
Setelah menginap semalaman di rumah majikan Nela kedua orang tua Nela akan pulang siang nanti karena sudah melihat keadaan anaknya yang baik-baik saja, mereka pun sudah bisa tenang.
Pagi ini, Nela sudah selesai dengan semua pekerjaannya karena dibantu oleh kedua orang tuanya. Nela hanya memasak untuk majikannya sarapan sedangkan mencuci pakaian dan mengepel lantai sudah dikerjakan oleh sang Ibu, menyapu halaman dan menyiram tanaman sudah dikerjakan oleh sang Ayah.
"Kerjaan Nela udah rapi tuh karena dibantu oleh orang tuanya," ucap Bara sembari menghempaskan bokongnya ke kursi makan!
"Lumayan lah, Nela bisa istirahat beberapa hari, selama masih ada orang tuanya," ucap Luci.
Farel tersenyum sembari mengoleskan selai kacang pada roti gandum kesukaannya. "Pak, Bu, sarapan dulu jangan kerja terus," ucap Farel pada kedua orang tuanya Nela yang saat itu terlihat sibuk.
"Terimakasih, Den. Kami sarapan nanti saja."
"Nel, nanti ajak orang tua kamu jalan-jalan keliling Jakarta. Nanti saya akan cari sopir untuk mengantar kalian keliling," ucap Luci setelah menggigit makanannya.
"Terimakasih Bu, tapi Bapak dan Ibu saya mau pulang nanti siang."
"Cepat banget? Menginap saja satu atau dua hari lagi."
"Maunya begitu Den, tapi di kampung, kami punya hewan ternak kalau kami lama-lama di sini kasihan nanti mereka kelaparan karena gak ada yang memberi makan."
**********
Di kantor Bara.
Sisca sudah berada di sana untuk menemui Bara meski dirinya tahu bahwa Bara belum berada di kantornya sepagi ini. Dia duduk di kursi yang sengaja disediakan oleh pihak kantor untuk siapapun menunggu orang yang akan ditemuinya.
"Mbak, yakin mau menunggu Pak Bara di sini?" tanya seorang satpam pada Sisca.
"Iya Pak, saya tunggu di sini aja."
"Mau saya buatkan teh atau kopi?"
"Tidak usah Pak, terimakasih."
"Hai, Sisca. Masih pagi udah ada di sini aja," ucap Farel yang baru tiba di kantornya.
"Farel, Bara mana?" tanya Sisca.
"Kak Bara ... mungkin dia masih di jalan. Memangnya kamu gak menelpon dulu?"
"Nggak, aku sengaja gak telpon karena mau bikin kejutan."
"Oh, ya udah aku tinggal ya. Paling sebentar lagi juga tiba."
Sisca tersenyum dan membiarkan Farel pergi dari hadapannya.
*******
Di kampung.
"Kamu mau kemana Nang?" tanya Rika yang saat itu melihat Anang sudah berpakaian rapi.
Anang menghentikan langkahnya lalu berbalik badan!
"Eh Rika, ini Rik, aku mau ke kota."
__ADS_1
"Pantas udah ganteng gitu, mau ngapain ke kota?"
"Aku mau kerja sambil kuliah."
"Udah ada pekerjaannya?"
"Udah. Dari dinihari sampai jam dua belas siang, aku kerja di Pasar. Setelah itu jam satu siang aku mulai kuliah."
"Kerja di Pasar? Jadi kuli panggul?"
"Nggak atuh. Ada orang kampung sebelah yang mengajak aku kerja nungguin toko sayuran di Pasar."
"Oh gitu. Ya udah pergi sana. Hati-hati ya jangan lupa pulang bawa kesuksesan."
Tak lama sebuah mobil berhenti didekat mereka lalu seseorang pun turun dari mobil itu!
"Anang, udah siap pergi?" tanyanya.
"Siap."
"Kak Fasha," ucap Rika.
"Rika, kamu masih kenal kakak?"
"Kenal dong, jadi yang dimaksud Anang, itu kakak?"
Fasha adalah seorang laki-laki yang saat SMA satu sekolah dengan Nela, hanya saja Fasha tidak satu kelas dengan Nela.
