AKU DAN ANAK MAJIKANKU

AKU DAN ANAK MAJIKANKU
bab 19


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, kini usia kehamilan Nela sudah semakin tua, perutnya pun sudah terlihat buncit.


Di usia kandungan yang sudah menginjak enam bulan ini, Nela harus terus bekerja keras untuk menutupi semua kebutuhan hidupnya dan ia juga harus menabung untuk biaya persalinan yang harganya tidaklah mudah.


Siang itu, ditengah teriknya matahari, Nela berjalan sembari menenteng sebuah box yang berisi makanan yang akan ia jajakan di sekitaran tempat tinggalnya.


Ya, setelah diberhentikan bekerja di rumah Luci, Nela memilih berjualan jajanan seperti gorengan dan kue-kue kering maupun basah. Setiap hari ia akan berkeliling untuk menjajakan makanan yang ia buat sendiri itu.


"Sudah siang seperti ini, kue ku belum habis juga. Ya Allah, aku harus kemana lagi menjajakan kue-kue ini, sayang sekali kalau kuenya tidak terjual," gumam Nela sembari terus berjalan.


Nela yang terlalu fokus pada barang jualannya tak menyadari bahwa ia berjalan memasuki jalan raya.


Dari samping kiri Nela ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arah Nela.


Kondisi jalan yang sedang sepi membuat para pengguna jalan dengan nyamannya melaju dengan kecepatan tinggi.


"Aaaaaa!" teriak Nela saat sadar sebuah mobil sedang melaju kencang ke arahnya.


Karena terkejut, Nela tak bisa menghindar. Kakinya terasa kaku dan membuatnya tidak bergerak sama sekali.


Ciiiit!


Bersamaan dengan suara teriakan Nela, si pengendara mobil itu mengerem mobilnya dengan sesegera mungkin.


Bruk!


Nela terjatuh dan kue-kue miliknya tercecer di atas aspal itu.


Nela duduk di atas aspal itu sembari memegangi perutnya dengan tangan sebelah kiri sedangkan tangan kanannya menutup wajahnya karena tak sanggup melihat maut berada di depan matanya.


Si pengendara mobil yang juga sedang dalam keadaan panik dan tenang itu langsung turun dari mobilnya dan menghampiri wanita yang hampir tertabrak olehnya.


Syukurlah karena pengendara itu mengerem mobilnya pada saat yang tepat akhirnya Nela tak sampai tertabrak oleh mobilnya, Nela hanya terjatuh mungkin karena dia terlalu ketakutan.


"Astaghfirullah, Mbak!" Si pengemudi mobil itu berjalan menghampiri Nela dan langsung membantunya untuk bangkit.


"Mbak gak apa-apa? Apa ada yang luka?" tanyanya setelah ia berjongkok dan memegang pundak Nela.

__ADS_1


Nela yang tertunduk dengan tangan yang masih menutupi sebagian wajahnya pun langsung mendongak dan menurunkan tangannya untuk melihat orang yang kini berbicara padanya.


"Nela."


"Mas Farel."


Kedua anak manusia itu saling menyebutkan nama orang yang ada didepannya secara berbarengan.


"Astaga, Nela. Ayo bangun." Farel segera membantu Nela lalu membawanya berjalan ke tepi jalan!


Tak ada kata yang terucap dari mulut Nela. Wanita itu begitu syok setelah mengalami kejadian yang hampir merenggut nyawanya.


"Kamu duduk di sini sebentar." Setelah nela duduk, Farel pun segera berjalan menuju mobilnya dan memindahkan mobilnya ke tepi jalan dan setelah itu, ia mengambil botol berisi air mineral untuk Nela.


"Minum dulu, Nel." Farel menyodorkan mulut botol itu ke mulut Nela.


Nela meraih botol itu dari Farel lalu meminumnya dengan menggunakan tangannya.


Farel menatap Nela yang saat itu masih terdiam, mungkin karena masih syok setelah mengalami kejadian menegangkan barusan.


"Terimakasih Mas," ucap Nela dengan suara yang masih terdengar bergetar.


"Untuk apa Mas mencari saya?"


"Ada banyak pertanyaan yang harus kamu jawab. Sekarang ayo saya antar kamu pulang."


"Gak usah Mas, saya bisa sendiri."


"Nela, kamu sedang hamil dan kamu baru aja terjatuh. Ayolah, saya antar kamu pulang, saya takut kamu kenapa-kenapa nanti."


