Aku Dijodohkan Saat SMP

Aku Dijodohkan Saat SMP
Notifikasi Pesan


__ADS_3

Tok...tok...


"Hei, adik kecil kamu sudah tidur ?


Apa kamu punya waktu ?


Boleh aku bicara sebentar denganmu."


Hana yang baru saja naik ketempat pembaringan hendak ingin menutup matanya, tak di sangka ada yang mengetuk pintu kamarnya.


Hoaaam.....


"Iya Sebentar." Ucapnya sambil menguap.


Hana secepatnya berdiri dan membukakan kamarnya.


Deg... deg... deg...


Kagetnya bukan main, melihat yang berdiri di depan pintu adalah Yuda.


"Apa kau punya waktu aku ingin bicara padamu,sebentar saja ?"


Hana kebingungan menjawabnya, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sekujur tubuhnya mulai merasakan hawah dingin, akibat Hana baru ke dua kalinya, berhadapan langsung dengan seorang lelaki yang sama, kemarin waktu dirumah nenek tetapi hanya bicara seadanya saja karena keduanya belum terlalu mengenal, berbeda dengan kali ini.


Raut wajahnya menunjukkan penuh ketakutan dan tubuh gemetaran, sambil menjawab.


"Eeh iya om ada apa ?"


"Masa iya aku berdiri seperti ini, ayo bicara didalam saja." Ucap Yuda dengan santai,sambil menarik tangan Hana masuk kedalam kamarnya.


"Adik kecil, kamu kenapa?


Kalau kulihat kamu seperti tertekan, apa lagi tanganmu sangat dingin, seperti es ?"


"Ma _ ma_aaaf om, aku baik baik saja."


"Ooow.....


Jangan berfikir yang bukan bukan, aku kesini hanya ingin bertanya, bagaimana keputusanmu.


Aku akan membawamu ke apartemenku."


Hana diam saja mendengar ucapan Yuda.


"Bicaralah, aku harap kau tidak menolak, karena itu demi kebaikan."


"Kebaikan apa, kamu saja yang baik om, sementara aku sengsara.


Mana ada lelaki yang bukan muhrim tinggal berdua dalam satu atap." Ucap Hana dalam hati.


Heeiii kamu tidak mendengar ucapanku, ini semua tidak seperti yang kamu fikirkan, berat rasanya mengambil keputusan ini, apa lagi se atap dengan seorang gadis kecil sepertimu, anggap saja aku ommu seperti sebutan yang selalu kamu panggil itu.


Dan kamu adalah ponakanku, kan beres."

__ADS_1


Astagaa dia mengetahui apa yang kufikirkan saat ini, kalau serumah dengan om ini, aku tidak akan fokus belajar, perlombaan tinggal beberapa hari lagi, sekolahku juga semakin kacau." Ucap Hana dalam hati.


Tenanglah adik kecil, aku tau kamu memikirkan sekolahmu, jangan khawatir soal itu, aku tidak akan membuatmu menderita, lagi pula sesuai janjiku padamu tempo dulu.


Aku perna berjanji padamu sewaktu di desa, kalau akan membantumu.


Saat aku ingin bicara padamu, aku melihatmu sedang bersama seorang lelaki, hingga ku urungkan niatku."


"Haaa.... astagaa, dia melihatku sedang memeluk kakak Danu.


Hmmmpttt...."


Dari tadi Hana diam saja mendengar semua penuturan Yuda.


Hanya bicara dalam hati saja, tetapi seolah Yuda mengerti raut wajahnya itu.


"Hanaaa... Kenapa diam saja, bicaralah padaku." Yuda berdiri sambil mengunci pintu kamar Hana.


Hana semakin ketakutan, melihat tingkah Yuda.


"Om. om. jangan di tutup pintunya." Hana bicara terbata bata sambil mengeluarkan suaranya.


"Makanya bicaralah cepat, sebelum aku kefikiran macam macam, sudah kukatan dari tadi kau terus saja diam." Yuda berucap agak tegas, hingga membuat bulu kuduk Hana merinding.


"Iya iya, terserah om saja, puaskan ?


Sekarang buka pintunya. "


"Nah gitu donk baru anak baik."


Secepatnya Hana berdiri, dan langsung mengunci pintu dari dalam kamarnya, takut Yuda datang lagi.


"Hiii.... orang aneh, aku takut dia memaksaku kalau aku ikut dengannya, tapi aku tidak punya pilihan lain, ini terpaksa kulakukan, demi keluargaku.


