AKU DAN ANAK MAJIKANKU

AKU DAN ANAK MAJIKANKU
bab 30


__ADS_3

"Hahhh!" Sisca berteriak sembari melemparkan benda-benda yang ada disekitarnya.


"Ini gak bisa dibiarin, aku harus cari cara agar aku bisa punya anak. Aku gak mau Mas Bara, pergi ninggalin aku kalau dia tahu aku gak bisa kasih dia anak," gumam Sisca setelah capek berteriak dan mengacak-acak kamarnya.


"Nggak, nggak mau. Aku gak mau ditinggal sama Mas Bara. Aku harus cari bayi untuk aku adopsi."


Setelah apa yang terjadi padanya, dirinya satu tahun lalu. Sisca tak pernah memberitahu pada Bara bahwa dirinya sudah tak mempunyai ovarium lagi dan tidak mungkin bisa hamil dan memiliki anak.


Dirinya terlalu takut kehilangan suami tercintanya sehingga tak berani memberitahukan kekurangannya pada sang suami.


Ia lebih memilih merahasiakan kenyataan pahit yang tak pernah ia inginkan itu.


**********


Saat itu, Bara sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat tiba-tiba melihat Nela yang sedang menggendong seorang bayi, berjalan melewati mobilnya.


"Nela," batin Bara.


Bara menghentikan mobilnya dan menatap kemana arah Nela pergi. Setelah Nela menjauh, dirinya menjalankan mobilnya dengan perlahan mengikuti Nela.


"Anakku, dia anakku. Aku berhak atas anak itu," gumam Bara sambil terus menatap Nela.

__ADS_1


Hingga sampai akhirnya, Nela tiba di persimpangan sebuah perumahan. Dia masuk ke persimpangan itu dan terus berjalan.


"Apa jangan-jangan Nela tinggal di perumahan ini? Aku harus tahu dia tinggal dimana, anak itu anak aku juga, aku berhak atas anak itu."


Saat Bara tengah fokus mengikuti Nela, ponselnya berbunyi. Ada seseorang yang menelpon dirinya.


"Siapa lagi, ganggu aja." Bara melihat layar ponselnya dan terlihat nama Farel pada layar ponselnya.


"Ngapain Farel telpon aku?" Bara pun menerima telpon dari Farel karena takut ada hal penting yang tak bisa diwakilkan oleh Farel.


[Ada apa?] tanya Bara setelah telponnya tersambung. Bara terus memperhatikan Nela, pandangannya tak pernah sedikitpun lepas dari gadis yang sudah ia sia-siakan.


[Oh, iya. Aku lupa, tolong minta Pak Fasha menunggu sebentar. Secepatnya aku datang.]


[Baik.]


Bara mematikan sambungan telponnya dan kembali fokus pada Nela dan anaknya.


"Jadi dia tinggal di sini." Bara langsung pergi setelah memastikan bahwa Nela memang tinggal di daerah sana.


**********

__ADS_1


"Ma, tolong aku Ma," ucap Sisca pada Nicole.


Sisca baru tiba di rumah orang tuanya dan langsung berjalan menghampiri sang Mama yang tengah duduk di pinggir kolam renang sambil berucap minta tolong!


"Ada apa, datang-datang panik gitu?" tanya Nicole.


"Ma, Mas Bara menuntut anak dariku. Tolong aku, gimana caranya agar aku punya anak." Dengan raut wajah gelisah, Sisca terus meminta tolong pada Mamanya.


"Gimana bisa menuntut meminta seorang anak dalam keadaan kamu sekarang. Mungkin Bara lupa kalau kamu tidak–"


"Dia gak lupa tapi gak tahu," ucap Sisca memotong perkataan Nicole.


Nicole menatap Sisca dengan matanya yang membulat sempurna.


"Ya ampun Sisca. Seharusnya dari dulu kamu katakan tentang ini agar tidak jadi masalah. Sekarang gimana, Bara pasti marah besar karena kamu merahasiakan ini semua."


"Mam, aku takut Mas Bara meninggalkan aku. Kalau dia tahu aku gak bisa punya anak, bukan tidak mungkin dia akan berpaling pada wanita lain."


Nicole menggelengkan kepalanya, ia tak habis pikir anaknya menyembunyikan hal sebesar ini dari suaminya. Seandainya dari dulu Sisca, jujur pada Bara, mungkin saja Bara tidak akan terus menuntut Sisca untuk hamil.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2