
"Bara, Mama gak nyangka hari bahagia ini menjadi begitu menyedihkan. Kenapa harus terjadi sama kamu?" Luci duduk di kursi yang ada di samping ranjang pasien yang diatasnya ada Bara yang tengah terkulai lemah tak berdaya.
"Ma, Sisca gimana? Apa dia selamat?" ucap Bara dengan suara halus.
"Dia selamat, kamu harus fokus pada kesembuhan kamu. Sisca juga sedang berusaha untuk kesembuhannya."
"Ma, aku harus pergi. Aku harus mengantarkan Kinara pulang," ucap Farel pada Mamanya.
"Ya, kamu pergi saja, biar Mama yang menjaga kakakmu."
"Aku pergi tidak akan lama, hanya mengantar Kinara saja setelah itu aku langsung kembali ke sini."
Kinara pun langsung berpamitan pada Luci, tak lupa ia juga mendoakan Bara agar cepat sembuh sebelum akhirnya ia pergi.
Farel dan Kinara pun keluar dari ruangan rawat inap itu! Saat sedang berjalan, Farel menerima sebuah pesan pada ponselnya.
Dia pun langsung membacanya.
[Mas, Mbak Nela terjatuh saat pulang dari warung dan dia terlihat ketakutan saat melihat salah satu warga saya di sini. Tolong datang sebentar saja untuk menenangkan Mbak Nela karena dari tadi Mbak Nela terus menangis.]
Farel langsung menyimpan ponselnya lagi ke dalam saku celananya setelah membaca pesan dari istrinya Pak RT di perumahan tempat tinggal Nela.
Wajah Farel langsung terlihat cemas, ia khawatir terhadap Nela yang sedang mengandung anaknya Bara.
"Kamu kenapa?" tanya Kinara yang penasaran mengapa Farel begitu cemas setelah membaca pesan tersebut.
__ADS_1
"Tidak kenapa-kenapa. Hanya masalah kecil saja." Mereka terus berjalan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berjalan!
"Masalah kecil tapi se_cemas ini?"
"Ini masalah kerjaan Kinara. Kamu gak akan mengerti."
Farel membukakan pintu mobilnya untuk Kinara dan mengarahkannya Kinara agar segera masuk mobil, setelah itu ia langsung masuk ke mobilnya dan mulai menyalakan mesinnya.
Setelah beberapa menit melakukan perjalanan, Kinara sama sekali tidak mengeluarkan suara. Dia tetap diam dengan pandangannya yang lurus ke depan.
"Kinara, maaf ya. Aku tidak bermaksud membuat kamu tersinggung, aku sedang banyak pikiran jadi aku tidak dapat mengontrol emosiku."
"Aku tidak marah. Siapa yang marah?"
"Kalau tidak marah kenapa dari tadi diam saja?"
"Terimakasih ya, sudah mengertikan aku."
"Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Semua kesedihan yang kamu rasakan, aku juga dapat merasakannya."
**********
"Bu, beneran saya tidak apa-apa. Saya tidak perlu diperiksa oleh bidan," ucap Nela yang menolak diajak periksa oleh istrinya Pak RT.
"Baiklah kalau Mbak Nela tidak mau diperiksa, semoga Mbak beneran tidak apa-apa ya. Saya khawatir kalau Mbak kenapa-kenapa."
__ADS_1
"Assalamualaikum!" seru Farel dari luar rumah Nela.
Karena pintu depan rumah Nela terbuka lebar, Farel langsung masuk ke dalam rumah dan mendapati Nela yang sedang duduk di kursi bersama dengan istrinya Pak RT.
"Nela, kamu terjatuh. Apa yang sakit, apa ada yang terluka?" ucap Farel sembari meneliti tubuh Nela.
"Mas, kok Mas ke, sini? Dari mana Mas tahu kalau aku terjatuh?"
"Bu Ria yang memberitahu aku katanya kamu terjatuh."
"Maaf, Mbak Nela, saya sengaja memberitahu Mas Farel karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Mbak."
"Kita ke rumah sakit ya. Kamu harus diperiksa Dokter, takutnya bayi kamu kenapa-napa."
"Gak usah Mas, aku baik-baik saja."
"Mas, Mbak, saya permisi ya kalau ada apa-apa kasih tau saya atau Pak RT ya." Bu Ria pun langsung pergi meninggalkan rumah itu.
Kini hanya ada Farel dan Nela saja di rumah itu.
"Lain kali kalau berjalan hati-hati, jangan sampai kamu dan bayi kamu terluka," ucap Farel.
"Iya, Mas. Maaf sudah merepotkan."
"Siapa yang kamu takuti? Tadi Bu Ria memberitahu saya kalau kamu terjatuh karena kamu takut pada seseorang. Siapa orang itu?"
__ADS_1
Nela hanya diam dengan kepalanya yang tertunduk ke bawah, ia tidak ingin Farel tahu siapa sebenarnya Fasha. Ia pikir Fasha hanyalah orang dari masa lalunya yang tak perlu Farel mengetahuinya.
Bersambung