
Sore hari setelah pulang hari kantornya, Farel selalu menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Nela hanya sekedar untuk menemui Bagas saja.
"Halo Bagas sayang," ucap Farel sembari berjalan mendekati Bagas yang sedang dalam gendongan Nela.
"Hai, Om. Om aku udah sembuh, terimakasih sudah mengantarkan aku ke Dokter," ucap Nela sembari melambai-lambaikan tangan sang putra pada Farel.
Farel segera meraih Bagas dari Nela dan langsung menggendongnya!
Dia mengecek suhu tubuh Bagas dengan menempelkan punggung tangannya pada kening Bagas.
"Udah gak demam lagi. Alhamdulillah ya sayang," ucapnya sembari menatap wajah Bagas.
Bayi mungil itu menggenggam jari Farel sembari terus mengoceh, berbicara dengan menggunakan bahasa bayi.
"Kamu bicara apa sayang? Om gak ngerti. Oh jangan-jangan kamu minta mainan ya? Nanti kita belanja mainan bareng ya tapi kamu harus benar-benar sembuh dulu," ucap Farel.
Nela hanya diam sembari terus menatap Farel yang sedang memanjakan anaknya. Tak terasa air matanya meluncur bebas dari pelupuk nya.
"Seharusnya Ayah kamu yang memanjakan kamu, Nak. Bukan orang lain," batin Nela.
Nela segera mengusap air matanya agar tak terlihat oleh Farel.
Selama ini hanya Farel lah yang perduli padanya dan anaknya. Dirinya tak ingin Farel mengetahui kedepannya karena ia tahu Farel, akan ikut sedih melihat dirinya bersedih.
"Nel, minggu kita belanja mainan ya untuk Bagas," ucap Farel.
"Gak usah Mas. Mas Farel kan perlu istirahat," ucap Nela.
"Gak apa-apa Nel, lagipula pergi juga gak akan lama paling berapa jam. Ya anggap aja untuk nyenengin Bagas."
Dari jarak yang agak jauh dari kediaman Nela.
Bara berdiri di samping tiang listrik. Dia sengaja bersembunyi agar dirinya tak terlihat oleh Farel dan juga Nela. Dia terus menatap mereka yang sedang mengajak bayi itu berbicara.
"Maafkan aku, seharusnya aku yang sedang bersama kalian saat ini, bukan Farel yang di sana," batin Bara.
Setelah tahu dirinya tak akan dapat kesempatan untuk menemui anaknya, Bara pun langsung pergi dari sana. Hari ini bukanlah waktu yang tepat untuk dirinya menemui Nela dan anaknya!
********
"Mama kenapa kok seperti orang lagi banyak pikiran. Mikirin apa Ma?" tanya Jeremy pada sang istri.
"Pa, ternyata Sisca belum mengatakan kalau dia gak bisa punya anak. Sekarang Bara terus meminta agar Sisca cepat hamil bahkan Bara sampai mengajak Sisca untuk melakukan terapi agar dia bisa cepat hamil," sahut Nicole.
"Apa! Kenapa Sisca belum bilang! Bara akan sangat kecewa karena merasa dibohongi."
"Itu yang Mama takutkan, Pa. Gimana kalau Bara tak terima dan akhirnya meninggalkan Sisca?"
__ADS_1
"Ada baiknya kita jujur saja pada Bara. Apa pun keputusannya, kita harus terima tapi setahu Papa, Bara adalah laki-laki yang baik. Semoga saja dia bisa memaafkan Sisca dan kita semua tentunya."
"Sisca melarang kita mengatakannya pada Bara. Dia terlalu takut, takut Bara akan meninggalkannya."
Jeremy menatap sang istri lalu mengusap punggunggnya beberapa kali.
"Bagaimanapun kita harus memberitahu Bara. Sebelum dia tahu dari orang lain."
"Kapan kita temui Bara."
"Sekarang juga."
"Apa tidak terlalu cepat? Apa gak sebaiknya kita bicarakan ini dulu pada Sisca?"
"Sampai kapan pun Sisca tidak akan pernah mengatakan ini karena dia takut Bara akan marah dan pergi darinya. Mama bersiaplah, Papa tunggu di sini."