"Gak usah Mas, saya bisa sendiri."


"Kamu jangan takut, saya tidak akan melakukan kejahatan sama kamu justru saya di sini ingin mencari kebenaran dan keadilan untuk kamu."


Nela menatap Farel beberapa saat dengan mulutnya yang tertutup rapat tanpa adanya sedikitpun perkataan yang terucap.


***********

__ADS_1


"Aku bahagia banget karena sebentar lagi kita akan menikah," ucap Sisca yang saat itu tengah menyandarkan kepalanya di bahu Bara.


"Aku juga gak sabar akan hari pernikahan kita. Akhirnya dalam waktu beberapa hari lagi kita akan menikah," ucap Bara sembari membelai rambut Sisca dengan lembut.


Setelah lama berpacaran jarak jauh, akhirnya kini Bara dan Sisca bisa menikah.


Mereka akan melangsungkan pernikahan dalam waktu beberapa hari lagi. Tepatnya tiga hari dihitung dari hari ini.


"Aku gak sabar pengen jadi istri kamu. Setelah kita nikah, kita mau tinggal di mana?"


"Emm, aku terserah kamu aja deh. Mau tinggal sama Mamaku boleh, mau tinggal di rumah orang tua kamu boleh, mau beli rumah untuk kita tinggali bersama juga boleh."


"Kamu emang paling ngertiin aku." Dengan senyuman bahagia, Sisca memeluk tubuh Bara dengan erat!


Sepasang kekasih itu tengah berbahagia karena cita-citanya untuk menikah bisa tercapai juga.


********


"Kamu jawab dengan jujur, anak siapa yang kamu kandung itu?" tanya Farel saat masih dalam perjalanan menuju tempat tinggal Nela.


"Dari awal saya sudah jujur, anak yang saya kandung ini adalah anak anaknya Mas Bara."


"Kenapa kamu bisa seperti ini? Saya gak nyangka kalian berdua melakukan perbuatan hina di rumah. Apa yang bisa saya percaya kalau memang itu adalah anaknya kak Bara. Kamu bisa kasih saya bukti?"


"Semua terjadi karena dasar pemaksaan. Mas Bara memaksa saya dengan mengancam saya. Saya takut dan gak punya pilihan, akhirnya dengan terpaksa saya menuruti permintaan Mas Bara. Kami melakukan itu saat Mas Bara dan Ibu pergi ke luar kota. Saya pikir setelah itu, Mas Bara akan merasa puas dan tak akan memaksa saya lagi untuk melayaninya tapi perkiraan saya salah bahkan sangat-sangat salah. Ternyata setelah kejadian itu Mas Bara lebih berani bahkan dia rela pulang ke rumah saat jam makan siang hanya untuk meminta sesuatu yang sangat dilarang itu."


Farel mengingat waktu saat Nela masih bekerja di rumahnya. Waktu itu memang Bara sering keluar saat jam makan siang dan selalu kembali terlambat.


"Saya akan membuktikan bahwa bayi ini memang anaknya Mas Bara dengan melakukan tes DNA. Setelah dia lahir, saya akan langsung melakukan tes DNA pada anak saya."


"Boleh saya minta nomor ponsel kamu? Agar saya lebih mudah menghubungi kamu."


"Untuk apa menghubungi saya lagi toh semua tidak akan membuat Mas Bara mengakui perbuatannya."


"Kamu hidup sendirian di kota yang sama sekali tidak ada satu pun orang yang kamu kenal. Saya takut suatu saat kamu kenapa-kenapa dan butuh bantuan, gak ada orang yang bisa kamu mintai tolong. Saya yakin kamu tidak berbohong karena itulah saya akan bertanggungjawab pada anak yang sedang kamu kandung. Saya akan membiayai semua kebutuhan kamu agar kamu tidak usah berkeliling menjajakan makanan lagi."


"Maksudnya gimana?"

__ADS_1


"Selama kamu mengandung anak Kak Bara, saya akan menanggung semua kebutuhan kamu. Tujuan saya hanya satu yaitu mencari kebenaran. Setelah anak kamu lahir, kita akan melakukan tes DNA bersama-sama dan jika terbukti anak kamu adalah anak kak Bara. Itu artinya dengan cara apapun, dia harus menikahi kamu."


Bersambung


__ADS_2