AKU DAN ANAK MAJIKANKU

AKU DAN ANAK MAJIKANKU
bab 34


__ADS_3

"Pak Fasha, mengenal Nela?" tanya Farel.


"Iya, saya tetangganya Nela. Rumah saya ada di sana," ucap Fasha sembari mengarahkan tangannya ke arah rumahnya.


Farel berjalan mendekati mereka lalu langsung mengambil alih Bagas dari tangan Nela!


"Lanjut aja sarapannya, Nel. Biar Bagas, saya yang pegang," ucap Farel.


"Mas, sarapan bareng aja, silahkan duduk," ucap Nela pada Farel.


"Gak usah, saya udah sarapan. Kamu lanjut aja sarapannya."


Farel membawa Bagas berjalan ke arah mobilnya agar Nela bisa sarapan tanpa diganggu oleh bayi itu!


"Hey, kita pergi sekarang. Kamu mau beli mainan apa?" tanya Farel.


Ya, Farel sengaja datang pagi untuk memenuhi janjinya kemarin. Dia sudah berjanji akan membawa bayi berusia sembilan bulan itu untuk berbelanja mainan.


"Kamu kenal dengan Pak Farel?" tanya Fasha pada Nela.


"Ya, Mas Farel yang menanggung semua kebutuhan aku dan Bagas selama ini," sahut Nela jujur.


Fasha sudah selesai dengan sarapannya dan Nela pun segera membereskan piring bekas mereka sarapan.


"Kamu temui aja dulu Pak Farel, perabot kotornya biar aku yang beresin," ucap Fasha.


"Gak apa-apa kak, Mas Farel biasa momong Bagas kok. Aku mau nyuci piring dulu," ucap Nela dan langsung pergi ke dapur.


Merasa penasarannya dengan hubungan apa yang mereka miliki. Fasha berjalan menghampiri Farel dan berniat untuk bertanya secara langsung padanya!


"Pak Farel, sudah sering ke rumah Nela ya? Bagas sampai dekat begini dengan Pak Farel," ucap Fasha.


"Eh, Pak Fasha. Tidak juga, saya tidak terlalu sering datang ke sini, hanya kalau ada keperluan saja saya datang ke sini."


"Saya berasal dari kampung, di sana saya dan Nela tinggal satu wilayah hanya berbeda kampung saja. Kami pernah satu sekolah bersama," jelas Fasha tanpa diminta oleh Farel.

__ADS_1


"Oh, rupanya kalian teman lama ya."


"Saya pernah menyukai Nela. Kami pernah ada hubungan tapi sempat terhenti karena saya harus lanjut sekolah di Jakarta," ucap Fasha.


Farel menatap Fasha dengan tatapan aneh.


"Saya masih mencintai Nela." Fasha yang tak ingin kehilangan Nela untuk yang kedua kalinya, dengan tanpa rasa ragu mengakui perasaannya pada Nela didepan Farel.


"Ah, kalian ada masalah hati ya. Saya ikut senang kalau memang kalian bisa bersatu. Anda jangan berpikir macam-macam dengan saya, saya sama sekali tidak mempunyai perasaan apa pun pada Nela, semua yang saya lakukan murni karena saya sayang sama Bagas," ucap Farel.


"Jadi, Anda tidak mencintai Nela? Lalu ada hubungan apa sehingga, Anda begitu perhatian pada Nela?"


"Karena saya tak tega melihat Nela yang harus bekerja keras tanpa suaminya, jadi saya pikir untuk membiayai mereka."


"Tidak mungkin kalau tidak pernah punya hubungan sebelumnya," ucap Fasha.


"Kalian sedang ngomongin apa? Serius banget," ucap Nela yang baru selesai mencuci piring.


"Tidak ada, hanya urusan pekerjaan saja," ucap Fasha.


"Aku juga heran, kenapa aku bisa bertemu dengan Pak Farel di sini. Dia orang spesial di hati kamu ya?" ucap Fasha.


**********


"Mas, apa kita adopsi anak dari panti asuhan saja ya," ucap Sisca.


"Kamu yakin?" tanya Bara memastikan.


"Aku merasa, aku gak ada gunanya menjadi perempuan. Aku gak bisa memberikan anak untuk suamiku sendiri." Sisca mulai meneteskan air matanya.


Bara merangkul sang istri lalu membawanya ke dalam dekapannya!


"Jangan menangis, aku ajak kamu ke sini bukan untuk menangis tapi untuk bersenang-senang," ucap Bara.


"Mas, kalau kamu mau menikah lagi, aku ikhlas, aku siap untuk dimadu. Aku sadar kalau aku sudah tak sempurna lagi."

__ADS_1


"Ssst! Jangan bahas apapun tentang masalah itu. Mau renang?" ucap Bara sambil menatap Sisca.


Saat ini mereka sedang berada di pantai untuk menghabiskan waktu berdua dan menciptakan suasana baru dalam kebersamaan mereka, awalnya Bara, ingin bersenang-senang di sana tapi ternyata, Sisca malah membicarakan apa yang tak ingin dibicarakannya.


Sisca menggelengkan kepalanya dengan sedikit senyuman di bibirnya.


"Kamu aja. Aku di sini nungguin kamu," ucapnya.


"Kalau gitu aku juga gak mau. Kita jalan-jalan ke sana yuk!" Bara mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah arah lalu bangkit dari duduknya.


"Kayaknya di sana ada sesuatu yang menarik buktinya di sana ramai orang-orang," sambung Bara.


Sisca ikut berdiri dan bersiap untuk pergi, dia menggandeng tangan Bara lalu mereka mulai melangkah menuju tempat ramai itu.


**********


"Emm, Nel. Kamu ada acara ya sama Pak Fasha? Kalau gitu saya pulang aja deh, lain kali kita atur ulang jadwal pergi bersama," ucap Farel.


"Nggak usah Pak Farel, saya mau pulang karena ada urusan yang perlu saya selesaikan lagipula Anda sudah jauh-jauh datang kesini masa gak jadi pergi bareng mereka," ucap Farel.


"Gak apa-apa, Pak Fasha. Saya tidak maslah kalau memang kalian ada acara berdua, bertiga dengan Bagas maksud saya," ucap Farel.


"Kak Fasha, aku sudah buat janji untuk pergi bersama Mas Farel dan dia sudah datang kesini untuk menjemput aku dan Bagas, jadi aku mau pergi," ucap Nela.


"Oh, iya gak apa-apa tapi kamu ingat ya pada janji kita semalam," ucap Fasha.


Nela tersenyum lalu menundukkan kepalanya tapi sedetik kemudian dia kembali menatap Fasha.


Semalam, Nela baru saja menerima cintanya Fasha dan rupanya laki-laki itu sudah mulai sedikit fosesif pada Nela.


"Tenang Pak Fasha, saya gak akan mencuri Nela dari Anda, semua yang saya lakukan ini, pure karena saya sayang pada Bagas," ucap Farel.


"Maaf Pak Farel, saya hanya mengingatkan saja."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2