
Besok harinya
Kembali suasana siaran TV Nasional sedang memuat berita kecelakan tunggal yang terjadi di Desa Tebing kecamatan Kelapa memperlihatkan seseorang yang diduga kuat sedang menyetir dengan kecepatan tinggi, membuat mobil itu nahas jatuh kejurang yang ketinggiannya mencapai +30 Meter kedalaman.
Dari hasil yang di data polisi, mobil tidak bisa di kenali siapa pemiliknya. Begitu juga dengan pengemudi, polisi tidak bisa memprediksi lagi, karena mobil sudah hancur berkeping keping hingga tidak ada yang terisisa di tempat itu.
Rosalin yang menyaksikan siaran TV itu mulai merasa khawatir karena sudah dari semalam nomor telpon Brams tidak bisa dihubungi.
"Apa yang terjadi pada Brams, kenapa sampai sekarang dia tidak bisa dihubungi ?" Batin Rosalin.
"Kamu kenapa Rosalin, seperti sedang gelisah ?" Tanya Serina yang datang duduk di kursi sofa menemani anaknya.
"Ia ma, coba lihat itu." Tunjuk Rosalin.
"Ini berita kecelakaan kan, lalu ada apa ?"
"Aku khawatir bangat sama Brams mama, sampai sekarang nomornya tidak bisa di hubungi. Apa perlu aku datang ketempatnya ?"
"Ya elaa palingan juga si Brams lagi happy sama temannya, lebay amat pake khawatir sama bawahan, hari gini anak mama kesambet apa ya ?"
"Aaah mama, mikirnya sampai segitu, yaa aku khawatir aja." Jawab Rosalin yang raut wajahnya seperti menyembunyikan sesuatu.
"Sudah samperin saja dirumahnya, dari pada khawatir.
Oh iya Ros, seluruh stasiun Tv menyiarkan berita kecelakaan itu, memang kenapa sih."
"Aku juga barusan nonton ma, itu kecelakan tunggal menurut polisi, dan sudah dipastikan polisi tidak bisa mengidentifikasi korban, karena posisi semuanya sudah hancur, sungguh tragis amat ma." Terang Rosalin pada mamanya.
"Ya sudah ma, aku mau pergi kerumah Brams. Mama nonton aja." Rosalin beranjak dari duduknya ia masuk ke kamarnya mengganti pakaian lalu berangkat kerumah Brams.
Sebenarnya Rosalin sangat gelisah, ia tak ingin mamanya tau masalah yang terjadi padanya dan Brams. Melihat berita di TV itu membuatnya khawatir, entah apa yang terjadi pada Brams saat ini, lelaki yang sudah merenggut kehormatannya itu.
Serina yang masih menonton siaran yang ditampilkan diseluruh stasiun TV itu masih memperhatikan dengan seksama, siapa tau saja ada jejak yang bisa dikenali, karena lokasi kejadian tidak jauh dari perusahaan anaknya.
Terlihat Rosalin sudah siap dengan dandanan cantiknya. Sebelum pergi ia tidak lupa berpamitan pada mamanya.
"Da mama, aku pergi dulu ma..." Teriak Rosalin yang melewati mamanya.
"Hati hati Rosalin, jangan ngebut..."
"Oke ma." Rosalin berlalu meninggalkan mamanya.
"Aneh benar benar aneh anak itu, baru kali ini aku melihat ia begitu gelisah karena tidak dapat kabar dari Brams, biasanya tidak sampai segitunya."
Di tempat yang lain, di Apartemen miliknya, Yuda juga sedang menyaksikan siaran TV sambil menyeruput kopi buatannya yang memang Hana siapkan untuknya.
__ADS_1
"Aku berjanji tidak akan membiarkan seorang pun mengganggumu Hana." Batinnya sambil tersenyum puas dengan apa yang dia lakukan.
Tepat pukul delapan pagi asisten Ronal juga sudah datang ke apartemennya Yuda, luka lukanya ditubuhnya juga mulai membaik. Mereka berdua bersama sama akan ke Bandung menuju perusaahan yang di duga kuat telah memproduksi barang palsu.
Agar lebih cepat melakukan perjalan kali ini Yuda dan Ronal memilih memakai jet pribadinya untuk perjalan ke Bandung.
Hanya butuh beberapa menit, hingga akhirnya mereka sampai di Bandung dan kepergian kali ini Yuda dan Ronal sengaja tidak membawa pengawalan apapun, disana sudah ada salah satu kepala cabang perusahaannya yang biasa dipanggil pak Alex sengaja menjemput kedatangan mereka.
Tidak lupa Yuda dan Ronal mendatangi salah satu perusahaan cabang terbesarnya di daerah itu.
"Bagaimana perkembangan di daerah ini pak ?"
