
Satu tahun berlalu sejak terjadinya kecelakaan yang menimpa Bara dan Sisca.
Saat ini keadaan sudah berubah, Nela sudah melahirkan dan kini bayinya sudah berusia sembilan bulan. Sejak kelahiran bayi itu, Farel dan Nela sudah melakukan tes DNA pada bayi itu dan hasilnya sembilan puluh sembilan koma sembilan persen DNA nya cocok dengan Bara tapi bukti itu tak membuat Bara mengakui anak itu, dia malah berpikir untuk membuang bayinya dan memenjarakan Nela deng tuduhan mencemarkan nama baiknya.
Demi melindungi Nela dan bayi itu, Farel pun menghentikan Bara agar tidak melakukan semua itu dengan cara menyembunyikan Nela dan anaknya di tempat yang tidak mungkin diketahui oleh Bara.
Pagi hari di kediaman keluarga Bara.
"Sisca, kapan kamu mau periksa lagi ke dokter? Sudah satu tahun kita menikah tapi tidak juga mempunyai keturunan, aku ingin punya anak seperti teman-temanku," ucap Bara pada Sisca.
Sisca yang sedang mengisi piring sarapannya pun seketika menghentikan pergerakan tangannya dan meletakkan sendok nasi yang ia pegang itu.
"Mas, aku sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik tapi usahaku belum berhasil. Aku minta agar kamu lebih bersabar lagi," ucap Sisca.
"Sampai kapan?"
"Bara, semua butuh waktu. Kamu sabar ya," ucap Luci.
"Ma, Mama ajak Sisca kemana kek, biar bisa cepat hamil. Aku tuh malu kalau ketemu teman yang pertama ditanya tuh anak. Masa setiap ketemu jawabanku itu-itu aja," ucap Bara.
Farel yang sedari tadi mengengarkan pembicaraan mereka pun sedikitpun tak berniat untuk ikut masuk ke dalam pembicaraan itu. Dia terus diam sembari terus nengunyah makanannya.
"Mungkin ini hukuman untuk kamu kak, karena kamu gak mau mengakui anaknya Nela," ucap Farel didalam hatinya.
Farel melihat sebuah pesan yang baru masuk ke dalam ponselnya.
__ADS_1
[Mas, anakku demam tapi aku gak ada uang untuk berobat. Boleh aku pinjam uang?]
Pesan dari Nela, itu membuat Farel menghentikan sarapannya dan langsung pergi meninggalkan meja makan.
"Farel, sarapanmu belum habis," ucap Luci.
"Maaf Ma, aku lagi kurang nafsu makan. Aku mau pergi ke kantor sekarang aja," sshut Farel sembari terus berjalan menuju pintu keluar!
"Mas, aku akan berusaha lebih keras lagi untuk bisa, hamil. Kamu sabar ya," ucap Sisca dalam keadaan mata yang sudah berkaca-kaca.
Sebagai seorang perempuan, Sisca selalu merasa sedih saat suaminya menuntutnya untuk memberikan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa ia lakukan.
Flasback on.
Satu tahun lalu, di rumah sakit.
"𝘗𝘢𝘴𝘪𝘦𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘰𝘷𝘢𝘳𝘪𝘶𝘮 𝘯𝘺𝘢 𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘪 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴. 𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘰𝘷𝘢𝘳𝘪𝘶𝘮 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘪𝘦𝘯," 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘋𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘪𝘵𝘶.
𝘔𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘋𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘚𝘪𝘴𝘤𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘫𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘸𝘢. 𝘙𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵, 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘩, 𝘴𝘦𝘴𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘢𝘮𝘱𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘪𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘰𝘯𝘵𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯-𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘰𝘣𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘭𝘶𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯𝘺𝘢.
"𝘈𝘱𝘢? 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘵𝘶𝘫𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶?" 𝘶𝘤𝘢𝘱 𝘕𝘪𝘤𝘰𝘭𝘦 𝘭𝘢𝘨𝘪.
"𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘵𝘶𝘫𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘗𝘢𝘬 𝘑𝘦𝘳𝘦𝘮𝘺 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘪𝘯𝘪."
𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯, 𝘋𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘢𝘱 𝘚𝘪𝘴𝘤𝘢!
__ADS_1
"𝘔𝘢, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘩𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘨𝘢𝘬 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘪𝘢," 𝘶𝘤𝘢𝘱 𝘚𝘪𝘴𝘤𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘋𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪.
"𝘐𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨, 𝘔𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘩𝘢𝘴𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶. 𝘋𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯," 𝘶𝘤𝘢𝘱 𝘕𝘪𝘤𝘰𝘭𝘦.
Flashback off.
**********
Di rumah Nela.
Farel langsung masuk ke dalam rumah Nela dan langsung mengambil alih, Bagas dari pangkuan Nela!
Bagas adalah nama anak yang dilahirkan oleh Nela, nama lengkapnya adalah Bagaskara Barapratama. Sengaja Nela menyematkan nama Bara karena memang anak itu adalah anaknya Bara.
"Astaga, sayang. Tubuh kamu panas sekali." Farel merasakan tubuh Bagas yang begitu panas, bayi usia sembilan bulan itu juga terus menangis saat digendongnya padahal biasanya Bagas paling suka saat digendong oleh Farel.
"Dari kapan ini, Nel?"
"Dari semalam Mas. Uangku habis jadi aku tidak bisa membawanya ke Dokter."
"Ya udah ayo kita periksa dia sekarang!" Farel berjalan menuju mobilnya dan meminta Nela untuk segera masuk ke dalam mobilnya tak lupa, ia memberikan Bagas pada Nela lagi.
"Kamu kenapa gak dari semalam aja telpon aku, biar Bagas bisa langsung ditangani oleh Dokter."
"Saya malu dan takut mengganggu Mas."
__ADS_1
Bersambung