AKU DAN ANAK MAJIKANKU

AKU DAN ANAK MAJIKANKU
bab 42


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Kini kehidupan Nela sudah membaik, hubungannya dengan Bara dan keluarganya juga sudah membaik. Setelah mengetahui bahwa Sisca tak dapat memiliki anak, dirinya berbaik hati pada mereka dengan mengizinkan mereka menemui Bagas kapanpun dan juga mengizinkan mereka membawa Bagas menginap di rumahnya selama Bagas mau dan bahagia bersama mereka tapi, meski begitu dirinya tak mengizinkan Bagas selamanya tinggal bersama mereka dan karena.


Dirinya yang pernah berjuang sendiri demi Bagas, tentunya tak akan pernah mau berpisah dengan anaknya itu.


Hari ini adalah hari pernikahan Farel dan Kinara, semua orang sudah berkumpul di gedung tempat diadakannya resepsi pernikahan mereka. Fasha dan Nela pun turut hadir di acara itu, Luci yang sudah menganggap Nela sebagai keluarga tak mungkin membiarkan Nela tidak hadir di acara bahagianya.


"Selamat ya, Mas, Mbak," ucap Nela pada Farel dan Kinara.


"Terimakasih," ucap Farel dan Kinara secara berbarengan.


"Sayang, kamu mau kemana!" seru Bagas yang sudah kewalahan mengejar Bagas.


Bayi yang dulu masih mungil dan belum bisa apa-apa itu, kini sudah tumbuh menjadi seorang batita yang aktif dan ceria, Bagas kini sudah bisa berjalan sendiri dan kini sedang aktif-aktifnya berlarian ke sana ke nari.


Semua orang menatap Bara dan Bagas yang sedang main kejar-kejaran dan mereka semua tersenyum bahagia melihat tingkah Bagas yang lucu.


"Tertangkap," ucap Fasha sembari memangku bayi berusia satu koma lima tahun itu.


"Abis main sama Papa ya? Aduh-aduh kelingetan, kamu gerah sayang?" ucap Luci.


"Mbak Nela, terimakasih ya sudah mengizinkan kami untuk bermain dan bertemu dengan Bagas. Kami tidak tahu apa kami bisa bertahan tanpa Bagas," ucap Sisca.


"Tidak perlu berterimakasih, Mbak. Bagas juga anaknya Mas Bara jadi, saya rasa kalian juga berhak untuk menyayangi Bagas," ucap Nela.


"Mamama, mamama," oceh Bagas sembari mengarahkan tangannya pada Nela.


"Maka, Nak. Kamu mau digendong Mama?" Nela langsung meraih Bagas dari Fasha dan menggendongnya.


"Mamama, mamama." Bagas kembali berucap tapi kini ia meraih baju Sisca dan menariknya.


"Mama? Kamu panggil Mama? Oh sayang, sini Mama gendong," ucap Sisca.


Sisca menggendong Bagas lalu memeluknya, ia juga menciumi bayi itu dengan penuh kasih sayang.


Air mata kebahagiaan meluncur dari sudut matanya, betapa dirinya bahagia dapat dipanggil Mama meski oleh anak yang tak dilahirkannya.


Waktu terus berjalan hari semakin sore, para tamu undangan sudah berangsur-angsur pergi meninggalkan gedung resepsi itu dan kini hanya menyisakan beberapa tamu dan keluarga saja.


"Bu, Mas Farel, Mas Bara kami izin pamit, kasian Bagas udah kecapekan," ucap Fasha.


Hubungan yang dulu hanya sebatas rekan kerja kini hubungan itu menjadi keluarga, Fasha dan Farel menjalin hubungan baik demi kebahagiaan Nela dan yang paling utama adalah kebahagiaan Bagas.


"Oh, ya silahkan. Hati-hati ya," ucap Bara.


"Terimakasih untuk hari ini," ucap Farel.


"Nenek mau cium cucu Nenek dulu, biar gak kangen nantinya." Luci mencium kening Bagas yang saat itu sedang tidur dipangkuan Fasha.


Fasha dan Nela pun pergi dari gedung itu dengan perasaan bahagia!


"Minggu depan kita ya," ucap Fasha.


"Kamu yakin?" tanya Nela sesaat setelah duduk di bangku depan mobil milik Fasha.


