
Yuda, Ronal, Danu dan juga satu karyawan sekaligus bisa dibilang sahabatnya Danu sebagai orang kepercayaan perusahaanya, mereka berempat makan siang bersama disebuah restoran ternama di kota Bandung.
"Oh ya Yud, bagaimana kabar adikku ?"
Danu bertanya untuk mencairkan suasana yang sedikit canggung itu.
"Hana baik baik saja Danu, dia sedang sibuk dengan belajarnya."
"Akhirnya. Aku bahagia Yuda, kamu bisa memberi izin untuk Hana."
"Iya Danu itu memang keinginannya dia.
Sudah berapa lama kamu mengelola perusahaan ini ?"
"Belum lama, baru juga beberapa bulan."
"Oh, memangnya dulu kerja dimana ?"
"Aku punya pabrik kertas."
"Hebat ya kamu Danu punya banyak usaha." Puji Yuda.
"Ah, itu cuma perusahaan kecil, tidak seperti punya kamu Yuda."
"Hmm.. Apa Danu sudah tau kalau aku punya banyak usaha ?" Batin Yuda.
Sedang Ronal dan karyawannya Danu sedari tadi hanya ikut menyimak pembicaraan kedua orang yang sok akrab itu. Padahal mereka baru saja saling mengenal.
"Cuuuihh.... Dasar penipu, penjual barang palsu. Hedee... Males gue kalau kayak gini, tujuan Yuda apa sih ? Masih saja meladani mereka." Maki Ronal dalam hati.
Ronal sangat kesal melihat tingkah Yuda yang jadi berubah baik, sedari tadi ia tidak perna bicara. Setelah selesai makan mereka berpamitan pada Danu untuk kembali ke Jakarta.
"Kamu kenapa Ronal ? aku perhatian dari tadi kamu lebih banyak diam."
"Heran deh sama bos aku ya... Perusahaan sudah bangkrut karena ditipu, masih juga mau menjalin kerja sama, kan aneh saja." Gerutu Ronal tanpa menatap wajah Yuda.
"Memangnya ada yang salah kalau aku bekerja sama dengan Danu ?"
"Yah jelas salah donk, masa penipu yang sudah menghancurkan perusahaan malah di ajak kerja sama.
Bagaimana tanggapan bapak presiden perusahaan jika tahu direktur utamanya malah mengajak kerja sama dengan pelaku yang sudah menjual barang palsu.
Atau jangan jangan alasannya karena nona Hana. Hahaha..."
"Ronal, diamlah. sekarang tutup mulutmu.
Tidak mungkin aku melakukan sesuatu jika tidak berfikir lebih dulu. Sekarang ikuti saja permainanku. Semua itu kulakukan hanya untuk memancing pelaku sebenarnya."
"Bagaimana masih memancing, sudah jelas Danu pelakunya masih saja mencari alasan.
Bos... Bos..."
__ADS_1
"Danu bukan pelaku sesungguhnya, aku yakin itu. Kau dengar sendiri apa yang dia ucapakan pada kita waktu direstoran itu. Dia baru beberapa bulan bekerja disana."
"Iya tetapi kenapa kau sangat yakin bos."
"Kamu lihat saja nanti Ronal, kenapa barukali ini kau meragukanku ? Apa karena Danu kakaknya Hana."
"Bukan begitu maksudku bos, aku hanya khawatir pada perusahaan."
"Sudah jangan terlalu berfikir salah. Jika suatu saat Danu terbukti bersalah, aku tidak akan diam saja Ronal.
Yuda dan Ronal pulang ke Jakarta kembali keperusahaan mereka, namun dalam hati Ronal masih penasaran apa yang menjadi misi Yuda saat ini.
...----------------...
Di tempat lain Steven yang baru pulang dari asrama untuk mengantar Hana, ia kembali pulang, dan rencananya dia akan bertemu Bambang.
Ketika sedang asik mengemudikan mobilnya, ia singgah sebentar dijalanan yang sepi lalu menghidupkan alat pelacaknya yang di pasang pada Tiara.
Saat ini Tiara sedang bertemu dengan beberapa orang, disebuah gudang tua yang terlihat sangat tertutup.
Dia sedang dipaksa berbicara, bahkan dia di tampar oleh beberapa orang di dalam bangunan itu, tangannya di ikat, namun sepertinya Tiara tetap diam meski mulutnya sudah mengeluarkan banyak darah. Tiara tahu saat ini Steven sedang menyaksikan orang orang itu menghajarnya, karena alat pelacak yang juga terpasang kamera ditubuhnya. Salah satu dari mereka seperti sedang menelpon seseorang.
"Setidaknya sebelum mati aku telah melakukan sedikit kebaikan untuk membongkar siapa pelaku sebenarnya, ini juga kulakukan demi ibuku." Batin Tiara sambil meneteskan sedikit air mata dipipinya.
