
"Perempuan itu mantan asisten rumah tangga di sini dan anak itu adalah anakku," ucap Bara dengan nada bicara yang tinggi.
Seketika, Kinara menghentikan langkahnya bersamaan dengan itu, Sisca begitu terkejut sampai menjatuhkan ponselnya yang ia pegang tak kalah terkejutnya dari Sisca, Luci terdiam, terpaku seolah tak dapat berucap ataupun bergerak.
"Kak–"
"Kamu diam Farel, mungkin sekarang saatnya semua tahu keburukan dan kebodohan aku," ucap Bara memotong perkataan Farel.
"Mas, aku tak menyangka kamu melakukan ini," ucap Sisca dengan air matanya yang sudah membanjiri pipinya.
Ia tahu bahwa suaminya tengah bicara jujur.
"Sisca, aku sangat bersalah padamu. Maafkan aku," ucap Bara.
Setelah beberapa menit, Luci menampar pipi Bara dengan sangat keras hingga membuat semua orang di sana terkejut akan perlakuan Luci pada Bara.
Wanita itu terlihat sangat marah pada putra pertamanya itu, terlihat dari nafasnya yang berderu kasar dan dadanya terlihat naik turun seolah sedang kesulitan mengatur nafasnya.
"Mama gak nyangka kamu melakukan ini. Kenapa Bara! Kenapa? Dengan secara tidak hormat, Mama mengusir Nela dari rumah ini karena dia hamil diluar nikah dan ternyata kamu orang yang sudah menghamilinya," ucap Luci.
Kinara yang semula ingin pergi dari sana, kini terdiam sambil terus mencerna keributan yang sedang terjadi di rumah itu.
Farel tak menghiraukan Mama dan kakaknya yang sedang berdebat, ia lebih memilih menghampiri Kinara dan memberinya penjelasan tentang semuanya!
"Ki, kita perlu bicara. Ayo kita pergi," ucap Farel.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" ucap Kinara yang tak mengerti kenapa terjadi keributan besar di sana.
__ADS_1
"Kamu akan tahu nanti, aku akan menceritakan semuanya padamu. Sebentar lagi kita akan menikah, aku tidak mau ada sedikitpun yang tidak kamu ketahui dari aku," ucap Farel lagi.
"Tapi mereka."
"Biarkan saja. Mereka pasti bisa menyelesaikan masalah ini tanpa kita." Farel meraih tangan Kinara lalu membawanya keluar dari rumahnya!
"Maafkan aku, Ma. Aku memang salah, aku khilaf," ucap Bara.
"Jangan minta maaf pada Mama, minta maaf pada Sisca dan juga Nela. Mama tidak habis pikir kamu bisa melakukan ini," ucap Luci.
Sementara itu, Sisca hanya diam dengan air mata yang terus mengalir di pipinya, dirinya begitu kecewa sang suami ternyata tidak sebaik yang ia pikirkan.
"Mama kecewa sama kamu. Mama malu sama Nela, ternyata orang yang Mama bela adalah orang yang bersalah." Luci meninggalkan Bara yang masih berdiri di tempat itu!
Dia menutup pintu kamarnya dengan sangat keras karena terlalu marah pada sang putra.
Bara mengikuti langkah Sisca yang sedang menuju kamarnya!
"Sayang, aku mohon jangan pergi. Maafkan aku, aku tahu aku salah tapi semua aku lakukan karena aku cinta sama kamu, aku gak mau kamu pergi dari aku," ucap Bara sembari berjalan mengekor dibelakang Sisca.
Sisca terus berjalan dan setelah tiba di kamarnya, dia mengambil koper miliknya dan hendak memasukan pakaiannya ke dalam koper itu!
"Sisca, jangan lakukan ini. Aku gak akan bisa tanpa kamu," ucap Bara lagi.
"Kamu gak bisa tanpa aku tapi kamu bisa menghamili pembantu di rumah ini," ucap Sisca.
"Itu dulu, kejadiannya udah sangat lama. Waktu itu kamu masih tinggal di luar negeri, tolong maafkan aku, aku janji aku tidak akan pernah mengecewakan kamu. Aku sudah mendapat hukuman atas apa yang aku lakukan tolong jangan kukum aku lagi. Aku mohon, Sisca." Bara berlutut dikaki Sisca untuk memohon pada wanita itu.
__ADS_1
Bara yang sudah semakin bertambah usia, kini mulai berpikir jernih dan mulai meninggalkan kebiasaan buruknya. Namun saat dirinya sudah menetapkan hatinya pada Sisca, noda masa lalunya terungkap oleh dirinya sendiri sehingga membuat istrinya itu marah dan ingin pergi.
Bara terpaksa mengakui Nela dan anaknya demi menyelamatkan pernikahan Farel dan Kinara, dirinya tak ingin orang yang selama ini menjaga Nela dan Bagas harus mengalami kekecewaan karena batal menikah dengan orang yang dicintainya.
**********
Farel mengetuk pintu rumah Nela. Dia harus menemui Nela demi mendapatkan kepercayaan Kinara lagi.
"Ini rumah siapa?" tanya Kinara.
"Kamu akan tahu sebentar lagi," ucap Farel.
"Gak baik bertamu pas mau maghrib gini," sambung Kinara.
"Aku harus menyelesaikan kesalahpahaman kamu terhadap aku. Aku gak mau sampai pernikahan kinara batal karena masalah ini, aku sayang sama kamu, aku gak akan bisa tanpa kamu," ucap Farel sembari menggenggam kedua tangan Kinara.
Tak lama pintu itu terbuka dan menampakkan seorang Nela didalam sana.
"Mas Farel," ucap Nela sembari menatap Farel dan Kinara.
Farel melepaskan tangannya yang sedang menggenggam tangan kinara lalu berbalik badan menjadi menghadap Nela.
"Nela, saya mau bicara. Maaf kalau saya datang disaat yang tidak tepat seperti ini," ucap Farel.
"Masuk Mas, Mbak," ucap Nela sembari membuka lebar-lebar pintu rumahnya.
Bersambung
__ADS_1