
"Astagaa...
Maaf mengganggu, aku masuk tanpa permisi." Baru saja Hana ingin keluar tetapi Yuda segera berlari menghampirinya.
"Hana kamu !!!
Ayo kesini, aku akan memperkenalkan kamu pada seseorang." Ajak Yuda.
Saat Hana masuk, tidak percaya apa yang dilihatnya, Yuda sedang bicara menggunakan alat, dan didalam kamar ini, terpampang jelas dalam layar monitor, seorang anak lelaki sebaya dengan dirinya.
"Om ini siapa ?"
"Ayo disini Hana. Hei bocil kamu dimana, lihat disini, perkenalkan ini Hana dan itu Yaksa, adik sepupuku yang ada diluar Negeri, dia seumuran denganmu.
Dengan umur kecilnya itu, dia adalah seorang Hacker handal yang belajar saat usianya baru beranjak lima tahunan." Ucap yuda.
"Kakak jangan bercanda ya, karena menjadi Hacker handal tidak semudah apa yang kakak ucapkan, karena kakak yang ajarin aku sampai jadi seperti ini." Jawab Yaksa dari layar monitor itu.
Wajah Hana memerah, karena berada dalam satu kamar dengan Yuda, saat ini Hana diam saja.
"Kak, ini gadismu yang kau ceritakan padaku. Seleramu bagus juga kak, selera anak muda sepertiku, oww sebentar lagi aku akan memiliki kakak kecil yang cantik."
"Yaksa, kamu diamlah kalau kamu banyak bicara, apa belum cukup dengan bertongkat atau akan aku tambahkan kedua kakimu itu menjadi lumpuh."
"Uuuh kak Yuda, jadi galak amat sih, awas yah kakak kalau aku ke Indonesia akan aku bawah Hana jalan denganku."
Treeeet...
Yuda mematikan layar didepannya, dia terlihat sangat kesal dengan adiknya. Sedang Hana jadi salah tingkah.
"Hana maafkan adikku, dia memang seperti itu, aku selalu menghiburnya, mengajarinya banyak hal, Yaksa adalah anak yang baik.
Aku sangat sayang padanya, karena kakinya sedang lumpuh, ayah dan ibunya juga sibuk bekerja."
"Tidak apa om, aku senang berkenalan dengannya.
Maaf aku tidak sengaja masuk kesini, karena melihat kamar om masih terbuka lebar."
"Aku tidak keberatan kamu masuk kamarku."
Spontan Hana menjawab. "Aku menyetujui syarat dari om, tetapi boleh aku mengajukan permintaan ?"
Mendengar ucapan Hana barusan Yuda merasa bahagia.
"Apa yang kamu inginkan gadis kecilku, katakanlah...?"
"Setelah menikah nanti, aku tidak ingin om berbuat sesuka hati padaku." Ucap Hana tegas.
__ADS_1
"Hana kamu tidak perlu bicara begitu, tanpa kau minta pun, aku tidak akan melakukan itu atau memaksamu.
Aku janji padamu sebelum kau benar benar menerimaku, tidak akan terjadi apa apa antara kita.
"Aku mengizinkanmu keluar Hana tetapi kau harus ditemani beberapa pengawal, karena aku tidak ingin kejadian penculikan seperti kemarin terulang lagi."
"Terimakasih om, mau mengerti diriku. Tetapi aku tidak ingin kemana mana. Kurasa aku masih bisa menjaga diri dan tidak butuh dengan pengawalanmu itu." Tolak Hana sambil berterimakasih.
Tidak bisa Hana, aku akan terus memantau dirimu, aku tidak ingin terjadi sesuatu lagi.
Hmmm...
"Kalau begitu terserah om saja." Jawab Hana dan berlalu pergi ke arah kamarnya.
Malam semakin larut Hana kembali memejangkan matanya, begitu juga dengan Yuda.
Seperti biasa pagi sekali, asisten Ronal sudah datang menjemput bosnya. Tetapi kali ini Yuda belum ke kantor karena sudah janji dengan Hana akan memenuhi perlengkapan dapur.
"Hana, apa kau sudah siap ?" Tanya Yuda, saat melihat Hana keluar sudah berdandan rapi.
"Iya om, ayo kita berangkat." Jawab Hana.
"Ronal hari ini antarkan aku ke pusat perbelanjaan bahan makanan mentah, karena aku akan berbelanja." Perintah Yuda ke asistennya.
Asisten Ronal rasanya ingin tertawa lepas tetapi ditahannya. Mengingat ada nona kecil. Selama ini yang dia tau Yuda tidak perna memasak.
