AKU DAN ANAK MAJIKANKU

AKU DAN ANAK MAJIKANKU
bab 8


__ADS_3

Sekitar pukul empat belas siang, orang tua Nela baru tiba di depan rumah majikan Nela.


Mereka berdiri di depan rumah itu sambil menatap rumah mewah itu penuh kekaguman.


"Pak ini rumah atau istana? Megah banget," ucap Nana.


"Iya Bu, ini apa kita tidak salah alamat ya Bu?"


Mereka berdua terus menatap rumah itu dengan matanya yang berbinar, melihat dari liatnya saja rumah itu sudah sangat mewah apalagi jika melihat dalamnya.


Mana dan Ardi yang berasal dari kampung, begitu terpana melihat rumah mewah nan besar itu.


"Kita ketuk pintunya aja dulu Pak, kita tanya apakah benar itu rumah Ibu ...." Nana memikirkan sesuatu, mencoba mengingat-ingat siapa nama majikan Nela.


"Ibu Luci. Kalau gak salah namanya Bu Luci."


"Ah iya, itu dia."


Nana berjalan mendekati pintu gerbang yang menjulang tinggi lalu menggedor gerbang yang terbuat dari besi itu!


"Assalamualaikum!" ucapnya sembari menggedor pintu gerbang itu.


Tak lama, Nela keluar dari rumah itu untuk melihat siapa yang datang ke rumah majikannya itu!


"Ibu, Bapak," ucap Nela saat melihat kedua orang tuanya dari rongga-rongga pagar besi yang menjadi penghalang antara mereka.


"Nela, jadi ini benar rumah majikan kamu?" ucap Nana.


"Pak, berarti kita tidak salah alamat," sambung Nana.


"Pak, Bu, ayo masuk," ucap Nela sembari membuka pagar besi itu!


Mereka berdua pun langsung masuk ke dalam halaman rumah mewah itu.


Sampai didepan pintu rumah majikannya, Nela meminta kedua orang tuanya menunggu di kursi yang ada di teras rumah. Dirinya tak berani mengajak mereka masuk tanpa izin dari majikannya.


"Maaf Pak, Bu, tunggu di sini dulu ya. Nela mau menelpon majikan Nela dulu."


"Mau ngapain nelpon majikan kamu?"


"Mau minta izin agar kalian bisa masuk ke dalam rumah."


"Gak percayaan bangun, lagian Ibu sama Bapak bukan mau maling di rumah ini."


"Nela tahu Pak tapi ini sudah peraturan dari majikan Nela kalau Nela tidak boleh memasukkan orang asing tanpa seizin mereka."


"Ya udah sana telpon majikanmu biar Ibu sama Bapak menunggu di sini."


*******


Di sebuah taman.


Bara dan Sisca duduk bersebelahan di atas kursi taman.


Bara merangkul pundak Sisca dari belakang dan Sisca menyandarkan kepalanya di bahu Bara.


"Sayang, kamu berapa lama lagi kuliah di sana?" tanya Bara pada sang kekasih.


"Paling enam bulan lagi tapi aku gak yakin bisa tinggal di sini lagi."

__ADS_1


"Kenapa? Kamu jangan menakut-nakuti aku."


"Aku serius sayang. Bisnis orang tuaku yang di sana maju pesat, beda jauh dengan usaha mereka yang di sini. Sekarang aja udah ada beberapa cabang yang tutup gara-gara omset menurun drastis," jelas Sisca.


"Aku gak mau pisah sama kamu."


"Aku juga tapi kalau seandainya aku tetap harus tinggal di sana kamu mau kan ikut aku?"


"Kalau aku ikut kamu, bagaimana dengan perusahaan orang tuaku?"


**********


Di kantor.


"Hai Farel!" seru seorang gadis sembari melambaikan tangannya pada Farel.


Farel menatap ke arah suara dan seketika senyum lebar pun tergambar di wajahnya.


"Kinara," gumam Farel sembari berjalan menghampiri gadis cantik berambut pirang itu.


Kinara, adalah seorang gadis yang beberapa bulan belakangan ini memiliki hubungan percintaan dengan Farel. Dia baru kembali dari luar kota setelah satu minggu pergi untuk menjenguk neneknya yang berada di Surabaya.


Kinara langsung memeluk Farel dengan erat dan Farel pun membalasnya!


