
Di rumah sakit.
Sementara Bara sedang ditangani oleh tim Dokter, Luci, Farel dan Kinara menemui Sisca yang saat itu sudah masuk ruang rawat inap.
"Sayang, syukurlah kamu selamat," ucap Luci sembari meraih tangan Sisca.
"Bagaimana dengan Mas Bara, Ma?" tanya Sisca dengan suara halus.
"Dia selamat, sekarang sedang ditangani oleh Dokter. Maaf Mama tidak bisa mengantar kamu ke rumah sakit karena Mama terlalu fokus pada Bara."
"Tidak apa Bu Luci, yang penting sekarang semua sudah selamat," ucap Nicole.
"Bu, terimakasih banyak sudah membawa menantu saya ke rumah sakit, berkat Ibu dan Bapak, Sisca bisa selamat."
"Sisca adalah anak kami satu-satunya, tidak mungkin kami membiarkan dia kenapa-kenapa."
"Ma, aku mau ketemu Mas Bara."
"Kak Sisca masih lemah, kakak gak boleh keluar dulu dari ruangan ini," ucap Farel.
"Tapi Mas Bara."
"Kak Bara akan baik-baik saja. Dokter sedang melakukan yang terbaik untuk dia," jelas Kinara.
"Ma, aku tinggi kak Bara di ruang IGD ya. Mama di sini aja kalau ada kabar dari Dokter, aku akan mengabari Mama dan juga kak Sisca di sini," ucap Farel.
"Aku akan temani kamu."
"Cepat kabari aku kalau udah ada kabar dari Dokter," ucap Sisca.
Farel mengangguk lalu segera keluar dari ruangan itu!
Didepan ruangan tempat Bara ditangani oleh Dokter, Farel terus berjalan mondar-mandir, ia tak tenang sebelum mendapatkan kabar baik dari Dokter yang kini sedang melakukan pengobatan pada Bara.
"Farel, duduk lah sebentar saja. Kamu harus tenang, jangan panik gini," ucap Kinara.
"Aku gak bisa Ki, kak Bara sedang berjuang untuk hidupnya. Aku takut dia–"
"Sst!" Kinara menempelkan jari telunjuknya di bibir Farel lalu membawanya duduk di kursi yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit untuk menunggu pasien.
__ADS_1
"Jangan berprasangka buruk terhadap takdir Tuhan. Kak Bara pasti baik-baik saja. Orang baik pasti selalu dilindungi oleh yang kuasa."
"Kamu gak tahu kak Bara, makanya kamu berkata seperti ini," batin Farel.
**********
"Nela!" seru seorang laki-laki yang melihat Nela sedang berjalan dengan menenteng kantong plastik berisi sayuran.
Nela menghentikan langkahnya lalu menatap laki-laki yang kini berdiri didepannya.
"Kak Fasha," ucap Nela.
Tak ingin bertemu dengan orang yang berasal dari daerah kampungnya, Nela segera berjalan cepat ke arah rumahnya.
Fasha berusaha mengejar Nela karena tak merasa dirinya bersalah hingga membuat Nela tak nyaman bersamanya!
"Nela tunggu, aku mau bicara."
"Maaf kak, aku sibuk." Nela terus berjalan dengan langkah cepat sementara itu Fasha terus mengekor dibelakangnya.
Karena terlalu cepat melangkah, kaki Nela tersandung dan menyebabkan dia terjatuh ke tanah.
"Pergi dari sini, pergi! Pergi!" Nela memberontak karena tak ingin dekat-dekat dengan Fasha.
"Ada apa ini? Mbak Nela, Mas Fasha?" tanya Bu RT yang kebetulan lewat di sana.
"Ini Bu, Nela terjatuh. Saya ingin menolongnya tapi dia menolak," jelas Fasha.
"Biar saya yang membantu Mbak Nela." Wanita paruh baya itu memegangi kedua belah lengan Nela dan membantunya untuk berdiri.
"Jangan takut Mbak, Mas Fasha ini bukan orang jahat, dia warga di sini juga hanya saja rumahnya berada lebih jauh dari sini," jelas ibu itu.
"Saya hanya takut dia orang jahat."
Fasha masih berdiri di tempatnya, dia menatap Nela yang tengah berjalan memasuki rumahnya.
"Nela, dia sedang hamil? Kapan dia menikah? Seharusnya sekarang dia masih kuliah," batin Fasha.
Ada rasa kecewa melihat gadis yang ia sukai sudah menikah dan kini tengah hamil.
__ADS_1
"Mungkin dia bukan jodohku, semoga Nela bahagia bersama suaminya sekarang," batin Fasha.
Laki-laki yang dari dahulu hingga sekarang masih menyukai Nela pun langsung pergi dan meninggalkan tempat itu. Melihat Nela yang seperti ketakutan padanya, membuatnya enggan membantu Ibu RT untuk mengantar Nela ke dalam rumahnya.
Di dalam rumah Nela.
"Mbak Nela, jangan takut pada orang tadi. Laki-laki tadi itu namanya Mas Fasha, dia warga saya juga, dia orang baik jadi Mbak Nela tidak perlu takut padanya ya," jelas istrinya Pak RT.
"I_iya, Bu. Tadi saya takut aja karena saya rasa dia ngikutin saya terus."
"Mungkin dia mau pulang, arah rumahnya memang searah dengan rumah ini hanya saja masih lumayan jauh dari sini."
"Maaf ya Bu, merepotkan."
"Tidak apa Mbak. Lagian saya juga tidak merasa kerepotan, oh ya tadi Mbak kan terjatuh, apa ada yang sakit? Apa ada yang terluka?"
"Tidak Bu, saya baik-baik saja."
"Syukurlah." Wanita paruh baya itu tersenyum ke arah Nela.
*********
"Dokter, bagaimana dengan keadaan kakak saya?" tanya Farel pada Dokter yang baru keluar dari ruangan tempat Bara ditangani oleh tim Dokter.
"Pasien selamat, hanya menderita luka ringan saja tapi meskipun begitu pasien harus tetap dirawat untuk menjalani pemulihan."
"Apa saya bisa melihat kakak saya?"
"Pihak yang bersangkutan akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap terlebih dahulu, setelah pasien dipindahkannya, Anda boleh menemuinya. Mohon menunggu sebentar lagi."
"Baik, Dokter."
Dokter itu pun langsung pergi meninggalkan tempat itu dan membiarkan Farel dan Kinara di sana!
"Alhamdulillah, kak Bara gak apa-apa. Kamu sudah bisa tenang kan setelah mendengar penjelasan Dokter? Sekarang kamu duduk di sini, kita tunggu bareng-bareng kakak kamu," ucap Kinara sembari mengusap lengan atas Farel.
Farel menatap Kinara lalu mengangguk pelan, ia pun mengikuti perkataan Kinara. Mereka duduk di kursi tunggu, kini ia sudah merasa lega karena Bara selamat dari maut.
Bersambung
__ADS_1