Aku Dijodohkan Saat SMP

Aku Dijodohkan Saat SMP
Kedatangan Ibu


__ADS_3

Diperjalanan Hana tertidur disamping Yuda. Tidak sadar kini Hana tidur di bahu Yuda. Melihat wajah imut Hana yang memerah akibat tamparan wanita itu, rasanya Yuda tak bisa memaafkan siapapun. Apalagi kejadian itu terjadi di rumah Keluarga keluarga gadis kecilnya membuatnya berfikir sejenak.


"Aku akan bertanya pada Hana soal gaun ini. dan juga tentang Rosalin yang saat kejadian tidak berada di tempat.


Rasanya aku perlu mencari tahu lebih dalam soal hubungan kekeluargaan Hana dengan Rosalin. Seperti yang aku lihat tadi, tantenya Serina juga tidak membantu Hana sat di tindas.


Aku berjanji dengan diriku sendiri tidak akan membiarkan Hana disakiti siapa pun baik itu dari keluarga yang ingin menyakitinya." Sebuah tekad yang kuat muncul di kepala Yuda.


Sampai di kediaman mereka, tak tega Yuda membangunkan Hana. Akhirnya dia menggendong Hana masuk ke dalam Apartemen yang di bantu Ronal membukakan pintunya.


Yuda masuk dan membaringkan Hana di tempat tidurnya kemudian membuka sendal high heeels yang di pakainya.


"Ronal, pekerjaan mu sudah selesai, sekarang sudah malam. Sebaiknya kamu pulang dan jangan menggangguku." Yuda mengusir asistennya untuk pergi dari situ.


Ronal pamit pulang, dia sangat memahami bos besarnya itu dan pergi dari Apartemen. Tak ingin mengganggu kedua insan itu lagi, Ronal kini melaju pulang ke kediamannya.


Tengah malam Hana mulai menggigil, dan memanggil manggil ibunya, Yuda yang belum tidur, masih memeriksa data tentang keluarga Hana diruang kerjanya mendengar suara dari kamar Hana.


Secepatnya Yuda bangkit dan menuju kamar Hana. Dilihatnya Hana gemetaran suhu tubuhnya sangat panas sekali, sambil terus menggigau menyebut ibunya.


"Hana kamu kenapa, badanmu sangat panas sekali." Tak ada jawaban dari mulut Hana.


Yuda secepatnya mengambil selimut untuk Hana, saat sudah tidak terdengar suara dari mulutnya, tiba tiba Hana menggenggam kedua tangannya.


"Nenek aku akan meneliti tentang tumbuhan Aglonema, bantu aku nek menyelesaikan semuanya." Hana menggigau lagi. Yuda berfikir sesaat menghentikan aktifitasnya.


"Apa maksud adik kecilku ini, dan Nenek, siapa nenek yang dalam mimpinya itu ? Apa nenek Sima belajar tentang penelitian." Semakin bingung Yuda menerka nerka. Banyak hal yang di ucapkan Hana. Hingga semalam suntuk dia menjaga Hana.


Saat bangun pagi Hana kaget bukan main, seorang lelaki tertidur disamping kasurnya dalam keadaan duduk.


"Om Yuda, kenapa tidur disini ? Apa yang terjadi denganku, Kenapa diloyang ada air ?" Kebingungan Hana mencoba mengingat kejadian semalam, dan seingatnya dia tertidur di mobil.


"Oh tidaaak.... " Hana berteriak memikirkan telah terjadi sesuatu dengannya. Hingga mengagetkan Yuda dari tidurnya.


"Ada apa, ada apa Hana ? " Yuda bangun dan langsung berdiri.


"Hiks... hiks... hiks...


Om, om apa yang telah om lakukan padaku, kenapa om ada disini." Sambil menangis Hana bertanya.


"Astaga Hana, kamu ini mengagetkan tidurku saja. Bukannya berterima kasih karena telah merawatmu, malah menuduhku melakukan sesuatu.


Semalam badan kamu panas dan kamu terus saja menggigau. Aku mengompresmu dengan handuk dan air yang ada di loyang itu." Yuda menjelaskan dan menunjuk air yang ada diloyang.


Hana menghentikan tangisannya dan kembali tenang.

__ADS_1


"Aku akan tidur dikamarku, kamu sudah mendingan bukan ?" Yuda berjalan sempoyongan menahan rasa kantuknya, akibat semalam menjaga Hana.


Sedang Hana masih termenung memikirkan apa yang terjadi dengannya. Rasa pegal ditubuhnya membuat Hana malas untuk bangun, lalu mengambil sebuah buku dari bawah bantalnya.


"Besok aku akan pergi ke Asrama, orang orang dari pihak sekolah juga akan sampai dikota beberapa hari lagi. Maafkan aku om Yuda, sudah saatnya aku akan pergi, terima kasih telah membantuku meski aku menerima satu syarat darimu." Tidak terasa Hana meneteskan air matanya, karena sebentar lagi akan meninggalkan tempat ini.


Ting tong... Ting tong...


"Siapa diluar ya, biasanya om Ronal mengetuk pintu, kenapa sekarang bunyi bel ?" Seseorang membunyikan bel, dengan terpaksa Hana bangun dari tidurnya dan membuka pintu.


"Ibu...! Maafkan Hana baru saja membuka pintunya."


"Bagaimana kabarmu Hana ? kata Yuda kamu sedang sakit, itu sebabnya ibu datang berkunjung."