"Tentu saja. Besok kita pulang ke kampung, aku akan melamarmu pada orang tua kamu langsung," ucap Fasha.


"Tapi aku–"


"Jangan takut, aku ada bersama kamu."


"Aku takut orang tuaku tak menganggapku lagi karena lama tidak pulang dan sekalinya pulang bawa anak tanpa hubungan pernikahan," ucap Nela dengan suara lirih.

__ADS_1


"Kita akan hadapi semua ini bersama-sama lagipula mereka adalah orang tua kandungmu, bagaimanapun kamu, mereka pasti memaafkan kamu," ucap Fasha.


**********


Keesokan harinya.


Nela dan Fasha sudah tiba di kampung, kini mereka sudah berada di depan rumah orang tuanya Nela.


"Assalamu'alaikum!" ucap Nela dam Fasha.


Tak lama Nana membuka pintu rumahnya dan ia langsung melihat Nela yang sedang menggendong seorang anak kecil dengan seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya.


"Nela, akhirnya kamu pulang juga," ucap Nana dengan suara lirih.


Wanita tua itu langsung meneteskan air matanya saat melihat putri satu-satunya akhirnya pulang juga.


"Maafkan aku Bu." Nela langsung berlutut di kaki sang ibu.


"Siapa yang datang, Bu?" tanya Ardi sembari berjalan ke arah mereka!


"Nela," sambungnya setelah melihat sang anak.


Ardi pun melangkah cepat menghampiri Nana dan Nela! Laki-laki tua itu langsung mengangkat tubuh Nela agar tak berlutut lagi pada ibunya lalu dia memeluk putrinya dengan erat.


"Akhirnya kamu pulang, Nak. Ibu dan Bapak sangat merindukan kamu," ucap Ardi.


"Pak, Bu maafkan aku. Maafkan aku atas semua dosa-sosaku pada kalian."


"Siapa bayi ini dan laki-laki ini?" ucap Ardi.


"Ayo masuk, kita bicara di dalam saja," ucap Nana.


Setelah mereka duduk Nela pun mulai menceritakan semua yang terjadi padanya mulai dari ia berangkat dari kampung untuk bekerja hingga akhirnya dirinya kembali dengan keadaan yang sudah tak sama seperti dahulu.


"Kenapa tidak dari dulu kamu pulang? Ibu dan Bapak tidak akan marah, kami sayang sama kamu. Apapun yang terjadi, kami akan selalu memaafkan kamu, Nak," ucap Ardi.


"Aku takut, Bu," ucap Nela.


"Pak, Bu karena Bapak dan Ibu sudah tahu semuanya, saya datang untuk melamar Nela, saya ingin meminta restu dari Bapak dan Ibu," ucap Fasha.


"Kamu kan anaknya ...." Nana menatap Fasha dengan tatapan tak biasa.


"Iya, Bu saya Fasha anaknya Pak Haji Erlan yang tinggal di kampung sebelah. Saya bertemu Nela di kota dan akhirnya saya memutuskan untuk menjadi Ayah sambung untuk Bagas," ucap Fasha.


"Tapi orang tua kamu itu orang yang terpandang apa mereka akan menyetujui hubungan kalian?"


"Sebelumnya saya sudah bicara pada mereka, Alhamdulillah orang tua saya setuju dan mereka siap memberi restu pada kami," ucap Fasha.


"Alhamdulillah, kalau begitu kami mengizinkan kalian menikah."


**********


Satu minggu kemudiannya.


Di kediaman orang tua Nela, sudah berkumpul orang-orang penting yang hendak menyaksikan akad pernikahan antara Nela dan Fasha dan memberi dora restu pada mereka berdua.


Keluarga Luci pun sudah tiba di sana sejak kemarin sore, Sisca dan Kinara juga turut hadir di acara itu.


Di tempat yang sudah disediakan oleh keluar, Fasha duduk didepan penghulu dan Ayahnya Nela sedangkan Nela duduk di sampingnya.


"Sepertinya semua sudah berkumpul, mari kita langsungkan acara hari ini," ucap Papanya Fasha.


Mereka pun memulai acara hari itu dengan doa dan setelah selesai berdoa mereka pun memulai acara ijab kabul.

__ADS_1


"Siap ya, Nak," ucap penghulu pada Fasha.


