AKU DAN ANAK MAJIKANKU

AKU DAN ANAK MAJIKANKU
bab 18


__ADS_3

"Nela, saya tidak mau nama baik keluarga saya rusak dengan adanya kamu yang hamil tanpa suami, lebih baik sekarang kamu kemasi barang-barang kamu dan cepat pergi dari rumah ini," ucap Luci tanpa menatap Nela sedikitpun.


"Demi Allah Bu, bayi yang dalam kandungan saya ini adalah bayinya Mas Bara. Mas Bara, yang sudah menghamili saya."


"Anak saya tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu, saya tidak percaya dengan ucapan kamu."


Bara tersenyum kecil, ia merasa lega karena Luci tak mempercayai ucapan Nela.


"Mam, kayaknya gak manusiawi banget kalau kita membiarkan Nela pergi dalam keadaan seperti ini, apa gak sebaiknya kita cari laki-laki yang sudah menghamili Nela?" ucap Farel.


"Udahlah Farel, jangan sibuk mengurusi perempuan ini, urusan kamu saja sudah banyak," ucap Bara.


"Bu, saya mohon jangan usir saya dari sini, saya gak mungkin pulang dalam keadaan seperti ini." Nela memohon agar tidak diberhentikan bekerja di rumah itu.


"Gugurkan saja kandungan kamu itu."


"Saya sudah cukup berdosa dengan melakukan perzinahan, saya tidak ingin menambah dosa lagi Mas."


"Cepat bereskan barang-barang kamu, saya tidak mau melihat kamu lagi di rumah ini."


Nela tak bisa berkata apa-apa lagi, ia mengusap air matanya lalu bangkit dan berjalan ke kamarnya untuk merapikan pakaiannya!


"Ma, apa Mama tega membiarkan Nela pergi? Kasihan dia Ma."


"Udahlah Farel, biarkan Nela pergi, apa mungkin anak itu adalah anak kamu? Kamu yang menghamili Nela, iya?"


"Kak Bara jangan sembarangan bicara, gak mungkin lah aku menghamili Nela, aku cuma kasihan padanya."


"Biarkan dia pergi, Mama gak mau dia menghancurkan nama baik keluarga yang sudah Mama bangun dengan sekuat tenaga dan dalam waktu yang lama."


Tak lama, Nela berjalan dengan menenteng tas besar berisi pakaian miliknya!


"Saya akan pergi tapi saya akan membuktikan kalau ucapan saya menang benar. Suatu saat anak saya akan datang ke rumah ini untuk meminta haknya."

__ADS_1


"Tutup mulut kamu. Jangan pernah bermimpi untuk menjadi bagian dari keluarga kami," ucap Bara dengan suara lantang.


"Ini uang gaji kamu." Luci memberikan sebuah amplop berisi uang gaji Nela.


"Itu sudah saya tambahkan uang bonus karena selama kamu kerja, kamu tidak pernah membuat kesalahan dalam pekerjaan kamu. Sebenarnya saya cocok dengan kamu tapi karena kamu sudah hamil diluar nikah jadi saya tidak bisa mempekerjakan kamu lagi," sambung Luci.


Nela langsung pergi dari rumah itu tanpa mengucapkan terimakasih terlebih dahulu. Kekecewaannya terhadap Bara dan sikap Luci padanya membuat dirinya kehilangan kesopanan yang selama ini selalu dijaga nya.


Nela berjalan menuju tepi jalan raya dan mulai menghentikan angkutan kota yang sebenar ia sendiri tidak tahu kemana tujuan angkutan kota itu.


Dalam perjalanan tanpa arah dan tujuan itu, Nela terus menangis meratapi nasib buruk yang harus diterimanya.


"Mbak mau kemana? Ini sudah batas wilayah tujuan angkot saya," ucap Pak sopir sembari menatap Nela yang sedari tadi hanya menangis.


"Saya turun di sini saja Pak." Nela turun dari angkutan kota itu lalu membayar ongkosnya.


"Ini Pak, ongkosnya. Terimakasih."


Tanpa protes, Nela memasukan kembali uangnya kedalam saku celananya, ia pun membiarkan angkutan kota itu pergi dari hadapannya.


