
Saat Nela sedang menyiapkan makanan untuk majikannya makan malam, Bara datang untuk mengambil air minum.
Nela langsung merasa ketakutan tapi sepertinya Bara yang sudah mendapatkan apa yang dia mau dari sang kekasih, sudah tak memiliki rasa penasaran dengan Nela, ia hanya bersikap biasa saja bahkan tak menghiraukan gadis itu.
Nela berdiri tertegun sembari memegangi piring yang akan ia letakan di atas meja makan matanya tertuju pada Bara yang sedang berjalan memusuhi dirinya.
"Apakah yang kemarin Mas Bara lakukan hanya untuk mengujiku atau mungkin kemarin Mas Bara sedang kerasukan? Barusan dia acuh cuek saja sama aku. Ah yasudah lah seperti barusan lebih baik, aku bisa bekerja lebih serius lagi agar uang untuk biaya kuliahku cepat terkumpul," ucap Nela di dalam hatinya.
Nela pun segera melanjutkan pekerjaannya yang hendak menata piring untuk majikannya makan!
**********
Di kampung
"Bu, udah ada kabar belum dari Nela?" tanya Ardi pada istrinya.
"Belum Pak, ditelpon juga hapenya gak aktif," sahut Nana.
"Mungkin dia belum punya uang untuk beli charger hapenya."
"Mau punya uang darimana Pak, kerjanya juga belum sampai satu bulan. Yang ibu tahu kerja jadi pembantu gajinya satu bulan sekali."
"Bapak juga tahu Bu, kalau soal itu mah tapi apa dia tidak bisa meminjam hape atau telpon rumah milik majikannya hanya untuk menelpon kita."
"Mungkin dia belum berani Pak. Kita do'akan saja semoga majikannya Nela, baik ya Pak."
"Amin."
*******
Di jalanan perkumpulan, Rika dan Anang sedang berjalan berdampingan sambil asyik mengobrol.
Mereka berdua bertemu di jalan setengah melakukan keperluan masing-masing.
"Rika, kamu habis dari mana?" tanya Anang yang sedap membawa karung bekas rumput makanan kambingnya.
"Aku habis dari rumah teman, kamu sendiri dari mana?"
"Tuh dari kandang kambing. Biasa kalau jam segini aku selalu ke kandang untuk mengambil karung kosong untuk besok aku nyari rumput lagi."
"Pantas bau kambing." Rika tertawa renyah.
"Rik, aku juga mau lanjut kuliah."
"Beneran? Wah selamat ya Nang."
"Iya, orang tua aku mengizinkan aku kuliah karena katanya usaha mereka sudah mulai maju lagi."
"Aku ikut senang mendengarnya."
"Oh ya, bagaimana dengan Nela? Dia mau lanjut tahun ini gak?"
"Gak tahu, sekarang dia kan sudah merantau untuk cari kerja."
__ADS_1
"Merantau kemana? Kok aku gak tahu."
"Merantau ke Jakarta. Mana kamu tahu, kerjaan kamu aja di hutan terus."
Anang menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu nyengir kuda ke arah Rika.
"Kamu kalau bicara suka bener deh."
**********
Di kota.
Setelah majikannya selesai makan, seperti biasa Nela akan mencuci piring bekas mereka makan agar esok pagi saat dirinya terbangun dari tidurnya, dirinya bisa langsung mengerjakan pekerjaan lain, misalnya menyapu dan mengepel lantai.
"Kamu udah makan belum Nel?" tanya Farel pada Nela yang sedang sibuk mencuci piring.
"Belum, Mas. Kenapa memangnya?"
"Makan dulu lah sebelum kamu nyuci piring."
"Nanti aja Mas, saya belum lapar."
"Boleh minta tolong?"
"Ya, apa?"
"Habis kamu nyuci piring tolong carikan kemeja saya yang warna putih. Di lemari gak ada mungkin ditempat setrika."
"Oh iya Mas, nanti saya cari dan langsung akan saya setrika kalau udah ketemu."
"Iya Mas."
Farel pun pergi meninggalkan Nela yang masih sibuk mencuci piring!
"Kakak sama adik kok kelakuannya beda banget ya. Kakaknya gila sedangkan adiknya baik-baik aja, normal-normal aja kayaknya," ucap Nela didalam hatinya.
Di kamar Bara.
[Halo sayang.] ucap Bara ditelpon.
[Iya, ada apa?] sahut Sisca.
[Padahal kita baru ketemu tapi aku masih rindu sama kamu.]
[Aku juga rindu. Besok kita ketemu lagi ya.]
[Iya dong sayang, besok aku pasti akan datang untuk menemui kamu lagi tapi saat makan siang ya. Kita makan bareng di luar.]
[Oke. Aku tunggu ya.]
[Aku istirahat dulu ya. Selamat malam sayang.]
[Malam juga sayang.]
__ADS_1
[Jangan lupa mimpiin aku ya.]
[Iya, kamu juga ya. Mimpiin aku juga dalam tidur kamu.]
[Pasti dong sayang. I love you.]
[Love you to.]
[I love you.] ucap Bara lagi.
[I love you to.]
[Aku cinta sama kamu.]
[Aku juga cinta sama kamu.]
[Aku sayang sama kamu Sisca.]
[Aaa, sayang. Sebenarnya kamu mau matiin telponnya gak? Tadi katanya mau tidur.] ucap Sisca dengan gaya manjanya.
Bara tertawa renyah. [Iya-iya aku matiin nih, abis cakung masih rindu sama kamu jadinya aku pengen dengar suara kamu terus.]
[Mulai deh gombalnya.]
[Ngakak lah, aku asli sayang sama kamu. Sekarang serius aku mau matiin telponnya ya.]
[Iya.]
[Kamu yang matiin telponnya.] ucap Bara yang sebenarnya tidak ingin berhenti berbicara pada Sisca.
[Kamu aja yang matiin sambungan telponnya.]
[Kamu.]
[Kamu aja.]
[Kamu aja kenapa sih.]
Dua orang yang sudah sama-sama dewasa itu dan menjalin hubungan percintaan itu, merasa masih ingin mendengar suara sang pujaan hati.
Lama tak bertemu membuat keduanya sama-sama bucin meski sebenarnya mereka sudah dewasa dan sudah cocok untuk menikah.
Karena Bara tak kunjung mematikan sambungan telponnya akhirnya dengan berat hati, Sisca mematikan sambungan teleponnya.
Farel tersenyum tipis saat sedang mendengarkan sang kakak menelpon pacaran, bagaimana tidak tersenyum geli, gaya berpacaran mereka mirip anak sekolahan atau abg yang bari mengenal cinta dan wanita.
"Dari kapan kamu di situ? Nguping pembicaraan orang aja," ketus Bara yang melihat Farel berdiri diambang pintu sembari menyandarkan punggungnya ditiang pintu.
"Baru aja. Uh yang lagi kangen-kangenan sama ayang masa udahan telponnya?"
"Lain kali kalau mau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu."
"Ini juga kan belum masuk ke dalam kamar kakak kan?"
__ADS_1
Bersambung