
Saat seorang wanita bernama Tiara yang menyamar sebagai suster itu, baru saja melewati kedua dokter yang sedang bercakap cakap, tidak sengaja ia mendengar tentang pembicaran soal anak kecil yang kena luka tembak diberlakukan istimewa terhadap direktur rumah sakitnya.
Merasakan mendapatkan durian jatuh, informasi itu sangat penting baginya, orang yang menyamar itu segera menghubungi teman temannya dan mencoba mengikuti dua dokter yang sedang bercakap itu.
Sampai didepan ruangan dokter ia mengikuti jalan seseorang pekerja rumah sakit yang sedang mendorong makanan lalu mengambil alih pekerjaannya.
Merasa tidak ada yang curiga atau pun mengintai, dia melancarkan aksinya dengan memberi sedikit bubuk racun pada makanan, lalu mendorong makanan itu keruangan dimana Hana saat ini sedang dirawat.
Tap Tap Tap
Langkah kaki orang Tiara berjalan keruangan Hana. Namun tak disangka Steven yang juga berjalan kearah ruangan Hana melihat gerak gerik aneh dengan suster pembawa makanan itu.
"Hei, makanan yang kau bawah ini akan dibawah keruangan mana."
"Keruang khusus pasien yang sedang tertembak itu." Jawab suster itu.
Steven mendahului langkah Tiara dan berjalan lebih dulu. Saat ia merasa mencurigakan akhirnya Steven membalikkan tubuhnya kembali ke arah suster.
"Mana petugas makanan yang biasa mengantar makanan ke ruangan ini." Tanya Steven tiba tiba.
"Dia sedang mengerjakan tugasnya mengantar makanan diruang lain, makanya aku membantunya mengantar makanan ini kesini."
"Kamu baru dirumah sakit ini, sepertinya aku baru melihatmu ?"
Ucapan Steven membuat orang yang menyamar itu mulai ketakutan.
"Apa laki laki di depanku ini mulai mencurigaiku." Batinnya.
Tiara sedikit ragu mengantar makanan karena Steven terus memperhatikannya. Sesaat saat ingin membuka pintu ruangan kamar Hana, secepat kilat Steven menggenggam erat tangan suster itu.
Aaaawww... Rintih wanita itu.
"Tungguuu... Kau ikut keruanganku sekarang." Steven dengan tatapan marah menyeret tangan wanita itu sampai ia tak memberikan kesempatan untuk kabur pada wanita itu.
Sampai di dalam ruangan Steven melemparkan gadis itu kesudut ruangan.
"Apa yang kau lakukan padaku ?"Tanya gadis itu.
Praaaaak praaaak...
Steven menampar wajah gadis itu, ia sangat marah.
"Siapa yang menyuruh kau ? Dan apa yang ingin kau lakukan dikamar Hana ?" gertak Steven.
"Maksudmu apa dok, aku hanya membantu."
"Aku pemilik rumah sakit ini, kau jangan membantahku, setiap orang yang bekerja disini atas izinku dan aku mengenali seluruh wajah orang yang ada dirumah sakit ini."
__ADS_1
Seketika Tiara diam, badannya bergetar dan merinding ketakutan. Terbata bata ia menjawab.
"Maaf aku hanya melakukan pekerjaanku."
Steven yang sudah sangat marah melihat wanita di depannya ini langsung menahan tangan wanita itu.
"Jika kau tidak mengatakan siapa yang menyuruhmu melakukan itu, baiklah aku akan membuat perhitungan denganmu."
Tanpa sungkan Steven langsung saja mengambil suntikan di lemari kerjanya, lalu ia menyuntikkan sesuatu di bahu wanita itu.
"Aaaaaaghhh...
Apa yang kau lakukan padaku, tolong lepaskan aku."
"Hahaha... Aku akan melepaskanmu setelah ini."
"Kau akan mati perlahan lahan karena virus yang aku suntikkan itu sangat mematikan, waktumu satu bulan untuk memberikan informasi yang akurat padaku setelah itu kau akan kulepaskan, jika dalam satu bulan kau tidak memberi tahu siapa yang mengirimmu maka jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu.
Hahaha..."
Tangis Tiara ketika merasakan sekujur tubuhnya seperti mengalir sesuatu yang mematikan, ia benar benar tidak mampu akan melakukan apalagi, semua ini ia lakukan hanya semata ingin membantu ibunya yang juga sedang terbaring sakit, karena seseorang menjanjikan upah yang besar, ia terpaksa nekat melakukan perbuatan keji ini.
"Sekarang ayo pergilah, silahkan pergi kemana pun yang kau suka karena sebentar lagi kau akan mati.
Kau jangan khawatirkan, aku sudah memasukkan alat pelacak didalam tubuhmu
Sedang Steven sudah mengambil alat komunikasi gadis yang baru saja disuntikkan virus itu dan menukar alat pelacak yang dimasukkan didalam tubuhnya, ia kemudian menghubungi ketua LIPI lalu pergi membawanya ke organisasi mereka.
Steven pergi secepat mungkin, ia tidak memberitahu pada Yuda ataupun Hana kalau dirinya sedang keluar, karena sampai detik ini ia merasa kasus Hana ada hubungannya dengan Yuda.
