
Malam semakin larut, cahaya bulan menerangi malam di ibu kota terlihat Steven yang baru saja pulang dari Organisasi mereka setelah memberikan data penting itu, ia memilih pulang lebih dulu kerumahnya untuk membersihkan diri, sesaat ia melihat gadis cantik sedang berjalan kaki memasuki lorong demi lorong sambil menangis.
Buuuummm...
Ia langsung memarkirkan mobilnya tepat dihadapan wanita yang ternyata adalah Tiara.
"Ayo cepat naik kalau masih ingin hidup."
Ajak Steven, yang wajahnya sedang marah.
"Apa yang kau lakukan dijalanan, mana komplotanmu waktu itu."
"Hiks Hiks Hiks...
Maafkan aku kak, aku terpaksa menerima semua tawaran ini, aku minta maaf kak."
"Maafkan katamu, terlambat. Aku sudah terlanjur ingin membunuhmu perlahan dengan virus mematikan itu, sebentar lagi kau akan sekarat dan tubuhmu akan menjadi keriput.
Kau mau kemana ?" Tanya Steven tiba tiba yang masih sedikit tidak tega melihat gadis itu.
"Aku akan pulang kerumahku, rumahku dilorong sana " Ucap Tiara singkat sambil menunjukkan ibu jarinya.
"Ayo kuantar kau."
Tiara terus saja menangis sepanjang perjalanan, ia tau telah melakukan perbuatan salah, dan nyawalah taruhannya. Ini akibat dari perbuatannya.
"Sekarang sudah sampai, apa kau masih belum memberitahukan aku soal siapa yang menyuruhmu."
Sambil membuang nafasnya kasar, Tiara menjawab dan segera turun dari mobil Steven. "Maafkan aku tidak bisa memberi tahu siapa dalang semuanya, aku berada dalam pilihan, nyawa ibuku akan jadi taruhannya jika aku membongkar semuanya.
Biarlah aku yang lebih baik mati dari pada aku harus mengorbankan nyawa ibuku yang sedang terbaring sakit."
Tiara pergi meninggalkan Steven sendirian, sedang Steven mulai merasa kasihan pada gadis yang sedang terjepit itu, tetapi ia sangat marah karena ulahnya dirumah sakit hampir saja membuat Hana tidak lagi melihat keindahan dunia.
Steven melajukan mobilnya dan kembali kerumah untuk membersihkan tubuhnya, setelah itu ia coba menghubungi nomor Hana.
Dreeett... Dreeett... Dreeett...
Pesan masuk dari telpon seluler milik Hana bergetar. Sayangnya Hana sedang tertidur, Yuda yang dari tadi ingin membuka pesan Hana, Hp sedang dikunci dengan sandi, ia hanya membiarkan Hp itu bergetar.
Beberapa menit akhirnya kembali bergetar, dengan nada panggilan masuk, secepatnya Yuda mengangkatnya.
"Steven kenapa kau menelpon di nomor Hana ?" Tanya Yuda.
"Ada hal yang ingin kusampaikan padanya. Apakah salah bro jika aku menelponnya."
"Bukan bukan itu maksudku Steven, kenapa kau tidak menelpon di nomorku saja jika ingin memberi tahu sesuatu."
"Hahaha...Yuda, Yuda, kamu itu cemburuan bangat. Aku hanya mau bilang kalau aku ada dirumah tolong jaga Hana sampai aku kembali."
__ADS_1
Steven yang ingin menceritakan sesuatu pada Hana akhirnya membatalkan pembicaraannya, tidak jadi dia katakan karena yang mengangkat telponnya adalah Yuda.
"Memang Steven itu ada hubungan apa sama Hana ? Kalau melihat dari cara Steven seakan bertanggung jawab dengan keadaan Hana kufikir ada hubungan yang spesial ?" Sebelum tertidur di sofa rumah sakit Yuda sesaat melamun memikirkan hubungan Hana dan Steven.
***
Besok harinyanya, cahaya matahari pagi mulai memasuki sela sela ruangan rumah sakit, tidak lupa Yuda mengambil jatah bubur dan menyuapkan ke mulut Hana yang sudah sejak tadi terbangun.
Setelah ia rasa cukup, lalu Yuda berpamitan akan pergi ke perusahaannya kembali. Yuda bercerita panjang lebar dan menitip gadis kecilnya pada Steven.
"Bro, aku titip Hana padamu, jika dia bisa keluar hari ini tolong antarkan dan jaga dia di asramanya, aku akan segera pergi dari sini."
"Yuda kenapa harus pergi terburu buru ?"
"Apa kau menonton berita tv hari ini bro ?
Perusahaanku di ambang kehancuran, sedang aku berdiam disini karena aku sangat peduli pada gadis kecilku itu.
Ada seseorang telah berhianat padaku bro."