"Iya bu, hanya demam biasa saja. Aku sudah baikan sekarang."


"Syukurlah nak. Oh iya, dimana Yuda ? aku belum melihatnya."


"Ia masih tidur bu, dikamarnya. Semalaman ia menjaga dan merawatku." Ucap Hana dengan sopannya.


Mendengarkan ucapan Hana, ibunya Yuda merasa senang, beberapa hari tinggal bersama sudah membuat mereka sedekat itu kemudian ia melangkah masuk menatap wajah anak lelakinya itu.


Sedang Hana pamit kedapur membuat minuman untuk mereka bertiga. Hari ini dia sengaja membuat ramuan khusus yang di raciknya dari Desa, ada juga sedikit campuran herbal yang dibuat bersama Kakaknya Danu, saat di Bandung dicampurnya menjadi segelas minuman herbal setelah merasa beres Hana keluar membawa nampan.


Terlihat di dalam kamar Yuda sudah bangun dari tidurnya, dan sedang serius bercakap cakap dengan Ibunya. Hana ikut bergabung dan mempersilahkan meminum minuman yang dibuatnya.


Tanpa menunggu perintah, langsung saja Yuda meminumnya, sudah terbiasa dengan minuman yang dibuatkan Hana untuknya.


"Apa ini Hana, baunya juga begitu harum ibu juga sangat penasaran." Ibu juga langsung meminumnya.


Tersenyum puas, sambil menghirup aroma minuman itu. Ibu Yuda begitu menikmatinya.


"Astaga ini enak sekali rasa dan aroma herbalnya begitu terasa. Kamu belajar dimana nak membuatnya, badan ibu juga terasa segar setelah meminumnya." Puji mamanya Yuda.


"Aku belajar di Desa bu, ini hanya minuman biasa saja, untuk menghilangkan rasa pegal dibadan."


Setelah bercakap panjang lebar, ibu pamit pulang. Karena masih banyak urusan yang diselesaikannya.


Hana kembali merapikan tempat tidurnya yang masih berantakan. Sedang Yuda kembali memejamkan matanya.


Seharian sudah Hana berberes beres, termasuk pakaian yang akan dibawahnya besok ke asrama, semuanya sudah siap didalam koper besar.


Mengingat besok akan meninggalkan tempat ini, Hana sengaja mengambil bubuk racikan miliknya untuk dicampurkan didalam kopi bubuk yang ada didapur, karen Hana tau kalau Yuda sangat menyukai kopi buatannya.


"Hei om, kau baru keluar ? Apa perutmu tidak lapar, sudah seharian tidur ?"

__ADS_1


"Ia Hana, bisa tolong kau buatkan sekalian aku kopi !" Ucap Yuda yang baru saja duduk di depan televisi.


Sebenarnya Yuda tidak tidur, dia seharian mengurung diri dikamarnya karena sedang memainkan layar lebarnya, meminta adik sepupunya Yaksa, mengirimkan data tentang Rosalin dan Serina.


Tidak perlu menunggu lama Hana sudah datang kembali membawakan Yuda segelas kopi, dan mie goreng telur mata sapi yang tadi dibuatnya.


"Ini om, makanlah. Seharian om belum makan apapun. Aku tadi membuatnya karena perutku juga sudah sangat lapar."


Yuda menerima piring mie goreng ditangan Hana, dan la langsung menghabiskan makanannya.


"Hana bagaimana dengan keadaanmu, apa sudah baikan."


"Ea om, terima kasih sudah merawatku."


"Sudah menjadi kewajibanku untuk menjagamu.


Aku hanya ingin bertanya padamu soal persiapanmu Hana ?"


"Persiapan...? Maksud om Yuda apa? " Hana bingung dan kembali bertanya.


"Persiapanmu kedepan untuk mengejar cita citamu dan menjadi pendamping hidupku."


"Om, kenapa bertanya seperti itu, aku sudah menerima syarat darimu, apa lagi ?"


"Aku hanya ingin memastikan saja Hana. Karena kamu terlalu kecil untuk usiamu. Sifatmu terlalu polos dan baik hati Dimatamu semua orang adalah orang baik, contohnya kamu tak takut padaku."


"Sudahlah om, aku sudah menerima takdirku jika memang nasib berkata lain, aku akan menjalaninya." Sambil membuang nafas, Hana mempertegas ucapannya.


"Om, apa besok aku boleh pergi ? Sesuai perjanjian kita, aku akan ikut perlombaan Olimpiade Nasional, untuk itu harus tinggal di asrama."


"Apa, kamu akan meninggalkanku ?


Lalu, bagaimana denganku ? "


"Setelah perlombaan usai, aku akan pulang kesini, aku tidak akan lama, hanya saja beberapa hari ini aku harus fokus dan tinggal di asrama untuk mendapat bimbingan."


"Aku tidak akan melarangmu mengejar apa yang kau inginkan, tetapi maafkan aku jika kau harus memenuhi syarat itu setelah pulang nanti."


Hana tersenyum manis, dan tanpa sadar memeluk Yuda.


"Hmm.. Ma maafkan aku om, telah lancang."


"Hana, Hana, adik kecilku yang manis." Yuda mengacak acak rambut Hana.


"Pergilah ke kamarmu, siapkan dirimu, aku akan membawamu kesuatu tempat malam nanti."

__ADS_1


Seperti anak sebayanya, Hana pun menurut dan berlari pelan masuk ke kamarnya.


__ADS_2