Aku Dijodohkan Saat SMP

Aku Dijodohkan Saat SMP
Menikah Adalah Syaratnya


__ADS_3

Tok...tok... tok...


Dari arah depan terdengar suara ketukan pintu, membuat Hana yang baru menghabiskan makanannya ingin berdiri, tetapi Yuda melarangnya.


"Jangan Hana, tidak usah. Biar aku saja," Ucap Yuda dan langsung berdiri pergi membuka pintu.


"Kamu Ronal, masuklah.


Kalau kulihat sepertinya selama ini, baru sekarang kamu mengetuk pintu apartemenku. Ada apa ? " Tanya Yuda, sambil mempersilahkan Ronal masuk.


Sambil senyum senyum Ronal menjawab.


"Maaf aku sedikit terlambat. Yaaah, sekarang kan sudah ada gadis kecilmu itu, tidak mungkin aku masuk begitu saja tanpa mengetuk. Siapa tahu..."


"Siapa tahu apa ?


Ronal jangan berulah kamu, tidak ada ucapan siapa tahu, jangan berfikir yang bukan bukan, kalau kau masih ingin melihat mulutmu itu bersuara maka diamlah."


Yuda memotong ucapan Ronal sambil membentak.


"Duduklah disini, aku sedikit senang melihatmu baru datang, agar kau tidak sempat mencicipi nasi goreng buatan gadis kecilku ini." Ucap Yuda sambil tersenyum, dan agak sedikit meledek asistennya.


Ronal menciut dan merasa begitu kesal dengan Yuda, apa lagi melewatkan momen sarapan dengan bos kecilnya.


"Hana, aku akan berangkat bekerja, kau jangan kemana mana. Kumohon dengarlah ucapanku kalau tidak kau bisa kesasar di area ini." Terang Yuda, dan berusaha menjelaskan ke Hana.


"Oke om, aku janji tidak akan kemana mana untuk saat ini, jadi kau tidak perlu berlebihan." Jawab Hana.


Sesaat setelah Yuda pergi, Hana kembali membereskan sisa sisa makanan tadi, setelah itu dia kembali masuk ke kamarnya.


Tidak menunggu lama, Hana langsung meraih buku tebal miliknya. Baginya inilah waktu yang tepat untuk belajar, masih tersisa lima hari lagi, seharian hana menghabiskan waktu hanya untuk baca buku dan berimajinasi tentang pengolahan campuran bahan kimia yang nantinya akan diteliti dan dipelajarinya dari buku.


Setuju atau tidak, saat ini Hana sudah memantapkan dirinya untuk bicara pada Yuda, hingga tidak terasa waktu menunjukkan pukul delapan malam, dan akhirnya Yuda kembali.


Yuda langsung masuk saja untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian kerjanya. Setelah selesai dia keluar mencari Hana karena sedari tadi dia pulang, Hana belum terlihat.


"Mungkin dia ada dikamarnya," fikir Yuda.


"Hana... Hana....


Kamu dimana ?" Teriak Yuda.


"Eaa om, tunggu sebentar aku sedang mengganti pakaianku." Jawab Hana dari dalam kamarnya.


Sambil menggelengkan kepalanya Yuda kembali berfikir. "Sungguh anak yang pemalas. Seharian kamu ngapain aja ?


Jam segini baru ganti pakaian. Aneh..."


Yuda beralih duduk di ruang tengah. Tidak lama Hana datang menghampirinya dengan membawa segelas kopi di atas nampan.

__ADS_1


"Om, ada apa, kenapa om berteriak ?" Tanya Hana.


"Aku tahu kamu belum makan, sebelum pulang aku singgah membeli nasi lalap dua porsi.


Sana kamu siapkan dulu, kita makan sama sama disini." Perintah Yuda sambil meneguk kopi buatan Hana.


Entah kenapa setiap kali meminum kopi buatan Hana, pegal pegal dibadannya hilang seketika.


Hana pergi kedapur menyiapkan makanan di piring dan membawanya kedepan Yuda.


"Om ambillah, ini untukmu. Aku sudah lapar karena terlalu lama menunggumu, persediaan dirumah om juga sudah kosong semuanya."


"Kalau begitu makanlah Hana. Sudah besok kita belanja, kita pergi bersama, karena aku tidak paham soal masak, kau yang memilih belanjaannya."


"Apa om tidak malu, belanja diajarin anak kecil sepertiku."


"Tak masalah, aku kan seorang lelaki.


Hana, seharian apa yang kamu lakukan ?


Kenapa kamu baru mengganti pakaianmu saat aku pulang ?" Tanya Yuda.


Uhuuuk... uhuuuk...


Mendengar ucapan Yuda, Hana tersedak makanan yang dimakannya.


"Anu_anu, maaf_maafkan aku om, ini...


"Apa kamu bilang, belajar ?