**********
"Assalamualaikum!" seru Bara sembari berjalan memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam," ucap Sisca.
Sisca mencium tangan Bara lalu mengambil alih tas kerja suaminya!
"Mau kopi?" tanya Sisca.
Laki-laki itu langsung pergi memasuki kamarnya! Sementara itu, Sisca masih berdiri di tempat semula dengan pandangan mata yang terus mengikuti langkah Bara.
"Gimana aku bisa hamil Mas, sedangkan aku sendiri sudah tak punya ovarium, sudah dipastikan aki tidak akan pernah bisa hamil," batin Sisca. Air matanya menetes membasahi pipinya.
Bara yang tak melihat sang istri di belakangnya, langsung berbalik badan dan kembali menghampiri Sisca di depan pintu utama rumahnya.
"Sayang, kenapa kamu menangis? Apa aku sudah menyakiti kamu?" tanya Bara yang melihat Sisca menangis.
Dengan cepat, Sisca mengusap air matanya dengan telapak tangannya lalu mengulas senyum pada sang suami.
"Nggak, aku tidak menangis. Tadi aku kelilipan, Mas," ucap Sisca.
"Jangan bohong, maafkan aku ya. Aku sudah terlalu memaksakan kamu." Bara meraih pipi istrinya lalu menghapus air matanya dengan ibu jarinya.
"Jangan nangis lagi, ayo kita masuk." Bara, menggandeng Sisca dan membawanya berjalan memasuki kamarnya.
Setelah Bara dan Sisca masuk, Farel datang bersama Kinara.
"Assalamu'alaikum, Ma! Ada Kinara ni," udah Farel sembari terus berjalan memasuki rumahnya!
Kinara sudah duduk di kursi ruang tamu rumah itu, dia memang sudah beberapa kali datang ke rumah Farel, dia juga sudah akrab dengan orang-orang rumah Farel terutama dengan Luci.
__ADS_1
"Hai, sayang." Luci berjalan mendekati Kinara dan langsung memeluknya.
"Tante, apa kabar?" ucap Kinara dengan ramah.
"Kabar baik, kamu sendiri?" ucap Luci.
"Alhamdulillah baik."
"Duduk. Oh ya, Kinara sebentar lagi kamu kan menikah sama Farel ada baiknya panggil Mama aja, jangan Tante."
"Oh, baik Tan– eh Ma." Kinara nampak canggung memanggil Luci dengan sebutan Mama.
Kinara dan Farel memang sudah akan menikah dalam beberapa bulan lagi. Kini mereka sedang mempersiapkan segala sesuatu kebutuhan pernikahannya.
"Ma, aku sama Kinara mau pergi," ucap Farel setelah mengganti pakaiannya.
"Pergi ke mana? Awas jangan nakal kamu. Jangan mentang-mentang udah mau nikah, kamu bawa Kinara pergi sesuka hatimu," ucap Luci.
"Aku pergi untuk mengukur gaun pengantin. Tadi aku sudah buat janji dengan dezainer nya," jelas Farel.
"Mama pikir kalian mau kemana."
"Mas Farel orang yang baik. Sampai saat ini dia masih menjagaku dengan baik," ucap Kinara.
********
Dikediaman Nela.
"Malam, Nel," ucap Fasha yang baru tiba di depan rumah Nela.
"Kak Fasha," gumam Nela.
"Aku dengar, Bagas demam. Aku ingin menengok nya." Fasha berjalan mendekati Nela yang tengah duduk di kursi yang ada di teras rumahnya!
"Udah agak baikan, tadi udah ke dokter bersama Mas Farel."
Setelah lama tinggal di wilayah yang sama, Nela mulai terbiasa dan tidak merasa takut lagi pada Fasha.
"Syukur deh. Sekarang mana anaknya?"
"Udah tidur, mungkin obat yang dia minum mengandung obat tidur jadi dia tidur lebih awal."
"Oh, gitu ya. Nel, aku boleh duduk?"
"Silahkan kak. Maaf aku gak bisa ngajak masuk ke dalam rumah."
"Gak apa, aku ngerti kok."
__ADS_1
Bersambung