Hanum juga telah sembuh berkat bantuan nenek, kalau aku membantah, rumah orang tuaku yang akan jadi taruhannya." Hana melamun sendiri di dalam kamarnya.


Tidak berlangsung lama, Hana mengambil telpon selulernya yang tergeletak di atas nakas, mengingat kakaknya dia segera menelpon.


"Hai kakak bagaimana kabarmu ?


Aku menelfonmu hanya ingin memberi kabar, kalau aku sudah sampai di kota."


"Ia dek, kak Danu baik disini.


Kamu disana jaga diri ya, kalau ada apa apa jangan lupa telpon kakak lagi, sekarang istrahatlah sudah larut." Jawab Danu.


"Baiklah kak, daaa.... "


Setelah selesai menelpon, Hana belum bisa memejamkan matanya, dia kembali mengingat tragedi penculikan dirinya, kenapa orang orang mengincarnya.


Bahkan Hana ingat sebentar lagi, dalam dua puluh hari kedepan akan di adakan perlombaan nasional, dia tidak yakin bisa menyelesaikan semuanya, apalagi banyak orang dari berbagai negara juga jadi pesertanya, membayangkan itu Hana tidak bisa.


tidak terasa maalam semakin larut, Hana akhirnya tertidur.

__ADS_1


Keesokan harinya, Hana bangun subuh benar, dia sibuk mengatur pakaian miliknya sebelum para pelayan datang membersihkan kamarnya dan membantu.


"Waaah.....


Akhirnya selesai juga, beruntung pelayan belum datang, aku tidak terbiasa di bantu merapikan barang.


Pinda kemana aku... ?


Ya tuhaaan...


Membayangkannya saja aku sangat sulit.


Kenapa aku harus menerima kenyataan pahit ini, padahal aku ingin sekolah, aku bahkan ingin mengejar cita citaku. Ucapnya seorang diri.


Tidak lama pintu di ketuk kembali dari luar, tetapi tidak ada suara dari balik pintu.


Hana berfikir itu pelayan yang akan membereskan barangnya, itu sebabnya dia tidak berdiri membukakan pintu karena tidak terkunci, sontak saja pintu langsung terbuka dan menampakkan raut wajah bahagia dari seseorang.


"Eh om, aku baru selesai berberes pakaian.


Kapan kita akan berangkat ?"


Tanpa ragu lagi Hana langsung saja bertanya pada Yuda.


"Kau bersiaplah, secepatnya kita akan berangkat. Aku akan turun lebih dulu, karena asistenku Ronal sudah menunggu di bawah.


Kita akan sarapan lebih dulu dengan ayah dan ibu, setelah itu kita berpamitan." Jawab Yuda.


Selesai berberes, telpon seluler milik Hana berdering, ada notifikasi pesan masuk.


Hana mengambil handponenya, ternyata pesan dari pihak sekolahnya.


"*Hai apa kabarmu Hana ?


Ini dari pihak sekolah sengaja menghubungimu, karena beberapa hari lagi perlombaan akan di adakan.


Sekolah mengharapkan kecerdasanmu dan bangkitkan imajinasi serta ide ide yang menurutmu sangat berharga.


Fokuslah dengan belajarmu, kami sengaja memberikanmu libur sebulan, agar kau bisa mengembangkan ilmu yang kau dapat.


Sampai jumpa nanti di karantina, sekolah sedang bersiap menuju Ibukota, lima hari lagi kau akan mendapatkan bimbingan belajar dari seseorang, diharapkan kerja sama darimu Hana*."


Sambil melepaskan handphone miliknya Hana bergumam.


"Tinggal lima hari lagi, aku akan segera pergi, aku bahkan belum sempat berbicara pada om Yuda, baru saja aku ingin pindah dari sini, masa dalam lima hari kedepan lagi aku harus meninggalkannya !


Hmmmmpp...


Aku hanya bisa berharap satu satunya yang bisa membantuku adalah om itu, tapi bagaimana caraku agar bisa mendapat izinnya, atau aku pergi diam diam saja ?


Tidaaaak... aaaaakh...


Setelah diapartemennya nanti aku akan mencoba bicara padanya saja, terserah dia mau membatuku atau tidak aku akan tetap mencari cara."

__ADS_1


Hana meracau tidak jelas, dirinya pusing memikirkan lomba yang akan dimulai sebentar lagi. Setelah dirinya berberes dikamar, Hana turun dan melihat kebawah disana ada ayah dan ibu, Yuda juga Ronal, mereka semua sedang menunggunya.


__ADS_2