"Kapan kamu datang? Kok gak bilang-bilang kalau mau pulang, aku kan bisa jemput kamu di bandara."


"Udah dari tadi. Aku sengaja gak bilang karena mau kasih kamu kejutan."


"Aku kangen sama kamu,"


"Aku juga kangen. Kangen dicubit sama kamu." Kinara tertawa kecil sembari mencolek hidung Farel dengan jari telunjuknya.


"Habis mau kangen apa, dicium aku gak pernah sama kamu."


"Nanti setelah waktunya, aku akan mencium kamu."


"Udah mau pulang kan?" tanya Kinara.


"Sudah, mau jalan dulu? Nongkrong di kafe biasa?"


"Boleh, itupun kalau kamu gak lelah setelah seharian bekerja."


"Buat kamu, aku pasti bisa dan kalau melihat kamu, semua lelahku hilang gitu aja."


"Iih, mulai deh gombalnya." Kinara berucap dengan gaya manjanya sembari mencubit lengan Farel perlahan.


"Kebiasaan, nyubitin aku terus."


"Kan aku gak mungkin mencium kamu." Kinara menatap Farel sembari tersenyum tipis.


"Kita pergi sekarang aja yuk!" Farel mengarahkan Kinara untuk masuk ke dalam mobilnya.


**********


"Assalamu'alaikum Bu," ucap Ardi saat melihat Luci.


Nana dan Ardi tersenyum ramah pada wanita paruh baya itu.


"Waalaikumsalam. Orang tuanya Nela ya?"

__ADS_1


"Iya, saya Bapaknya dan ini Ibunya."


"Kenapa di luar? Ayo masuk ke dalam!"


"Ibu sudah pulang, kok cepat banget Bu?" tanya Nela.


"Iya, orang tadi pas kamu telpon, saya udah didepan situ. Kenapa kamu membiarkan orang tua kamu di luar begini? Kenapa gak diajak masuk?"


"Maaf Bu, seperti yang Ibu bilang kan kalau saya tidak boleh memasukan sembarangan orang ke dalam rumah jadinya sebelum mendapatkan izin dari Ibu, saya menyuruh orang tua saya istirahat di sini aja."


Luci menarik nafasnya lalu menggelengkan kepalanya.


Dirinya memang meminta Nela untuk tidak mengajak sembarang orang masuk ke dalam rumahnya tapi tidak termasuk orang tuanya.


"Pak, Bu mari masuk! Saya duluan ya." Luci langsung melangkah memasuki rumahnya!


"Ternyata majikan kamu baik juga ya La," ucap Nana.


"Iya Bu, Alhamdulillah."


Mereka pun langsung masuk ke dalam rumah itu dan langsung menuju kamar Nela yang letaknya ada di sebelah dapur!


*********


"Jangan Bara, ini tempat umum." Sisca menolak Bara yang hendak menciumnya karena mereka sedang berada di tempat umum.


"Kenapa? Tempat ini sepi kok."


Taman itu memang terlihat sepi karena tidak ada orang yang berlalu-lalang di sana hanya untuk menikmati suasana sore hari.


"Aku tahu tapi gak pantas seorang CEO seperti kamu melakukan hal bodoh ini. Ini bisa merusak reputasi kamu."


Bara tersenyum lalu meraba paha kekasihnya itu.


"Kita ke rumah kamu yuk! atau mau pesan hotel?"


"Kamu ini mesum banget ya."


"Main-main aja lagian aku mau minta sama siapa kalau bukan sama kamu, pacar aku kan kamu."


**********


"Kin, kamu masih ingat gak saat kita jadian?" tanya Farel.


Kinara melanjutkan menyedot minumannya lalu mulai bicara.


"Aku gak akan pernah bisa melupakan hari istimewa itu."


"Selamat hari jadi kita yang pertama," ucap Farel sembari memperlihatkan sebuah gelang pada Kinara.


"Jadi kamu ingat hari ini hari apa?" Gadis itu menatap Farel penuh kebahagiaan.


"Aku gak pernah lupa bahkan aku sudah membeli hadiah untuk kamu ini dari satu minggu yang lalu."


"Aaah, terimakasih sayang," ucap Kinara dengan manjanya.


"Iya sayang, oh ya ini ada tambahan hadiah untuk kamu." Farel memberikan setangkai bunga mawar merah pada Kinara!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2