
Hana menjabarkan semua asumsinya terhadap tumbuhan yang menjadi bahan percobaannya.
Penjelasan dari anak gadis kecil ini membuat mereka tidak percaya dengan apa yang ia lakukan. Setelah selesai berasumsi, ia kembali mempraktekkan penyuntikan sebuah virus terhadap seekor binatang.
Alangkah terkejutnya mereka, Anak seekor sapi yang terbaring lemah tidak berdaya didepan mereka, kini sudah berdiri dalam sekejap, setelah Hana menyuntikkan virus yang dibuatnya ke seekor sapi itu, sebuah uji coba yang berhasil dilakukan.
"Luar biasa, kamu berhasil Hana, tidak ada kelainan ataupun penyakit yang terdeteksi pada hewan ini." Ucap Direktur Yayasan Universitas Kedokteran ini, atau dikenal dengan nama Pak Bambang.
"Aku kagum, pada profesor kecil kita, dia layak menyandang gelar itu, semoga saja akan ada anak jenius berikutnya yang menjadi penerus dan berbakat sepertinya." Ucap salah seorang anggota Organisasi LIPI.
Setelah selesai uji coba Lab beberapa orang yang ada di Lab mulai berdatangan dan menyambut Hana. Berbeda dengan kedatangannya tadi, tidak ada satu orang pun yang menyapanya, kecuali petinggi petinggi disini, karena mereka iri kenapa petinggi mereka sangat menghargai Hana, yang hanyalah seorang gadis kecil. Setelah melihat dengan mata kepala mereka barulah mereka menyadari dan percaya dengan apa yang gadis kecil itu lakukan.
Dreeeeet...
Getaran telpon genggam Hana tiba tiba mengagetkannya. Ada pesan dari Yuda masuk di whatsappnya.
"Hai Hana, bagaimana kabarmu sekarang ?
Kamu dimana ? Aku ada di depan asrama mengantarkan kamu makan siang."
Mendapatkan pesan whatsapp itu, Hana bingung berkata apa. Sedang saat ini dirinya tidak berada diasrama.
"Aduuuh... Bagaimana ini, om Yuda ada di asrama. Apa yang harus aku katakan !"
Steven yang dari tadi sedang memperhatikan gerak gerik Hana yang sangat gelisah, akhirnya ia mendekat menghampiri Hana.
"Hana, kamu kenapa ? Aku perhatikan kamu sangat gelisah."
"Ini kak, aku bingung saat ini om Yuda ada di depan asrama membawakan makan siang untukku, aku tidak tahu harus jawab apa padanya."
"Katakan saja Kamu sedang diluar mencari tugas referensi bersama saya, biar makan siangnya di titip ke ibu asrama, biar Yuda tidak terlalalu lama menunggu."
Hana mengikuti ucapan Steven dan segera membalas pesan whatsapp Yuda sesuai apa yang Steven katakan.
Sedang Yuda yang baru saja membaca isi pesan itu, raut wajahnya langsung berkerut, ia tidak menyangka kalau Hana akan pergi berdua dengan Steven.
"Aahhhk sial, perasaan apa ini ? Kenapa aku mesti kesal ketika Hana berjalan dengan laki laki lain."
"Ronal, antarkan saja makanan ini kepada ibu asrama, lalu kita pergi dari sini. Aku tidak ingin berlama lama ditempat ini." Tukasnya sembari memberikan makan siang ke tangan asistennya Ronal.
Sesaat setelah Ronal keluar dari dalam mobil ia mencoba mengirimkan pesan whatsapp lagi, tetapi kali ini untuk Steven temannya.
"Bro, awas jangan macam macam pada gadis kecilku, kalau dia sampai kenapa kenapa aku tidak akan memaafkanmu."
__ADS_1
Steven yang membaca isi pesan dari Yuda, tersenyum kecut saat membuka telpon genggam miliknya.
"Hahaha...Yuda, ini sebuah ancaman atau apa, kenapa kamu marah hanya kepada gadis kecil ? Apa kamu mulai mencintai atau hanya memanfaatkan Hana saja, aku tidak akan membiarkan ini jika kamu punya maksud lain." Batinnya.
"Steven, setelah ini aku mengundang kalian bersama Hana untuk makan siang denganku."
"Baiklah Bambang kita langsung kesana saja, karena setelah ini aku harus mengantar Hana kembali ke asramanya."
Bambang kemudian menyebutkan sebuah alamat yang akan menjadi tempat mereka makan siang, dan pergi lebih dulu meninggalkan bangunan besar itu.
Sedang Steven dan Hana berpamitan kepada semua orang yang ada disitu.
"Profesor Hanaya Rafael, kapan kau akan datang ? Organisasi kita akan mengadakan rapat besar dan diikuti semua orang yang tergabung dalam organisasi." Saat Steven dan Hana ingin pergi meninggalkan tempat itu, seseorang dari anggota organisasi LIPI menghampirinya.
"Aku belum bisa jawab, nanti kalian akan kuhubungi kembali, kami akan segera pergi."
Steven melajukan mobilnya ketempat dimana Bambang mengundang mereka.
"Kak Steven kita kemana ?"
