
Dari kejauhan terlihat rumah sederhana yang nampak sangat asri, suasana perkebunan menambah keindahan rumah kayu itu membuat orang yang akan melewatinya merasa begitu betah berada dipedesaan.
Berbekal alamat yang diberikan neneknya Hana, Yuda dan Ronal akhirnya sampai disini.
Ya, ini kali pertama Yuda datang kerumah orang tua Hana. Nampak dari rumah itu seorang gadis kecil sedang memainkan bonekanya, duduk di bawah pohon yang rindang. Yuda mendekati gadis itu.
Gadis itu terlihat cantik seperti Hana, kalau ditebak ini pasti Hanum adiknya yang terbaring dirumah sakit waktu itu.
"Hai cantiiik... Bagaimana kabarmu ?"
"Eh, om siapa ya, aku kayaknya perna lihat om de."
"Ayo tebak dimana...?"
"Oooh aku ingat sekarang, om pacarnya kak Ros yang waktu itu sempat jenguk aku dirumah sakit kan ?" Mendengar ucapan gadis kecil didepannya wajah Yuda jadi cemberut.
"Salah...Kalau gitu aku akan perkenalkan diri lagi ya.
Namaku Yuda, kamu bisa panggil aku kak Yuda karena aku belum menikah, jadi tidak pantas dipanggil om, dan aku bukannya pacar kak Rosalin, tapi aku orang yang dijodohkan dengan kakakmu Hana."
Yuda menjelaskan panjang lebar membuat Hanum merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Ini benaran kak Yuda, seperti cerita ayah dan ibu ya ? Kalau gitu dimana kak Hana ?"
"Maaf, kak Hana belum bisa ikut, dia masih ikut perlombaan dek. Nanti kalau lombanya kak Hana selesai baru kak Hananya bisa pulang.
Oh iya nama kamu Hanum kan ? Bapak sama ibu mana dek ?"
Dengan raut wajah yang sedih karena kakaknya Hana tidak datang, Hanum tetap ramah dan menjawab ucapan Yuda dengan nada sopan.
"Iya kak, namaku Hanum. Kalau Bapak belum pulang dari kebun, Ibu ada didalam. Kakak tunggu saja biar aku panggilkan Ibu."
"Tidak usah dek biar kakak saja yang kesana."
Dari kejauhan asisten Ronal sedang menenteng tas berukuran besar berjalan mendekati mereka.
"Bos, ini barangnya mau dibawah masuk kerumah nona ?" Ronal
"Jangan tidak usah Ronal, berikan saja pada Hanum, semua itu oleh oleh untuknya." Yuda
Sambil tersenyum Ronal menyerahkan hadiah itu.
"Apa ini kak ? Kok banyak sekali barangnya." Hanum.
"Coba buka saja dek, itu hadiah untukmu." Yuda menimpali.
__ADS_1
Dengan senang hati Hanum membukanya, kini wajahnya sudah terlihat bahagia saat melihat apa isi tas itu.
"Ya ampuuun kak, terimakasih kakak sudah beliin Hanum boneka panda lucu ini, bagus kak Hanum senang sekali punya boneka yang baru seperti ini.
Wah ini banyak sekali hadiahnya kak, dan ini ada 4 setel pakaian, coklat, buah, snack.
Kaka baik sekali aku tidak menyangka akan dapat hadiah sebanyak ini."
"Hanum, Hanum, dengan siapa kamu berbicara nak ?"
Melihat ada orang yang sedang menghampiri Hanum, akhirnya ibu datang mendekat.
"Ibu cepatan kesini, lihat deh siapa yang datang."
"Ini kamu nak Yuda !"
Dengan sopan Yuda kembali mencium tangan wanita didepannya itu, Ronal juga mengikuti.
"Iya bu, ini saya Yuda. Bagaimana kabar kalian bu ?"
"Kami baik baik saja nak. Dimana Hana ?Kenapa ibu tidak melihatnya."
Lagi lagi mereka menanyakan Hana. "Anu bu, Hana... Hana..."
"Mama... Siapa itu." Belum habis Yuda menjawab ayahnya Hana berteriak dan berlari kecil menghampiri kami.
"Eh ada Yuda ya, kapan kamu datang nak ?"
"Baru saja ayah, aku bersama Ronal sedang menyelesaikan pekerjaan.
"Bagaimana kabar Hana sekarang nak Yuda ? Dia baik ayah, tapi sekarang Hana sedang berada di asrama."