"Pergilah Yuda selesaikan masalah pekerjaanmu, aku yang akan menjaga Hana dan mengantarnya ke asrama. Jangan lupa jika kau butuh bantuanku telpon saja, aku masih temanmu kan ?"
"Baiklah bro, justru karena kepercayaan dan kau temanku makanya aku menitip Hana padamu.
Oh iya aku menyiapkan beberapa pengawalan untuk Hana, mereka sedang mengintai seluruh hal hal yang mencurigakan disekitar Hana."
"Sudahlah Yuda tenang saja aku akan terus menjaganya, tidak akan kubiarkan orang lain menyakiti Hana."
Ting tong...
"Ya tunggu sebentar ! Siapa sih pagi pagi begini sudah bertamu." Gerutu Ronal dengan luka lebam disekujur tubuhnya.
Krieet...
Pintu terbuka lebar dan menampakkan lelaki ganteng yang tingginya di atas rata rata.
"Eh bos Yuda, tumben datang kesini ?"
Yuda dengan santainya masuk dan langsung duduk di kursi tamu tak peduli dengan ucapan Ronal.
"Hmm... Apa aku tidak boleh datang kesini, atau jangan jangan...?" Selidik Yuda.
"Jangan jangan apa sih bos !!"
"Ada wanita di apartemen ini, hingga kau melarang aku datang kesini."
Ucap Yuda yang langsung melangkah masuk ke kamar asistennya Ronal.
"Eh eh bos, apaan sih memangnya aku tukang main wanita apa, sampai curiganya seperti itu. Mana ada wanita yang mau sama laki laki seperti aku yang kerjanya hanya mengikutimu setiap saat."
__ADS_1
"Hehehe... Bagaimana kalau Terre, apa kamu tidak ingin merasakan yang namanya jatuh cinta."
"Huu, apaan sih. Mana mau Terre pada laki laki seperti aku."
"Kira kira jika Terre mau kamu juga ingin kan ?"
"Ha hay ada ada saja bos, kenapa kedatanganmu kemari jadi membahas Terre ?
Apa tidak ada hal lain yang dibahas."
"Iyalah, aku ini sedang serius bahas soal Terre padamu, aku kasian aja lakilaki sepertimu sedang terluka tetapi tidak ada yang mengurusnya, punya banyak duit tetapi teman hidup tidak ada, sungguh miris
Hehehe."
"Aduuh, alasan banget sih bos. Mentang mentang sudah ada nona Hana yang tinggal di Apartemen.
Oh iya bagaimana kabar bos kecilku itu, apa dia sudah sembuh ?"
"Kamu tuh, paling jago mengalihkan ucapanku, yang jelas kalau kamu tidak cari pendamping hidup maka aku akan jodohkan kau dan Terre.
Hana sekarang sudah sembuh, dia ada dirumah sakitnya Steven, ia juga menjaga Hana dengan baik dan hari ini Steven yang akan mengantarnya masuk asrama."
Kau tau sejak kau terjebak di Restoran itu banyak hal yang telah terjadi, perusahan kita di ambang kebangkrutan, ayahku baru baru ini datang ke perusahaan memeriksa semua kecurangan data laporan keuangan, banyak hal yang telah terjadi disana."
Sambil bernafas panjang Ronal coba mencerna semua ucapan Yuda.
"Apa bos sudah menyelidiki soal Steven yang sangat dekat dengan Hana ?
Dan perusaan, berarti ada penghianat yang masuk dalam perusahaan kita."
"Kalau untuk Steven aku belum menyelidikinya, dan aku rasa Steven hanyalah orang yang berusaha melindungi Hana, entah dia siapa, tetapi aku sangat yakin, karena Steven aku mengenalnya sangat baik.
Aku datang kesini untuk menjengukmu sekalian mengajakmu masuk kerja, apa kau hanya akan berdiam dan membiarkan Terre yang disana hanya bekerja sendirian menyelidiki semua masalah ini."
"Baiklah aku akan bersiap dulu. Oh iya ponselku dimana, aku belum melihatnya sejak kejadian itu."
"Sudah aku sedang menyimpannya di tempat aman."
"Iya bos disitu ada bukti penting yang harus kita ungkap, lelaki dan wanita yang aku foto itu adalah orang yang melakukan percobaan pembunuhan Hana"
"Apa !!! Kalau begitu kita harus cepat mengungkap semuanya Ronal.
Cepat ganti pakaianmu itu, aku sudah tidak sabar sampai dikantor.
Dimana mana, saluran tv sekarang sedang memberitakan akan kebangkrutan perusahaan kita, sebentar lagi semua pesaingku pasti akan senang melihat berita itu."
Setelah mendengar ucapan bosnya, Ronal segera berganti pakaian dan keduanya kembali keperusahaan untuk menyelesaikan banyaknya masalah yang terjadi akhir akhir ini.
Bersambung...
__ADS_1
Ayo dukung terus, jangan lupa like, beri hadiah, tambahkan vote dan favoritenya, ikuti terus kelanjutan ceritanya...