kiri.
"Ayo masuk, gak baik bicara di depan pintu," ucap Farel.
"Jangan takut, Kak Bara tidak akan melakukan apapun selama ada saya di sini," sambung Farel.
__ADS_1
Bersambung