"Tadi pak Bambang mengundang kita makan siang bersama."
Merekapun turun dan masuk disebuah restoran yang sangat mewah. Dari jauh terlihat Bambang sudah duduk didepan meja makan sedang menunggu kedatangan dua orang yang sangat penting.
"Mari silahkan duduk Profesor kecil." Ucap Bambang.
Pelankan suaramu, jangan sampai ada orang yang mengetahui siapa aku." Jawab Hana.
"Benar bro, kita tidak boleh membongkar identitas Hana. Kalau sampai itu terjadi pasti akan banyak orang yang mengincarnya. Itu berarti nyawanya dalam bahaya.
Kau lihatkan, jika kita menyebutnya seperti itu orang akan menganggap kita gila, anak sekecil dia sudah jadi peneliti dunia." Tukas Steven.
"Ya sudah duduklah, mari kita makan saja." Bambang.
Tanpa menolak, ketiga orang orang hebat itu makan bersama. Siapa sangka gadis kecil yang sedang duduk di kelas 3 SMP itu adalah seorang ilmuan dunia yang sudah mendapat gelar profesor akibat kepiawaiannya meramu jenis jenis obat. Tiba tiba pak bambang membuka suara.
"Hana kirimkan aku file biodata dan identitasmu, dan beberapa bukti penghargaan yang perna kau dapat."
"Tapi untuk apa meminta semuanya, bukankah organisasi sedang merahasiakan identitasku sebenarnya."
"Aku mendapat tugas dari Departemen Pendidikan Nasional untuk melengkapi datamu dalam hal pembuatan Ijazah S1 dan S2, untuk itu kau wajib mengirim beberapa penghargaanmu termasuk identitasmu sebagai profesor."
"Bagaimana kalau orang lain mengetahuinya ? Aku rasa belum saatnya Bambang, soal itu jangan kita bicarakan dulu." Jelas Steven panjang lebar yang langsung memotong percakapan.
__ADS_1
Bambang membuang nafas kasar. "Kalau begitu aku ikuti saja permainan kalian, aku juga hanya melakukan yang terbaik."
Bambang berdiri menuju kasir membayar nota makanan yang tadi mereka pesan.
Sementara Steven berjalan keluar di ikuti Hana yang melangkah di belakangnya.
Doooar... Doooar...
Seseorang dari dalam mobil pick berwarna hitam mengarahkan tembakan ke arah Hana, spontan Steven berlari dan mendorong Hana sekuat tenaga. Namun naas tembakan sempat mengenai lengan tangan kanan Hana.
"Aaaahkkk... Sakit kak, tolong aku." Ucapan Hana sambil menangis, ia pingsan dan ambruk ketanah.
Mobil yang menembak Hana, melaju pergi dari tempat itu.
Bambang yang baru saja keluar dari pintu sangat panik ketika melihat darah bercucuran memenuhi pakaian yang dipakai Hana."
"Hana, Hana, Bangun ayo buka matamu..." Steven berteriak histeris melihat Hana sudah mengeluarkan banyak darah di lengannya.
"Ini kenapa Steven, kenapa Hana mengeluarkan banyak darah."
"Tadi ada mobil pick berwarna hitam, tiba tiba saja langsung menembak Hana. Mereka langsung pergi begitu saja. Aku juga bingng itu siapa."
Penghuni rastoran yang keluar masuk menjadi panik, melihat ada gadis kecil terkena tembakan.
"Bambang, cepat kita angkat Hana, bawah dia kerumah sakitku saja karena tidak jauh dari sini, sebelum dia kehabisan darahnya."
Secepatnya Steven dan Bambang, mereka berdua membawa Hana ke rumah sakit milik Steven.
Mengetahui yang membawa gadis kecil itu adalah seorang direktur rumah sakit ini, dan satunya adalah direktur yayasan universitas kedokteran seketika para dokter dan perawat berhamburan menangani pasien yang dibawah petinggi mereka.
"Ayo cepat bawah dia keruangan khusus petinggi, lukanya sangat parah." Teriak Steven yang sudah sangat ketakutan.
"Para medis bekerja dengan sangat baik, mereka sadar bahwa gadis ini adalah orang yang istimewa sehinga ia bisa ditolong oleh orang hebat itu."
Lampu di ruang ICU masih saja terus berkedip, sebagai tanda pasien gawat darurat
Mondar mandir Steven dan Bambang saling bertatapan, Keduanya ketakutan dan sedang memikirkan siapa orang yang telah berani menembak Hana disiang bolong.
"Apa barangkali Hana punya musuh, sepertinya target mereka memang Hana. Tapi siapa mereka, siapa orang orang itu ?"
Steven terus saja melamun, ia mengajak Bambang masuk keruangan khususnya untuk membahas ini. Tetapi sebelum itu mereka masuk melihat Hana.
"Untung saja tembakan hanya mengenai lengannya. Saatnya kita mengeluarkan peluru yang masih menancap di lengan Hana." Ucap Steven yang disetujui Bambang.
__ADS_1
Bersambung...
Terus like, vote dan tambahkan ke favorite kaka biar bisa up lagi.