Orang orang yang mengetahui alat komunikasi mereka telah dipegang orang lain, segera mundur dan pergi dari rumah sakit, mereka yakin saat ini Tiara kedapatan dengan rencana jahatnya, mereka tidak ingin mengambil resiko.
Yuda dan Hana yang menghabiskan waktu bersama didalam ruangan itu, tidak mengetahui apa yang terjadi diluar ruangan.
"Kak Yuda, apa besok aku sudah bisa pulang ?" Tanya Hana.
"Kalau Steven sudah datang nanti aku tanyakan padanya.
Kalau aku tidak ada, kamu jangan terlalu memaksa dan jaga kesehatan Hana, aku tidak bisa terus berada disisimu. Ada hal yang sangat penting harus aku lakukan setelah aku pergi dari tempat ini." Ucap Yuda dengan nada sedih.
"Iya kak, memangnya kakak kenapa sampai sedih seperti itu."
"Entahlah Hana, aku juga bingung perusahaanku saat ini sedang dalam bahaya banyak kontrak kerja sama yang memutuskan secara sepihak, akibat pembuatan barang palsu yang dikeluarkan dari perusahaanku."
Dalam hati Hana berfikir. "Jadi benar yang kak Steven ucapkan waktu itu kalau Yuda punya perusahaan, apa benar nenek menjodohkan aku karena ini ?"
"Memangnya kak Yuda benaran memproduksi barang palsu itu ?" Tanya Hana.
__ADS_1
"Bukan aku pelakunya de, tetapi dalangnya masih berkeliaran di perusahaanku, untuk itu aku butuh waktu menyelidiki semuanya, bahkan semua kejadiannya tepat bersamaan saat kasus penembakan yang dilakukan padamu.
Untung saja waktu itu adikku Yaksa memberitahu aku soal penembakanmu."
"Oh Yaksa yang dimonitor lebar itu kan kak, lalu kenapa dia bisa mengetahui terjadi sesuatu padaku ?"
"Aku yang menyuruhnya menjagamu Hana, maafkan aku jika aku terlalu khawatir padamu. Kamu ingat kan adikku itu adalah hacker hebat yang jenius."
"Ia kak aku ingat kok."
Meski masih menyimpan banyak tanda tanya Hana tetap saja tidak terlalu bertanya pada Yuda. Ia merasa kagum saja pada sosok Yaksa yang berada di Luar Negeri bisa memantau keberadaannya di Indo, luar biasa.
Ternyata anak anak jenius itu punya keahlian masing masing sama seperti dirinya yang masih menyembunyikan identitas sesungguhnya, bahkan ayah dan ibunya tidak perna terlalu tahu soal kejeniusan yang ia miliki.
Tiba tiba fikiran Hana terbesit sesuatu. "Apa Yaksa bisa membobol identitas tentang diriku, dan kak Yuda sudah tau siapa diriku, bagaimana ini.
Oh tidak, kalau sampai itu terjadi, bagaimana aku bisa mencari informasi siapa pendonor ginjal adikku dan maksud perjodohanku.
Aku harus bertindak cepat, semoga saja kak Yuda adalah orang baik, dan tidak ada maksud lain padaku.
Apa aku harus memberi tahu kak Steven persoalan adiknya kak Yuda ?
Ahhh sudahlah, kurasa tidak perlu. Aku akan mencari tahu sendiri tentang Yaksa...
"Hmmm... Melamun terus kerjaannya.
Hahaha...." Tiba tiba Yuda mengagetkan Hana sambil tertawa.
"Uuuh kak Yuda apa sih, emang kenapa kalau aku ngelamun."
"Kalau melamun tentang aku sih yah tidak ada masalah, tetapi jangan melamun yang lain."
"Kak Yuda berhenti, aku tidak sedang bercanda aaah..." Ucap Hana dengan setengah teriak.
"Iya iya adikku sayang, sekarang sudah malam ayo istirahat, kakak akan menjagamu disini."
"Kak Steven mana sih, seharian tidak muncul. Apa dia sudah pulang."
"Biarin aja dek, disini kan masih ada aku yang menemani, kamu jangan khawatir. Aku tidak akan meninggalkanmu sebelum Steven datang."
Perlahan Hana mulai mengantuk, karena Yuda sedang menyapu kepalanya dengan sebelah tangannya, penuh kasih sayang dan usapan yang lembut, membuat gadis kecil itu tertidur pulas. Yuda yang menyaksikan itu merasa bahagia bisa berlama lama dengan Hana di kamar ini.
Yuda sengaja tidak menghubungi Steven, karena besok ia akan pergi dan bekerja mengurus perusahaannya, itu sebabnya dia menghabiskan waktu seharian bersama Hana, sebelumnya juga dia sudah pamit ke Steven.
Bersambung Readers...
Jangan lupa Vote, like tambahkan favorite kaka, terimakasih juga untuk pembaca setiaku, mohon maaf jika masih banyak alur yang kurang tepat, Author hanya berusaha menulis semata belajar dan benar benar dibuat sendiri tanpa merekayasa atau menjiplak karya lain. Terimakasih untuk dukungan semuanya.
__ADS_1