Fasha mengangguk mantap lalu ia menjabat tangan Ayahnya Nela.


"Bagaimana para saksi, sah?" ucap penghulu setelah Fasha selesai mengucapkan kalimat kabul.


"Sah!"


"Sah," ucap para saksi.


"Alhamdulillah," ucap semua orang yang ada di sana.


Nela mencium punggung tangan Fasha lalu kedua orang tuanya dan kedua orang tua Fasha.


"Selamat ya, Mbak," ucap Kinara.


"Selamat ya Mas, Bak," ucap Sisca.


"Terimakasih," ucap Nela.


Sisca memeluk Nela dengan erat! Tangis bahagia kembali menghiasi dirinya.


"Saya bahagia dipertemukan dengan perempuan sebaik kamu," ucap Sisca.


"Nela, terimakasih karena kamu sudah dengan lapang dada memaafkan saya, saya tidak akan pernah lupa dengan semua kebaikan hati kamu," ucap Bara.


"Sekarang kita sudah memiliki kehidupan masing-masing ada baiknya lupakan masa lalu yang penuh pilu dan kita bangun hubungan baru dalam kehidupan yang baru," ucap Fasha.


Fasha memeluk Nela dengan sebelah tangannya dan sebelah tangannya lagi menggendong Bagas.


Semua yang ada di sana berbahagia atas pernikahan Fasha dan Nela.


Akhirnya, setelah lama hidup dalam pilu dan dalam kondisi sulit, kini Nela menemukan kebahagiannya sendiri.


Kesalahan yang telah ia perbuat menimbulkan petaka baginya hingga dirinya harus hidup jauh dari keluarga dalam keadaannya yang hamil ditambah lagi dengan kondisi keuangan yang sulit semakin menambah penderitaannya tapi semua itu sudah berlalu, kini berkat kesabarannya akhirnya dirinya bahagia bersama orang yang dicintainya dan mencintainya.


Perjuangannya untuk mendapatkan pengakuan Bara atas anak yang ia lahirkan pun sudah tercapai, kini mereka berhubungan baik dan Nela sendiri sudah memaafkan semua kesalahan Bara padanya.


Mereka kini hidup dengan pasangan masing-masing. Bara dan Sisca, meski mereka tak dapat memiliki keturunan tapi mereka bahagia karena adanya Bagas.


Farel dan Kinara. Pernikahan mereka berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya, meski sempat terjadi kesalahpahaman antara mereka hingga Kinara memilih membatalkan pernikahannya tapi kekuatan cinta telah menyatukan mereka kembali.


Fasha dan Nela. Mereka tengah berbahagia di hari pernikahannya, setelah hubungan pertama saat sekolah terhenti karena adanya sebuah alasan kini mereka kembali bersatu meski dalam kondisi yang berbeda akan tetapi kondisi sekarang pada Nela tak merubah cinta Fasha pada gadis itu. Fasha tetap menerima Nela meski kenyataannya Nela sudah tak lagi gadis seperti dahulu.


semoga selamanya mereka berbahagia. Semua manusia akan hidup bahagia saat sudah waktunya dan seburuk apapun masa lalu mereka, mereka akan tetap menemukan pasangannya karena sesungguhnya manusia diciptakan berpasang-pasangan.




Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan tapi ada baiknya sebelum melakukan sesuatu pikirkanlah terlebih dahulu apa yang akan terjadi setelah kita melakukan perbuatan itu. Jika yang akan terjadi adalah kebaikan dan kebahagiaan maka lakukan tapi jika sebaliknya, jangan pernah lakukan apa yang akan membuat kita menyesal di kemudian hari.



TERIMAKASIH SUDAH MENGIKUTI NOVEL INI SAMPAI TAMAT, MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN DAN APABILA ADA DIANTARA PEMBACA YANG TERSINGGUNG ATAU MERASA TIDAK PUAS, MOHON DIMAAFKAN, CERITA INI DIBUAT UNTUK HIBURAN SEMATA DAN TIDAK ADA SEDIKITPUN NIATAN UNTUK MENYINGGUNG SIAPAPUN.



🙏🙏🙏🙏



Salam manis untuk kalian semua, mari ikuti novel author yang lainnya!

__ADS_1


__ADS_2