"Ya Allah, kemana aku harus pergi? Aku gak mungkin pulang dalam keadaan hamil seperti ini," batin Nela sembari terus berjalan menyusuri jalanan yang terasa semakin panas karena matahari mulai terik.


Setelah berjalan lumayan lama, Nela masuk ke dalam sebuah gang dan kebetulan ada tulisan besar yang terpampang tepat di samping gang itu.


"Ada kontrakan kosong," ucap Nela membaca tulisan itu.


Sebuah senyuman terukir di bibir Nela, ia merasa seperti ada kekuatan Tuhan yang menolongnya. Ia berjalan mengikuti arah gang itu dan tak lama ia menemukan jejeran kontrakan.


"Bu, permisi. Apa benar di daerah sini ada kontrakan kosong?" tanyanya pada seorang ibu-ibu.


"Iya benar Mbak, itu rumah pemilik kontrakan ini. Mbak tanya saja sama pemiliknya," ucap ibu-ibu paruh baya itu.


"Oh, terimakasih Bu." Nela segera menghampiri rumah pemilik kontrakan itu untuk menanyakan tentang harga dan apa saja fasilitas yang didapatkannya jika mengontak rumahnya.

__ADS_1


**********


"Heran, siapa yang sudah menghamili Nela? Dia terlihat seperti gadis baik-baik rapi ternyata dia sama dengan gadis liar yang suka kelayapan," ucap Luci.


Luci yang sudah mulai menyayangi Nela, sangat marah dan kecewa mengetahui asisten rumah tangganya hamil tanpa suami.


"Udahlah Ma, yang penting sekarang ******* itu sudah pergi dari rumah," ucap Bara.


"Aku mau ke kantor. Apa kakak mau diam saja di rumah untuk mendengarkan semua ocehan Mama?" ucap Farel yang tak ingin terlalu mempermasalahkan kehamilan Nela, toh Nela nya juga sudah pergi dari rumahnya, pikir Farel.


"Kamu saja yang ke kantor. Aku juga mau keluar tapi bukan ke kantor. Dalam keadaan seperti ini, aku butuh menenangkan diri."


Farel menatap Bara dengan tatapan aneh, "yang punya masalah Nela, kenapa Kak Bara ikut pusing?" batin Farel.


Tak ingin membuat keributan dan berdebat dengan keluarganya, Farel pun memilih langsung pergi meninggalkan Luci dan Bara yang terlihat sangat marah!


**********


Di kontrakan yang hanya satu petak dengan ukuran yang hanya tiga kali tiga meter itu, Nela tentang menyapu dan mengelap-lap debu yang menempel pada dinding dan lemari kecil yang ada di sana, ia juga merapikan tempat tidur kecil yang sudah butut yang kebetulan sengaja ditaruh di sana oleh sang pemilik kontrakan karena sudah tak terpakai lagi olehnya.


Sebenarnya pemilik kontrakan itu menyuruh Nela membuangnya kalau memang tidak dipakai oleh nya tapi Nela memilih memakai tempat tidur itu, menurutnya tempat tidur itu masih bisa terpakai dan lumayan untuk mengurangi pengeluarannya.


"Alhamdulillah aku sudah mendapatkan tempat tinggal, meski tidak senyaman rumah sendiri tapi aku harus bisa, aku gak boleh lemah, aku harus kuat demi anak yang aku kandung ini," ucap Nela dalam hatinya sambil terus menggerakkan tangannya membersihkan tempat yang akan menjadi tempat tinggalnya.


Tanpa terasa ia meneteskan air matanya lagi kala teringat hidupnya yang terasa bagaikan mimpi buruk.


Ia duduk di tepi tempat tidur itu! "Ibu, Bapak, maafkan aku," ucapnya dengan suara lirih.


Untuk sesaat, pergerakan semua anggota badannya terhenti, ia terdiam di tempat semula dengan tangis yang semakin deras. Betapa beratnya ia rasa cobaan yang kini sedang menerpa hidupnya.


Kenikmatan sesaat yang ia terima dari anak majikannya membuatnya harus hidup tanpa keluarga dan orang-orang disekitarnya yang menyayanginya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2