Binar bahagia menghiasi raut wajah ayah dan ibunya Hana ketika mendengar penuturan Yuda.
"Jadi, kamu mengizinkan Hana mengikuti lomba itu ?" Tanya Ayah.
"Iya ayah, aku sudah bersepakat dengannya, tapi maafkan aku karena kedua orang tuaku tidak mengetahui tentang Hana." Kini Yuda menjadi sedih.
"Sudahlah nak, kamu jangan sedih lagi. Semua ini sudah menjadi takdir Hana, dia adalah anak yang baik, dan dengan kecerdasan yang tidak dimiliki orang lain ia punya mimpi yang tinggi, tetapi kami orang tuanya masih belum sanggup memenuhi keinginannya itu, kita doakan yang terbaik saja buat Hana." Terang Ayah.
"Maksud Ayah, kecerdasan yang Hana miliki apa ayah."
"Loh loh, Hana belum cerita ya...
Dulu semenjak pertama kali pergi ke hutan seberang Desa ini, saat itu Hana tersesat ia berubah drastis entah apa yang terjadi, mulai menyendiri melakukan percobaan percobaan aneh, bahkan ayah dan ibu perna melihat Hana berbicara dengan orang orang hebat, kecerdasannya juga melebihi kecerdasan orang dewasa, itu sebabnya Hana diutus menjadi satu satunya perwakilan dari sekolah bahkan mewakili negaranya untuk bersaing secara Nasional.
__ADS_1
Tetapi semenjak neneknya menjodohkan kalian, Ayah dan ibu mulai putus asa, namun kau ternyata adalah anak yang baik nak. Tolong jagalah Hana, ayah titip dia padamu, kuharap kau akan selalu membantu mewujudkan mimpinya."
"Itu pasti ayah, aku akan selalu mengingat pesan darimu, kuminta untuk saat ini ayah jangan katakan pada siapapun kalau aku telah mengizinkan Hana mengejar impiannya.
Oh iya maksud ayah percobaan percobaan aneh itu seperti apa ayah ?"
Ayah dan ibu saling berpandangan.
"Bukan hal yang berbahaya nak, dia berhasil membuat ramuan ramuan herbal, yang entah dipelajarinya dari mana.
Jangan khawatirkan soal itu nak Yuda."
Ronal yang juga ikut mendengarkan ucapan Ayahnya Hana tidak begitu kaget karena sudah sedikit mengetahui tentang Hana.
"Tapi dimana nona kecil itu belajar semuanya, atau jangan jangan memang apa yang Yuda katakan soal bangunan tak terlihat itu benar adanya ?
Aaah sudahlah, sepulangnya aku akan membahas kecurigaanku ini pada Yuda." Batin Ronal.
"Ehmm Ayah, ibu, aku tidak bisa berlama lama dengan kalian."
"Ya sudah nak, jaga diri kalian, kami selalu percaya padamu." Setelah berpamitan, Yuda mengambil sebuah amplop dan menyerahkan ke ibu.
"Ibu ambil ini untuk keperluan ibu."
"Astaga, ini apa nak, ibu tidak bisa menerimanya."
"Ibu itu hanya sedikit uang, aku sengaja memberikan untuk ibu, jangan anggap aku seperti orang lain bu." Karena Yuda terus memaksa, dengan berat hati ibunya Hana terpaksa menerimanya.
"Hanum, jaga diri ya dek, sekarang kakak mau pulang dulu. Hana pasti sangat senang ketika melihatmu sudah sembuh seperti ini."
"Iya kak, terima kasih untuk hadiahnya, salam sama kak Hana, aku merindukannya."
Setelah berpamitan Yuda dan Ronal pulang dan kembali mengantar mobil milik direktur Rumah sakit Nugraha. Kemudian melaju kearah dimana ia memarkir jet pribadinya...
Sedang di tempat lain Hana masih saja terus meneliti dan dia mulai melanjutkan bacaan bukunya.
Tiba tiba saja Hana memikirkan Yuda.
"Entah bagaimana kabarnya, mungkin om Yuda sedang sibuk sehingga belum mengabarinya.
Apa sebaiknya aku yang menghubunginya ?"
Aaaahkkk... Sudahlah. Biar om Yuda yang akan menghubungiku."
Ceritanya makin seru, sebenarnya apa yang terjadi dengan Hana, sehingga memiliki kecerdasan yang luar biasa.
__ADS_1
Jangan lupa terus like, ikuti dan tambah ke favorite.
Bersambung dulu ya kakak 🙏🙏🙏