
Di tempat bekerja dalam sebuah ruangan kedua lelaki yang menjadi atasan Terre itu begitu sibuk berhadapan dengan layar laptop mereka.
"Tok tok tok...
Apa aku boleh masuk tuan ?" Tanya Terre pada kedua lelaki itu sambil membawa nampan berisikan dua cangkir kopi.
"Masuklah Terre" Jawab Yuda, berbeda dengan Ronal yang hanya sibuk menatap layar di depannya tanpa menghiraukan Terre.
"Oh iya Terre kau tidak perlu keluar dari ruangan ini, kita akan berdiskusi bertiga." Ajak Yuda pada asistennya.
Terre tersenyum dan mengaggukkan badannya, lalu duduk dikursi yang ada diruangan itu.
"Apa kamu sudah menemukan dalang dari anjloknya perusahaan kita Terre ?"
"Untuk pemasok produksi, kita harus turun tangan ke lapangan meninjau langsung perusaahan yang kita curigai itu.
Dan untuk masalah keuangan aku sedang mencurigai seseorang, aku masih sedang mencari bukti bukti lain." Terang Terre pada atasannya.
"Bagaimana dengan tugasmu Ronal ?" Ucapan Yuda yang sengaja beralih pertanyaan pada Ronal.
"Aku juga masih mencari bukti lain. Untuk pembunuhan, sudah sangat jelas lelaki yang ada di foto itu adalah lelaki yang telah menembak nona Hana." Terang Ronal.
"Apa kau mengenalnya Ronal ?"
"Tidak, aku baru pertama kali melihatnya."
"Apa sebenarnya hubungan orang ini dengan Hana ?"
"Aku juga tidak mengerti bos, hanya saja aku sedang menyelidiki sesuatu."
"Maksudmu...?"
"Waktu orang orang itu membunuh Hana, aku melihat sebelum terjadi penembakan dilokasi, ada Rosalin datang kearea restoran itu, dan bicara empat mata pada laki laki penembak itu."
"Apa ? yang benar saja kamu Ronal."
"Benar bos, aku tidak sedang bercanda, aku melihat dengan jelas."
"Apa menurutmu ini ada hubungannya dengan Rosalin ?"
"Entahlah bos, aku juga masih memeriksa semuanya. Semoga saja praduga itu tidak benar."
Ronal sebenarnya sudah sangat yakin ini perbuatan Rosalin. Namun ia harus mencari bukti lebih banyak, karena mengingat kejadian yang Hana hadapi saat pertama kali datang ke kota ini.
"Aku sangat yakin ini perbuatan Rosalin, aku masih mengingat jelas bagaimana dia menatap nona Hana dan cara ibunya memperlakukan Hana." Ucap Ronal dalam hatinya.
"Besok kita berangkat ke Bandung Ronal, dan kamu Terre pantau terus data keuangan selama aku ada disana, jangan sampai ada orang yang mengambil kesempatan selama aku tidak ada."
__ADS_1
"Siap Bos." Jawab Terre, sedangkan Ronal tak menjawab ucapan Yuda, ia masih sibuk dengan pemikirannya sendiri lalu berjalan kearah layar komputer yang dari tadi dibukanya.
"Apa mungkin laki laki ini adalah orang yang sama yang waktu itu melakukan penculikan pada nona Hana ?
Namun yang membuatku bingung Rosalin ikut jadi korban dalam penculikan." Ronal sibuk melamun dan mengotak atik keyboard di hadapannya.
Karena melihat asistennya seperti itu, Yuda coba mendekat, sedang Terre pamit keluar dari hadapan mereka.
"Ada apa Ronal ?
Sepertinya kau sedang gelisah."
"Bos apa kau ingat kasus penculikan yang dilakukan oleh Wahyu sepupumu, lalu berpindah tangan pada orang lain. Aku yakin semua ini sangat berkaitan."
"Lalu apa yang akan kau lakukan ?"
"Aku akan mengunjungi perusahaan Sinar Jaya Group. Apa kau ingat kasus penculikan nona Hana dilakukan oleh orang yang bekerja di perusahaan itu."
"Aku masih mengingatnya dengan jelas Ronal, hanya saja dalam masalah ini apa Wahyu terlibat ?"
"Sepertinya dia bukanlah pelaku utama bos, namun bisa jadi mereka terlibat."
"Hmmm.... Baiklah Ronal kita harus cepat bertindak, kali ini aku tidak akan memaafkan siapapun."
Tak membuang buang waktu Ronal dan Yuda menuju perusahaan Sinar Jaya Group.
"Ro Rosalin, apa itu Rosalin ? Ucap Yuda terbata bata.
"Itu memang Rosalin, apakah dia bekerja diperusahaan ini juga ?
Atau memang dia yang menculik nona Hana" Tanya Ronal.
"Jika memang benar dia, lalu untuk apa dia terlibat dalam penculikan ?
