
Malam hari dikediaman Luci.
"Nela!" teriak Bara pada Nela yang sudah masuk ke dalam kamarnya.
Nela yang sudah mengunci pintu kamarnya dengan rapat, terpaksa harus keluar dari kamarnya karena Bara memanggilnya!
"Iya Mas, ada apa?" tanya Nela sembari berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Bara yang sedang menonton televisi!
"Boleh minta tolong?"
"Iya Mas, mau minta tolong apa?"
"Badan saya sakit semua, tolong pijat pundak saya dong." Bara menaik turunkan kedua belah pundaknya sembari memijat nya dengan tangannya.
"Tapi Mas, bukannya Mas mau tidur di hotel ya malam ini?"
"Saya gak enak badan, Nel. Kalau saya tidur di hotel nanti gak ada yang mengetahui kalau saya kenapa-kenapa, kalau di sini kan ada kamu."
"Ih gitu kalau gitu saya buatkan teh hangat dulu ya."
"Terimakasih ya."
Nela tak menyahut, dia langsung pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat!
Tak butuh waktu lama, hanya lima menit, Nela sudah kembali dengan membawa secangkir teh tawar hangat!
"Langsung pijat saja Nel, saya capek."
Nela pun menuruti permintaan Bara, ia langsung menyentuh kedua belah pundak Bara dan mulai menekan-nekannya dengan tangannya!
"Aaah, Nel, enak sekali. Agak kencengan dikit," ucap Bara.
Nela menambah tenaganya untuk lebih keras lagi memijat majikannya itu.
"Tekan yang keras Nel, aaah."
Sesaat Nela merasa Bara sedang men****h nikmat tapi ia mencoba berpikir jernih. Mungkin karena terlalu sibuk bekerja, Bara menjadi tidak sempat untuk memberikan waktu istirahat pada tubuhnya jadinya saat dipijat olehnya, majikannya itu merasa lebih enak dan otot tubuhnya menjadi rileks.
**********
Di sebuah taman yang terdapat disekitar hotel tempat mereka menginap.
Farel dan Kinara sedang duduk bersebelahan di atas rerumputan yang tumbuh dengan subur di atas tanah yang mereka pijak.
Mereka memandangi indahnya langit malam yang dihiasi oleh rembulan yang bersinar terang dan dengan ditaburi bintang-bintang yang berkerlipan di sekeliling bulan itu.
"Malam ini indah, seindah hati aku saat bersamamu," ucap Farel tanpa memalingkan pandangannya dari sang rembulan.
"Oh ya?"
"Iya, aku gak bohong."
"Bagiku malam ini tidak begitu indah," ucap Kinara.
"Kenapa?" Farel menatap Kinara.
"Karena gak ada makanan atau minum, aku haus dan juga pengen ngemil."
__ADS_1
Farel tersenyum lalu mencubit hidung Kinara.
"Emmm, rupanya ada yang kehausan," ucapnya tanpa melepaskan tangannya dari hidung Kinara.
"Aaaaa, sakit." Kinara melepaskan tangan nakal Farel.
"Kebiasaan deh, hidung aku udah mancung gak usah dijepit gitu," sambung Kinara dengan manja.
"Abisnya aku gemes sama kamu. Orang lagi ngajak romantis-romantisan, kamu malah minta makan."
"Nanti kalau aku kelaparan dan kehausan terus pingsan, kan kamu juga yang repot."
"Ya udah, ya udah aku carikan kamu camilan deh." Farel beranjak dari duduknya dan bersiap untuk melangkah!
"Ikut."
"Kamu mau ikut? Ya udah ayo tapi jangan minta gendong ya karena kamu tuh berat."
"Masa sih? Perasaan aku gak gendut deh," ucap Kinara sembari meneliti tubuhnya.
"Kamu tuh jangan bikin aku gemes mulu. Udah ayo kita jalan cari jajanan."
*********
Setelah hampir setengah jam Nela memijat Bara, perlahan tapi pasti, Bara mulai menyentuh tangan Nela!
Nela menarik tangannya dan langsung bergeser untuk memberi jarak antara dirinya dengan Bara!
"Kenapa Nela? Kamu gak suka itu?" tanya Bara.
"Maaf Mas, kayaknya Mas udah gak terlalu pegal, saya istirahat duluan ya."
"Maaf Mas tapi saya sudah mengantuk." Nela yang sudah berdiri pun hendak melangkahkan kakinya namun Bara menarik tangannya hingga dirinya terjatuh kepangkuan Bara.