Kamu belajar seharian ?


Bukannya kamu tidak sekolah ?


Kenapa harus belajar ?"


Mendengar pertanyaan Yuda, terpaksa Hana terhenti makannya. Kini Hana menunduk menunjukkan wajah yang sedih.


"Kamu kenapa Hana ?


Apa ada yang salah dengan pertanyaanku ?"


"Bukan begitu om. Maafkan aku." Jawab Hana.


"Terus kamu kenapa ?"


"Ini om, sebenarnya aku sudah lama ingin jujur sama om, tapi Hana baru punya waktu. Selama ini aku sedang ikut perlombaan Olimpiade secara nasional yang akan di adakan di kota ini sebentar lagi. Banyak para peserta dari berbagai negara juga akan hadir om.


Aku telah banyak berusaha sampai ketitik ini om, titik dimana aku sedang berjuang sendirian dengan kemampuanku, itu sebabnya, meski dimanapun aku berada, aku akan terus belajar agar mimpiku bisa terwujud,aku juga sedang belajar meneliti tentang spekulasi beberapa penyakit dalam, mempelajari ilmu yang kudapat kemudian aku praktek,tentang berhasilnya ilmu yang kupelajari.

__ADS_1


Tapi sejujurnya semua harapanku itu sirna, saat nenek menjodohkaan aku dan om." Hana bicara panjang lebar ke Yuda, sabil menjatuhkan air matanya.


Tiba tiba Hana menggoyang goyangkan lengan Yuda.


"Tapi om, mungkin masih ada kesempatan buat aku. Hanya om yang bisa membantuku saat ini.


Pliiiiieees om." Hana memohon pada Yuda.


Hmmmmppp.... Sambil membuang nafas kasar Yuda menjawab.


"Baiklah, aku akan mengizinkanmu mengejar masa depan, tetapi ada syaratnya. "


"Syaratnya apa om ?


Demi meneruskan impianku, aku janji akan menerima syarat darimu." Jawab Hana dengan Lantang.


"Ow... benarkah ?


Kalau begitu setelah perlombaan selesai nanti kita akan menikah."


Seketika Hana gemetaran mendengar ucapan Yuda.


"Apa...?


Maksudnya apa sih, kenapa mesti buruh buruh menikah ?"


"Itu sudah menjadi keputusanku. Aku hanya ingin melindungimu Hana, kelak kau akan butuh aku.Tidak ada alasan lain lagi.


Jika kau tidak akan menerimanya, aku juga tidak masalah." Jawab Yuda dengan tegas dan berlalu pergi kekamarnya.


Diruang tengah Hana melamun dan bicara sendirian. Banyak hal yang ingin Hana tanyakan, tetapi Yuda keburu pergi meninggalkannya.


Dengan terpaksa, Hana menyetujui permintaan dari Yuda.


"Saat ini adikku Hanum telah sembuh dari operasinya, bahkan ada orang baik yang sudi mendonorkan ginjalnya untuk adikku, semuanya karena nenek. Untuk itu tidak ada alasan lain lagi.


Aku tidak akan berhenti disini, tentang penelitianku di hutan itu belum selesai, mengingat tentang laboratorium raksasa, disana terjejer banyak ramuan yang belum ku ketahui apa fungsinya. Nenek Halima dan cucunya juga tidak ada disana, saat terakhir aku mengunjungi hutan itu.


Anehnya hanya akulah orang yang bisa masuk kesana, saat aku bercerita tidak ada yang percaya padaku, orang orang di kampung tidak perna mengetahui dan melihat bangunan raksasa itu. Tetapi aku bersyukur ayah dan ibu masih percaya padaku, karena keberhasilan dan ilmu yang kudapat semua berawal dari sana, semua berkat nenek Halima dan cucunya.


Itu sebabnya aku harus melanjutkan apa yang kupelajari, karena masih terikat janjiku dengan nenek tua itu, kalau aku akan mengembangkan semua ilmu yang kudapatkan.


Nenek Halima selalu bicara padaku kalau akulah orang yang beruntung sebagai murid kecilnya, untuk semua itu rasanya belum cukup pengorbananku jika aku berhenti disini, aku akan memenuhi janjiku, dan menyetujui permintaan om Yuda."


Tidak sadar Hana sudah sangat lama ada diruang tengah, saat melihat jam di dinding waktu telah menunjukkan pukul 12.00 malam, secepatnya Hana beranjak dari tempatnya dan berjalan ke arah kamarnya.


Tanpa sengaja Hana melirik ke kamar Yuda, dilihatnya pintu kamar masih terbuka lebar dan ada suara orang lain di dalam kamar Yuda. Tanpa berfikir panjang Hana berinisiatif masuk kedalam.


Deg...

__ADS_1


Betapa kagetnya Hana melihat Yuda sedang bicara dengan seseorang disana...


__ADS_2