Dia pernah menyukai Nela tapi tidak sempat berpacaran karena dirinya keburu lulus dan harus lanjut kuliah di tempat lain sedangkan Nela, saat itu masih tinggal di kelas sebelas.
"Iya, namanya kak Fasha," sambung Anang.
"Iya, kebetulan ada teman yang punya lapak sayuran di pasar dan dia lagi butuh karyawan dan kebetulan juga, aku tahu Anang pengen kerja jadi aku tawarin aja dia kerja di pasar dan Alhamdulillah, Anang mau."
"Gimana kabar Nela?" sambung Fasha.
"Nela, aku harap dia baik. Sekarang dia kerja di kota."
"Bukannya seharusnya masih kuliah ya?"
"Iya, tapi terhalang biaya."
"Oh gitu. Eh Rik, maaf ya bukannya gak pengen lama-lama ngobrol sama kami tapi aku harus pergi."
"Iya kak, silahkan lagian aku juga ada pekerjaan lain."
**********
"Sisca, kamu ngapain di sini? Kok gak bilang mau kesini?" tanya Bara.
Hampir satu jam, Sisca menunggu. Akhirnya kini orang yang ditunggu nya datang juga.
"Sayang, kamu lama banget," ucap Sisca cemberut.
"Lagian kamu gak telpon dulu, coba kalau kamu telpon dulu mungkin aku bisa lebih awal ke kantornya."
__ADS_1
"Aku mau bikin kejutan tapi gak jadi, aku udah keburu bete." Sisca menghentakkan kakinya lalu melipat kedua tangannya di dadanya!
Bara meraih kedua lengan atas Sisca dari belakang hingga terlihat seperti Bara memeluk Sisca dari belakang!
"Kamu jangan marah, maafkan aku ya," ucapnya sembari mengelus lengan Sisca.
**********
"Pak, Bu, Bapak dan Ibu beneran mau pulang sekarang?" tanya Nela.
"Iya Nak, kalau kami gak pulang nanti hewan ternak kita pada mati," ucap Nana sembari memasukkan pakaiannya ke dalam tas.
"Kamu betah gak kerja di sini? Kalau gak betah ikut pulang aja sama kami," ucap Ardi.
"Betah Pak. Aku mau kerja biar bisa ngumpulin uang untuk kuliah."
"Kita jual kebun atau sawah aja kalau kami memang mau kuliah."
"Jangan Pak. Gak usah menjual apa yang sudah ada, aku kerja aja dulu paling satu tahun."
"Handphone kamu belum bisa nyala?"
"Belum Bu, aku gak punya uang buat beli charger nya. Mau minjam pada majikanku, aku gak berani karena kerjanya baru beberapa hari."
"Ya sudah, ambil uang ini dan beli charger biar nanti kalau Ibu kangen bisa telpon kamu." Nana memberikan uang sebesar seratus ribu pada Nela untuk membeli charger handphone nya.
"Gak usah Bu, buat ongkos Ibu sama Bapak pulang aja."
"Gak apa-apa lagian kalau buat ongkos pulang masih ada kok."
Nela tak menolak lagi, dirinya memang membutuhkan uang itu.
"Terimakasih ya Bu, nanti kalau Nela udah gajian diganti deh."
"Gak usah diganti. Uang kamu tabungkan saja di Bank."
**********
"Permisi Pak Farel, ini ada berkas yang harus ditandatangani oleh Pak Bara tapi beliau nya tidak ada di tempat," ucap Cindy.
"Oh, taruh saja di meja saya ya," ucap Farel tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.
"Baik Pak." Cindy meletakkan berkas itu tapi dia tak langsung pergi dari sana.
Dia malah asyik memandangi Farel yang sedang fokus bekerja.
"Aduh, Pak Farel manis banget bikin aku dek-dekan saat memandangnya," ucap Cindy didalam hatinya.
Tak terasa Cindy mengulas senyum di bibirnya.
"Cindy, ada yang perlu dibicarakan lagi?" tanya Farel saat menyadari Cindy ternyata masih ada di dalam ruangannya.
"Eh, tidak Pak. Saya permisi ya." Cindy langsung menggerakkan kakinya melangkah keluar dari ruangan itu.
Farel menatap Cindy. "Kenapa tuh anak?" gumamnya.
__ADS_1
Bersambung