Untuk sesaat mereka berdua saling bertatapan hingga Bara yang terus mendekat pada wajahnya, Nela pun segera memalingkan wajahnya namun tak beranjak dari tempatnya karena Bara meneranginya dengan erat.
"Mas."
Bara tak mengatakan sesuatu apapun lagi, tangannya asyik bermain di gunung kembar milik Nela yang terasa kenyal karena belum pernah ada yang menyentuhnya selain sang empunya.
"Tenang Nel, nanti juga kamu ketagihan. Ini akan terasa sangat nikmat," bisik Bara ditelinga Nela.
"Mas, tolong jangan." Nela mencoba melakukan segala cara agar dapat terlepas dari Bara namun, apa yang bisa ia lakukan?
Tenaga Bara lebih kuat darinya hingga dirinya tak bisa terlepas dan lari dari sana.
**********
Di kampung.
Prang!
Tiba-tiba saat Nana melewati meja, tanpa sengaja menabrak sebuah gelas yang terletak di atas meja sampai terjatuh dan pecah berkeping-keping.
Suara pecahan itu membuat Ardi yang sedang berada di depan rumah terkejut sampai dia segera berlari ke dalam rumah untuk melihat apa yang sedang terjadi!
"Astaghfirullah," ucap Nana sembari menatap gelas yang sudah hancur berserakan di lantai.
__ADS_1
"Ada apa Bu?" tanya Ardi sabil berjalan cepat menghampiri Nana.
"Gak sengaja, Ibu menjatuhkan gelas Pak," ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar.
Ardi berjalan lalu mengarahkan istrinya untuk duduk di kursi!
"Lain kali hati-hati Bu. Mungkin Ibu kecapekan, Ibu duduk saja dulu biar Bapak yang membereskan ini semua."
"Perasaan Ibu jadi gak enak Pak, Ibu teringat dengan Nela."
"Itu hanya perasaan Ibu saja."
"Semoga Nela baik-baik saja ya Pak." Dalam hati Nana, ia merasa saat ini sedang terjadi sesuatu pada Nela namun, dirinya sendiri tidak tahu apa yang sedang dialami oleh putrinya itu.
Perasaan terasa tidak tebang seolah ada yang mengganggu ketenangan jiwanya dan mengatakan bahwa saat ini sedang ada bencana besar.
"Kita do'akan saja semoga Nela baik-baik saja Bu. Sekarang sudah malam mungkin dia sudah tidur. Besok pagi kita telpon Nela ya."
"Iya Pak. Maaf ya Pak, Ibu sudah merepotkan Bapak."
"Tidak apa-apa Bu. Ibu istirahat saja duluan ya nanti Bapak menyusul."
**********
Bara mel***t habis bibir Nela dengan begitu kasarnya, ia sangat menikmati perc*****n yang hanya dilakukan oleh sebelah pihak karena pihak lawan sama sekali tak menanggapi setiap gerakan yang diberikan oleh Bara.
Nela menangis menerima semua perlakuan dari Bara, hatinya tak menerima dirinya diperlakukan dengan dengan tidak baik oleh anak majikannya itu.
Meski begitu, tubuh Nela mulai menikmati sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh Bara, hatinya menolak tapi tidak bisa dipungkiri tubuhnya menerima dan mulai menikmatinya.
"Mas, udah. Saya mohon."
Suara Nela yang terdengar sedikit men****h membuat Bara semakin semangat dan enggan menghentikan aksinya.
Tangan laki-laki itu terus menyusuri setiap tempat yang terdapat ditubuh Nela.
Saat ini mereka sudah setengah bu**l. Nela sudah tak mengenakan baju bahkan bra yang dipakainya pun sudah tidak berada pada tempatnya.
"Kamu pasti menikmati semua ini? Bukankah ini terasa begitu menyenangkan?"
Bara menghentikan pergerakan tangannya, ia menatap Nela yang sedari tadi menutup matanya.
Perlahan Nela membuka matanya dan langsung melihat tubuh Bara yang tak mengenakan baju, dadanya yang sedikit berbulu dan perutnya yang indah membuat Nela tak menatapnya dengan mata yang tak berkedip satu kali pun.
"Kenapa? Kamu suka?" tanya Bara.
"Maaf Mas, apa boleh saya tidur sekarang?"
"Sebentar lagi saja Nel."
"Saya pikir Anda sudah cukup memaksa saya."
"Tapi aku rasa kamu juga menikmatinya. Ayolah, lagipula saya tidak sampai melakukan hal yang membuat kamu hamil."
Nela mengusap air matanya lalu memungut bajunya yang tergeletak di lantai!
"Saya capek," ucapnya lalu segera berlari ke dalam kamarnya!
__ADS_1
Bersambung