Rasa kasihan mulai timbul di hati Steven, namun ia harus menahannya untuk mendapatkan bukti siapa sebenarnya yang berani melakukan itu pada Hana.
Sementara ditempat lain Rosalin masih kebingungan mencari Brams, sampai sekarang ia belum mendapatkan kabar Brams.
Tak terasa ia meneteskan air mata, entah karena memikirkan Brams atau apa, sakit rasanya jika Brams benar benar pergi meninggalkannya, tetapi di satu sisi ia masih memikirkan balas dendamnya.
Dreeet... Dreeet...
Telpon seluler miliknya kembali berdering.
"Halo nyonya ada yang ingin kami sampaikan padamu.
"Iya halo, ada apa ? Brams ada disitu ?" Tanya Rosalin pada penelpon.
"Brams, tidak ada disini nyonya, sudah berapa hari ia tidak perna kesini."
"Oh, kemana perginya Brams ? nomor saja tidak ada yang aktif. Bagaimana dengan pekerjaan kalian ?"
"Kami tidak tahu mengenai Brams nyonya. Masalah pekerjaan kami belum bisa membunuh anak itu."
"Kalian belum melakukannya ada apa ?"
"Maaf kami belum mendapat kesempatan, sangat sulit menembus pengawalan ketat pada gadis yang menjadi target itu."
"Aku tidak ingin alasan kalian, cepat lakukan. Sangat rugi aku membayar mahal untuk kalian." Perintah Rosalin.
"Iya nyonya, apa kau bisa datang ke markas gudang. Ada hal yang ingin kami katakan."
__ADS_1
"Ada apa, katakan saja padaku sekarang."
"Kami sedang memberi hukuman untuk Tiara, karena dia gagal melakukan aksinya dirumah sakit, kami juga mencoba bertanya padanya tetapi ia tidak mau bicara."
"Apa, maksudmu dia gagal karena apa ?
Coba katakan yang jelas." Bentak Rosalin.
"Sepertinya Tiara tertangkap basah ingin melakukan pembunuhan. Orang yang menjadi pengawal gadis itu telah menyuntikkan sesuatu padanya."
"Baiklah aku akan datang dan bertanya langsung padanya."
Sesaat Rosalin melupakan Brams, ia terburu buru keluar dari kantornya dan langsung saja menuju arah jalan gudang yang saat ini menjadi markas para penjahat bayaran. Tidak sampai satu jam Rosalin sampai ditempat itu.
Disana ia melihat seorang gadis tidak berdaya, tangannya sedang di ikat, mulutnya mengeluarkan darah akibat habis dipukuli para komplotan penjahat.
"Lepakan ikatannya." Perintah Rosalin.
Komplotan penjahat itu menuruti keinginan Rosalin, dan salah satu dari mereka memberikan kursi untuk Rosalin.
Steven yang sedang menyaksikan seorang wanita cantik masuk keruangan itu begitu terkejut.
"Kupastikan inilah pelaku utama, lihat saja semua orang tunduk padanya.
Siapa gadis ini ?
Lalu apa hubungannya dengan Hana ?" Guman Steven.
Tidak lupa Steven menscreen shout gambar wanita itu, lalu segara dikirimnya ke organisasi.
Sedang Rosalin duduk di hadapan Tiara. dalam hati Tiara tertawa.
"Hahaha.. akhirnya kena kau, gadis bodoh. Pasti orang itu sudah melihat dengan jelas wajahnya, tidak sia sia aku mengorbankan diri sebelum akhir kematianku." Batin Tiara.
"Tiara, ceritakan padaku kenapa kau bisa tertangkap." Gertak Rosalin yang membuat Tiara menjadi gagap.
Sambil mengeluarkan air mata Tiara menceritakan bagaimana ia bisa tertangkap, lalu tubuhnya telah disuntikkan virus mematikan dia tidak akan bisa hidup bertahan lebih lama, itu sebabnya dia terdiam.
Lain halnya Rosalin ia terlihat begitu marah, tetapi ia masih tertawa.
"Hahaha... Kasihan benar nasibmu Tiara, sangat rugi aku membayarmu puluhan juta. Kali ini aku memaafkanmu mengingat hidupmu yang sebentar lagi akan mati. Satu hal yang harus kau ingat jangan ceritakan apapun tentang misi kita, jika tidak aku akan membunuhmu sekarang juga."
"Ja jangan bunuh saya nyonya, baiklah saya berjanji tidak akan menceritakan apapun pada orang lain."
"Pergilah sekarang Hahaha.... " Perintah Rosalin.
"Kenapa kau membebaskan Tiara nyonya ?" Tanya seseorang yang menjadi anak buahnya.
"Biarkan saja, sebentar lagi dia akan mati. Jangan pedulikan dirinya."
Bersambung....!!!
__ADS_1