AKU DAN ANAK MAJIKANKU

AKU DAN ANAK MAJIKANKU
bab 20


__ADS_3

"Berhenti di sini Mas, itu kontrakan saya," ucap Nela sembari menunjuk ke arah kontrakannya.


Farel pun langsung menghentikan mobilnya tepat didepan kontrakan yang Nela tunjukkan.


"Hati-hati Nel, kaki kamu sakit. Apa kita pergi ke dokter?" ucap Farel yang melihat Nela berjalan sedikit pincang.


"Gak apa-apa Mas, ini cuma luka sedikit."


Farel langsung membantu Nela berjalan memasuki tempat tinggalnya!


"Kamu tinggal di kamar sebesar ini? Dengan semua peralatan dapur dan rumah digabungkan seperti ini?"


Farel terkejut saat melihat isi kontrakan Nela yang ukurannya sangat kecil. Menurutnya tempat itu jauh dari kata layak untuk dihuni.


Bagaimana tidak. Dengan kamar yang hanya berukuran tiga kali tiga meter itu, Nela tinggal bersama dengan peralatan masak dan semua barang-barang kebutuhan sehari-harinya sedangkan kamar mandi, Nela harus keluar dari kamar karena di kontrakan itu hanya ada satu kamar mandi yang digunakan oleh semua penghuni kontrakan di sana.


"Iya Mas, saya cuma bisa membayar kontrakan seperti ini."


"Astaga, Nela. Kenapa kamu gak pulang saja ke rumah orang tua kamu?"


"Saya tidak berani. Kalau mereka tahu saya seperti ini, saya takut mengecewakan mereka dan mempermalukan mereka didepan semua orang kampung. Orang tua saya memang orang yang tak mampu tapi saya tak sampai hati untuk membuat mereka terluka."


Farel terus menatap Nela yang kala itu pelupuk nya sudah digenangi air mata kesedihan.


"Wah Mbak Nela, suaminya sudah pulang ya. Saya ikut bahagia karena akhirnya suami Mbak Nela pulang juga," ucap seorang tetangga yang mengontrak di sebelah kamar Nela.


Pada pemilik kontrakan dan pada semua tetangga, Nela mengaku bahwa suaminya tengah merantau di luar kota untuk mencari kerja. Terpaksa Nela, harus berbohong karena tak mungkin berkat dirinya adalah seorang gadis yang hamil oleh anak majikannya.


"B_bukan Bu, ini b–"


"Iya Bu, saya salah karena saya membiarkan istri saya hidup kesusahan," ucap Farel memotong perkataan Nela.


Nela menatap Farel, ia tak mengerti kenapa Farel mengaku sebagai suaminya di hadapan tetangganya.


"Sekarang Mas, sudah berhasil ya. Udah punya mobil kayaknya tuh."

__ADS_1


"Itu mobil Bos saya, Bu. Saya bekerja sebagai supir pribadi," ucap Farel berbohong.


Entah kenapa langsung terlintas dipikirannya bahwa dirinya hanyalah seorang supir pribadi padahal jika dilihat dari penampilannya, dirinya tidaklah pantas menjadi seorang supir.


"Oh, saya pikir Masnya sudah punya mobil. Mas, kalau bisa cukupi kebutuhan Mbak Nela. Kasihan dia lagi hamil tapi masih harus berjualan kue keliling."


"Bu, saya senang kok melakukan itu semua."


"InsyaAllah, dengan gaji saya sekarang semoga bisa menutupi semua kebutuhan Nela dan bayi yang dia kandung."


Ibu-ibu memang terkenal dengan jiwa kekepoannya yang tinggi, seperti halnya tetangga Nela sekarang, dia begitu betah mengobrol dengan Farel meski mereka baru pertama kali bertemu. Padahal kalau dipikirkan, sepasang suami-istri yang lama tidak bertemu pasti merasakan rindu yang mendalam.


Sepertinya Ibu itu tidak mengerti dengan kebutuhan pribadi seorang sepasang suami-istri, meski mereka bukan pasangan istri sungguhan tapi di sana tidak ada orang yang tahu akan hal itu.