Karena yang ku tahu tuan tidak perna memaasak. Kenapa harus belanja ?" Tanya Ronal.
"Ronal... tutup mulutmu, lakukan saja apa tugasmu, kalau kau masih ingin bekerja. " Bentak Yuda.
"Maaf tuan aku hanya menanyakan sesuatu yang belum perna terjadi."
"Mau berangkat atau tidak, kalau kamu hanya mengoceh ya sudah saya jalan sendiri." Jawab Yuda dengan tatapan dingin pada asisten Ronal.
Secepat mungkin Ronal turun kebawah, melihat Yuda sedang kesal langsung saja Ronal membukakan pintu untuknya dan Hana.
***
Sedang di tempat lain Wahyu sangat marah apalagi setelah mendapat kabar kalau gadisnya Yuda sudah kembali.
Wahyu masih sangat penasaran siapa sebenarnya yang menyekap anak buahnya. "Berarti ada orang lain yang tidak suka dengan Yuda," fikir Wahyu.
"Aku sangat membenci dirimu Yuda, karena kau dan orang tuamu, aku kehilangan orang yang aku sayangi, dan kasih sayang kakek juga tertujuh padamu.
Aku merindukan sosok ibuku, saat dia berkata yang terakhir kalinya aku tidak mampu menjawab. Saat itu aku pingsan karena ibu ingin mendonorkan ginjalnya kepada seorang gadis kecil di desa, tepatnya di sebuah rumah sakit berkembang.
Semuanya ada disana. Ayah ibunya Yuda juga disana menyaksikan semuanya.
__ADS_1
Entah apa alasan kakek sebenarnya, sampai perusaan saham jadi milik Yuda." Wahyu sedang melamun mengenang kejadian saat ibunya menghembuskan nafas terakhir.
Tiba tiba lamunannya dibuyakan dengan nada dering telpon genggamnya. Seseorang memanggil.
"Haloo bos... "
"Iya, ada apa menelponku.
Bagaimana perkembangan yang kau dapat disana. Apa ada berita tentang gadis yang bersama Yuda ?" Tanya Wahyu.
"Iya bos kami sedang menyelidikinya. Dia tinggal di apartemenya Yuda. Untuk saat ini kami belum mengetahui jelas dia berasal dari mana." Jawab si penelpon, yang ternyata anak buahnya Wahyu.
"Apa tinggal bersama, memang apa ikatan mereka ?
Telusuri terus gadis itu berasal dari mana ?
Kemungkinan ini ada kaitannya dengan ibu mendonorkan ginjalnya." Perintah Wahyu.
"Baiklah bos" Anak buahnya Wahyu mengakhiri telponnya.
Saat tiba di Pasar Yuda sudah tidak sanggup lagi berjalan melihat banyaknya ikan, daging sayuran,buahan mentah, semuanya berseliweran disana.
Ueeeeekkk...
Ueeeeeekkkh...
Yuda memuntahkan semua isi perutnya, karena ini kali pertama dia menginjakkan kaki dipasar, sedang Hana biasa saja.
Ronal berlari secepatnya mencarikan air untuk tuannya.
"Om, sebaiknya kita pulang saja, aku kasihan padamu, badanmu sangat pucat.
Apa om sedang sakit ? Lain kali saja kita belanja. Baru ingin masuk saja om sudah muntah seperti itu" Ucap Hana
"Tapi Hana aku sudah berjanji padamu akan berbelanja bersama."
"Aku tau om tidak terbiasa dengan keadaan seperti ini, sudahlah dari raut wajah om kelihatan sangat pucat, jangan memaksa lagi. Aku takut terjadi sesuatu pada om. " Jawab Hana.
"Tuan, di bilangin juga apa. Dari tadi aku melihatmu kurang yakin, tetapi tuan selalu marah. " Balas Ronal.
Sementara Yuda tidak bicara lagi, hanya terus berjalan diam saja tanpa suara masuk kemobil.
"Lain kali om tidak perlu berbelanja seperti ini. Biar aku yang melakukannya" Ucap Hana saat sampai di mobil, sambil memberikan air yang di bawakan Ronal untuknya.
"Lihat bajumu om, sebaiknya kita pulang ke apartemen, dan om Ronal kita singga beli makanan untuk om Yuda." Perintah Hana.
"Baiklah nona." Ronal menjawab sambil melajukan mobil yang dibawahnya.
__ADS_1
Sementara Yuda sengaja tak berkomentar sedikitpun, karena dia sangat senang mendapat sedikit perhatian dari gadis kecilnya itu.