Dia sudah pergi, ayo kita masuk keperusahaan itu. Apa kau sudah siapkan berkas berkasnya ?"
Yuda dan asistenya Ronal melangkah masuk ke perusahaan Sinar Jaya Group, mereka disambut dengan baik oleh para karyawan perusahaan, hingga salah seorang dari mereka bertanya pada kami.
"Permisi tuan, apa ada hal penting yang bisa kami bantu ?
Atasan kami baru saja pergi, apa tuan tuan sudah ada janji ?"
"Maaf kami hanya kolega yang sedang jalan jalan ke perusahaan ini. Aku dengar pemilik utamanya telah wafat beberapa bulan yang lalu.
Waktu itu, kami hampir menjalin kerja sama dalam sektor ekonomi dengan beliau, namun setelah beliau wafat kami membatalkan kembali kerja sama itu." Terang Yuda yang sedang berpura pura mencari alasan untuk memancing pemilik sesungguhnya.
"Mohon maaf sekali, apa perlu kami menghubungi pemilik perusahaan kami ?
__ADS_1
Dia baru saja pergi, dan benar sekali semenjak pak Romiel wafat, beliau digantikan oleh anaknya Ibu Rosalina, dan dibantu orang kepercayaannya pak Brams, untuk melanjutkan bisnis saham ini." Jawab karyawan yang lain.
"Jangan, tidak perlu. Kami sedang terburu buru, lain kali kami akan mampir menemui pemiliknya." Ucap Yuda dan segera berpamitan dari perusahaan itu. Keduanya keluar dengan tergesa gesa.
"Bos apa maksud ucapan para karyawan ibu Rosalina itu adalah Rosalin dan siapa Brams ?" Tanya Ronal.
"Kamu tahu kan, aku baru saja mengenal Hana. Dan untuk silsilah keluarganya aku juga belum tahu pasti. Hanya saja nenek Sima perna berkata Romiel adalah anak nenek Sima."
"Berarti maksudnya Serina yang jadi mamanya Rosalin itu adalah menantu dari nenek Sima."
"Tepat Ronal."
"Oh pantas saja Serina tidak suka pada Hana. Apa aku harus mengatakan pada Yuda tentang kejadian itu ? atau lain kali saja aku katakan padanya. Dengan begitu aku sudah bisa memastikan Rosalin, ada di balik semuanya." Batin Ronal.
"Apa kamu sudah dapat jawabannya Ronal ?" Tanya Yuda tiba tiba yang membuat Ronal buyar dari lamunannya.
"Aku bisa memastikan Rosalin ikut terlibat." Ucap Ronal tegas.
Mata Yuda membelalak sempurna, tak percaya dengan apa yang Rosalin lakukan, entah dendam apa Rosalin pada Hana sampai berusaha ingin membunuhnya.
"Sepulangnya nanti aku akan bicara persoalan ini pada Hana, aku harus memberi tahu dirinya tentang saudaranya itu. Bagaimana dengan lelaki yang ada di foto itu ?"
"Aku masih menyelidikiya, mungkinkah dia yang bernama Brams ?"
"Bisa saja, namun kenapa Rosalin sangat tega pada saudaranya sendiri ?
"Apa nenek Sima dan keluarganya belum mengetahui ini ? kita harus melakukan sesuatu."
Sambil bercakap cakap kedua lelaki ini berjalan mengikuti arah tempat parkiran mobil mereka. Sebelum pergi mereka sudah memasang beberapa orang penjaga untuk berjaga ditempat ini.
Baru saja Yuda ingin naik di mobil yang di setir oleh asistennya itu, langkahnya terhenti saat melihat wajah orang yang sama dengan foto di telepon seluler milik Ronal, keluar dari satu buah mobil dan masuk keperusahaan yang mereka datangi barusan.
"Ronal coba lihat sana." Ucap Yuda pada asistennya sambil menunjuk ke arah depan.
"Itu.. itu orang yang sama dengan yang di foto bos.
"Iya, berarti dia bekerja di perusahaan ini, sama seperti dugaan kita saat penculikan itu.
Dan yang melakukan pembunuhan itu adalah orang yang sama."
"Benar bos sekarang semuanya sudah sangat jelas. Apa mungkin orang yang sesuai ucapan karyawan tadi bahwa dialah yang bernama Brams ?" Tanya Ronal.
"Aku tidak tahu Ronal, kita tunggu sampai dia keluar lalu ikuti kemana perginya, kita tidak perlu lagi menunggu terlalu lama, segera saja habisi orang itu dan kita paksa apa sebenarnya motif mereka."
Yuda dan Ronal terpaksa menunggu beberapa jam sampai orang itu keluar dari perusahaan. Sudah sangat jelas ia pelakunya maka Yuda harus memberi pelajaran pada lelaki itu.
Bersambung...!!!
__ADS_1