
"Nela, tolong maafkan saya. Saya benar-benar tidak tahu kalau ternyata waktu itu kamu bicara jujur," ucap Luci.
Nela duduk di kursi yang bersebelahan dengan Farel, dia masih tidak percaya dengan apa yang sedang dialaminya sekarang.
Mantan majikannya datang bersama dengan anak-anaknya dan meminta maaf padanya
"Nela, tolong maafkan Mamaku ya. Semua orang pasti pernah berbuat kesalahan," ucap Farel.
"Aku sudah memaafkan, Ibu sejak dari dulu tapi tolong jangan ambil anakku, aku tidak mau berpisah dengan Bagas, tolong jangan pisahkan aku dengan Bagas," ucap Nela sembari terus memeluk Bagas.
Bayi mungil yang tak tahu apa-apa itu hanya mengoceh ala bahasa bayi saat Nela tak hentinya mencium dan membelai wajahnya.
"Siapa yang mau memisahkan kamu dari Bagas, Mama datang untuk meminta maaf, kak Bara juga datang untuk meminta maaf padamu, jangan takut Nela," ucap Farel.
Nela menatap Farel dengan matanya yang masih meneteskan air mata.
"Sekarang orang yang kamu tunggu sejak lama sudah datang padamu meski keadaan sudah berbeda tapi Kak Sisca bersedia dimadu. Sekarang tinggal bagaimana kamu maunya bagaimana, dengar semua keputusan ada pada diri kamu kami tidak akan memaksa," ucap Farel lagi.
"Mbak, izinkan suami saya menebus semua kesalahannya. Menikahlah dengannya, saya ikhlasin, saya siap hidup dengan membagi suami," ucap Sisca.
"Ya," ucap Bara sembari meraih tangan Nela. "Demi anak kita," sambungnya lagi.
__ADS_1
Nela menggelengkan kepalanya pelan, "maaf aku tidak bisa," ucapnya dengan suara lirih.
"Kamu yakin? Kamu yakin kalau Pak Fasha akan menerima kamu setelah tahu bahwa Kak Bara adalah Ayah kandung Bagas?" ucap Farel.
Nela terdiam sembari menundukkan kepalanya, dirinya tak tahu harus bilang apa karena dirinya pun tak tahu apa yang akan Fasha lakukan setelah mengetahui ini semua.
"Tentu saja saya akan menerima Nela dengan setulus hati saya," ucap Fasha yang tiba-tiba muncul dan sudah berdiri diambang pintu.
Semua orang menoleh ke arah pintu setelah mendengar suara Fasha.
"Kak Fasha, dari kapan kakak ada di situ?" ucap Nela yang begitu terkejut.
"Aku sudah di sini sejak beberapa menit lalu," ucap Fasha.
Tak ada satupun dari mereka yang berucap lagi, mereka terdiam karena tak tahu apa yang akan dibicarakan selanjutnya.
Fasha berjalan menghampiri mereka semua lalu duduk di samping Nela!
"Jadi, Pak Bara adalah Ayah kandungnya Bagas?" tanya Fasha pada Nela.
"Ya, saya adalah Ayah kandungnya Bagas," ucap Bara dengan penuh keberanian.
__ADS_1
"Kenapa, Anda begitu tega menelantarkan Nela dan anaknya kalau memang, Anda benar-benar Ayah dari anak ini?"
"Saya tahu saya salah karena itulah saya datang untuk meminta maaf pada Nela dan saya juga ingin menebus semua kesalahan saya padanya dan juga anak saya," ucap Bara.
"Aku tidak sudah memaafkan kamu, Mas tapi aku tidak bisa menikah denganmu, selain karena aku tidak mau menginginkan pernikahan itu lagi, aku juga tidak mau menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kamu," ucap Nela pada Bara.
"Dan kamu Kak, aku tidak memaksa kamu untuk menerimaku setelah ini, aku pasrah. Sebesar apapun cintaku padamu, aku akan membuangnya jika kamu memilih mundur dalam hubungan percintaan yang baru kita mulai beberapa waktu lalu," ucap Nela pada Fasha.
"Tidak. Aku tidak akan mundur, aku tetap akan menikahi kamu," ucap Fasha.
"Mbak, bolehkah saya menggendong bayi itu? Saya dan Mas Bara tidak akan merebut bayi Mbak, saya hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menggendong seorang bayi," ucap Sisca.
Nela menatap Sisca dan dia pun mengerahkan pelukannya pada bayi itu.
"Nela, tolong berikan kesempatan mereka untuk memeluk bayi kamu jika kamu memang tak mengizinkan Ayahnya memeluknya setidaknya beri mereka kesempatan satu kali saja," ucap Farel.
"Bagas akan aman, mereka tidak mungkin melakukan hal buruk padanya," ucap Fasha.
Fasha mencoba membujuk Nela agar memberi kesempatan pada Bara dan Sisca untuk menggendong dan memeluk Bagas, meski dalam hatinya ada rasa marah pada Bara tapi dirinya harus bisa memberikan kesempatan itu pada Bara karena biar bagaimana pun juga Bara adalah Ayah kandungnya Bagas.
Bersambung
__ADS_1