"Semenjak kejadian itu, perusahaan kita yang di ambang kebangkrutan banyak para karyawan yang berhenti secara mendadak, banyak juga yang berdemo meminta perusahaan kita untuk tutup karena telah memproduksi barang palsu." Ucap Pak Alex.
Yuda membuang nafas kasar, mendengar ucapan Alex, salah satu orang yang bisa di percayainya mengurus perusahaan cabang di daerah ini.
"Perusahaan kita venar benar dalam bahaya, aku harus menyelesaikan masalah ini pak, jika kau juga ingin berhenti dari perusahaanku, aku juga tidak masalah."
Terbata bata lelaki berwibawa bernama Alex itu menjawab.
"Ja jangan pak, aku yakin bapak bisa menyelesaikan semuanya. Dua puluh tahun aku kerja setia diperusahaan ini, mana mungkin hanya karena ulah seseorang aku harus berhenti, Itu tidak mungkin pak." Terang pak Alex pada Yuda.
"Oke pak, aku harap bapak bekerja dengan baik. Jika ada apa apa disini, tolong bapak kabarkan aku secepatnya.
"Apa...?" Pak Alex sangat terkejut, ketika mendengar ucapan Yuda.
"Iya pak, jangan khawatir aku dan Ronal akan menyelesaikan secepatnya, ini sudah menyebabkan kerugian yang snagat besar pada perusahaan.
Siapkan saya dan Ronal satu buah mobil untuk kami pakai selama disini, dan tolong jangan bocorkan pada siapa pun tentang kedatangan kami."
"Baik pak." Alex berlalu pergi dan segera menyiapkan permintaan dari direktur perusahaan tempat ia bekerja.
Sedang di rumah sakit milik Steven, baru saja menyalakan layar televisi, ia sudah melihat berita viral tentang kecelakaan maut yang tewas misterius hingga tidak dikenali.
"Innalillahi, kasihan sekali nasib korban kecelakaan itu, semoga saja keluarga cepat ada yang melapor tentang kehilangan orang rumahnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan." Ucap Hana.
"Amiiin ya Allah." Jawab Steven
Steven yang juga sedang membereskan perlengkapan Hana, ikut menyaksikan berita viral itu.
Hari ini Hana akan di antar pulang ke asrama oleh kakaknya Steven, karena sudah beberapa hari tinggal di rumah sakit membuatnya merasa suntuk dan bosan.
"Ayo Hana, kakak akan mengantarmu hari ini.
Kau matikan saja televisinya, percuma juga nonton kita tidak kenal siapa korban kecelakaan itu."
__ADS_1
"Iya kak." Hana menuruti ucapan Steven dansegera bersiap keluar dari rumah sakit milik kakaknya itu.
"Oh iya kak Yuda mana kak ?"
"Hari ini dia berangkat ke Bandung, menyelesaikan masalah perusahaannya, dia menyuruhku mengantarmu."
"Oh iya kak, kasiahan jug akak Yuda."
"Ehmm.... Yang lagi bucin manggil kakak."
"Aaah... Kak Steven apa sih ?" Wajah Hana memerah tersipu sangat malu akibat kakaknya.
"Ia, kemaren aku dengar kamu manggilnya om, eh sekarang kakak lagi."
"Iya kak, dia sendiri yang menyuruhku memanggil dengan sebutan itu, karena difikirnya umurnya tidak jauh beda sama kak Steven."
Mendengar ucapan adik kecilnya, Steven terkekeh.
"Hohoho...
Apa !!
Dia memaksamu memanggil dengan sebutan kakak !!
Cemburu kali... Hohoho."
"Aaah kak Steven mulai lagi. Sudah ah, bercandanya nanti aja."
"Kirain bucin... Apa ya artinya bucin."
"Kak Steven berhenti, aku juga mana tahu artinya kan yang ngomong dari tadi ka Steven, ngomongnya bucin melulu."
"Bucin artinya bumbu cinta kali, atau apa, coba tebak ? Hahaha."
"Ih aku mah bukan orang Jakarta, mana tau aku gaya bahasa gituan. Sudah, aku mau telfon kak Yuda aja buat ngantarin pulang."
"Tuh kan benaran bucin, ayo ngaku ? gitu aja kok marah."
Bukannya berhenti Steven malah terus bercanda, membuat Hana kesal, lalu dia meninggalkan Steven sampai di parkiran tempat mobilnya. Steven yang sedang membawa barang berusaha mengejar gadis kecilnya.
"Ya sudah jangan ngambek lagi ayo naik kakak antarin, kakak kan cuma bercanda."
Hana menuruti perintah kakaknya, ia segera naik ke mobil, lalu segera pergi ke asrama tempatnya belajar.
Bersambung Readers !!!
__ADS_1