"Saya ikut senang mendengarnya. Ya udah Mbak Nela, saya permisi ya. Maaf sudah mengganggu." Ibu itu pun langsung pergi dari kamar kontrakan Nela.


*******


Luci sedang sibuk mengatur barang-barang seserahan yang akan dibawa saat acara pernikahan Bara dilangsungkan nanti.


Di sana sudah ada asisten rumah tangga baru yang usianya lebih dewasa dari Nela.


"Baik Bu."


Saat itu Luci sedang melihat-lihat perhiasan lewat foto yang dikirim oleh toko perhiasan langganan nya, ia ingin membeli perhiasan untuk seserahan utamanya.


"Bara, kamu lihat deh kalung ini. Bagus gak?" tanya Luci setelah menggulir layar ponselnya dan menemukan sebuah kalung berlian yang terpasang pada patung.


Bara menatap layar ponsel milik Luci dan berkata. "Bagus. Mama mau beli kalung lagi?" ucap Bara.


"Bukan, ini buat Sisca."


"Bukannya perhiasan untuk mas kawin sudah dibeli ya Mam."


"Iya, memang udah. Ini untuk seserahan, makanya harus yang mewah dan berkelas."

__ADS_1


"Ternyata menikah seribet ini ya Ma. Aku pikir kita tinggal ijab kabul setelah itu udah deh."


"Pernikahan hanya kita alami satu kali dalam seumur hidup, karena itulah kita harus merayakannya semeriah mungkin."


"Gak juga Ma, diluar sana banyak yang menikah dua kali atau lebih."


"Mama tahu tapi Mama mau keluarga kita hanya akan menikah satu kali saja seumur hidupnya. Seperti Mama dan Papa, meski sekarang Papa udah lama tiada tapi Mama tetap mencintai Papa dan gak ada pikiran untuk menikah lagi."


"Tapi Ma, kalau ada laki-laki yang Mama suka dan dia juga suka sama Mama, apa salahnya Mama menikah lagi."


"Perjuangan cinta Papa kamu sama Mama sangat besar dan sulit untuk dilupakan. Sampai sekarang, Mama gak bisa lupa sama Papa kamu dan belum bisa membuka hati untuk orang lain. Bara, Mama harap pilihan kamu tidak salah, semoga Sisca bisa menjadi istri yang baik dan ibu yang baik untuk anak-anak kalian nanti."


"Amin, semoga saja Sisca bisa seperti Mama. Mama baik, pengertian, setia, dan juga Mama terbaik untuk anak-anaknya."


Luci tersenyum lalu kembali memilih perhiasan yang menurutnya indah.


**********


Farel kini sedang mencari rumah sederhana namun layak untuk dihuni. Ia harus mendapatkan rumah hari ini juga untuk Nela tinggal.


Melihat kondisi tempat tinggal Nela yang memprihatinkan, membuatnya tidak tega pada Nela, apalagi Nela sedang mengandung anak dari kakaknya hal itu membuatnya tak bisa membiarkan Nela kesusahan.


Meski sebenarnya dirinya tak tahu anak yang dikandung Nela benar anaknya Bara atau bukan tapi jika diingat waktu beberapa bulan lalu. Terlihat Bara memang seperti ada sesuatu dengan Nela.


"Entah itu anaknya kak Bara atau bukan, aku akan tetap mencarikan tempat tinggal untuk Nela. Tak lama lagi bayi itu akan lahir, aku akan segera tahu anak siapakah bayi itu," ucap Farel dalam hatinya.


Saat sedang fokus mengemudi, ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk.


Ia pun langsung melihat siapa yang mengiriminya pesan. Terlihat nama Kinara terpampang di layar ponselnya. Ia pun langsung membuka pasan itu lalu membacanya.


[Jadi ketemu gak? Aku sudah menunggu hampir tiga puluh menit.]


"Astaga, Kinara. Aku sampai lupa kalau aku mau ketemu sama dia," gumam Farel.


Farel menaruh ponselnya di kursi sebelahnya lalu melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat dirinya akan bertemu dengan Kinara.

__ADS_1


Karena sibuk mengurus Nela dirinya jadi lupa bahwa dirinya sudah ada janji bertemu dengan Kinara.


Bersambung


__ADS_2