Aku Dijodohkan Saat SMP

Aku Dijodohkan Saat SMP
Hilangnya Mahkota


__ADS_3

Waktu terus bergulir, nampak seorang wanita yang baru saja turun dari mobilnya masuk kesebuah rumah dikawasan elit.


"Hai Brams bagaimana kabarmu hari ini, apa kau berhasil melakukan tugasmu ?" Tanya Rosalin yang langsung masuk begitu saja kerumah Brams anak buahnya.


"Aku menembaknya, sialnya dia masih hidup dan tembakan itu hanya mengenai lengannya. Lelaki yang bersamanya itu melindunginya."


"Ma, maksud kamu Yuda, Brams ?"


"Bukan, dia bersama lelaki yang tidak kala tampan dengan Yuda." Mendengar ucapan itu, Rosalin tidak menyangka jika Hana punya kenalan lain dikota ini."


"Apa kau sudah menyelidiki siapa lelaki itu ? Aku belum tahu soal itu. Saat penembakan dia sempat melihat kearahku hingga aku pergi dari sana." Ucap Brams.


"Aku ingin dia mati secepatnya, agar Yuda bisa menjadi milikku." Mendengar ambisi Rosalin yang begitu besar, rasanya Brams sakit hati.


"Lalu setelah aku membunuh anak itu, apa yang akan kau berikan padaku ?


Ros, apa hidupku akan berakhir dipenjara ? Sementara kau bersama dengan lelaki itu." Tanya Brams dengan nada agak meninggi.


"Kau bisa pergi dari kota ini Brams, aku akan memberikan setengah harta kekayaanku. Disana kau bisa memilih wanita sesuka hatimu." Wajah Brams memerah akibat menahan amarah mendengar ucapan Rosalin


"Bukan uang atau hartamu yang kuinginkan, sepuluh tahun aku setia mengikuti ayahmu dan menuruti semua perintahmu, hanya untuk mendapatkan cintamu Ros."


Mendengar ucapan Brams barusan Rosalin sangat terkejut, ia tidak menyangka jika Brams mencintainya.


"De dengarkan aku Brams, bukan itu maksudku, kita berdua bisa bersenang senang, karena Yuda orang kaya, aku bisa memberimu sebagian, dan kau bisa mendapatkan wanita manapun." Brams menelan salivanya mendengar ucapan Rosalin.


Brams berdiri dan spontan memegang wajah Rosalin.


"Dirimu yang aku inginkan Ros, aku sangat mencintaimu, aku rela melakukan apa saja demi mengejar dirimu."


Cuiiih....


Rosalin yang mendapat perlakuan itu, berusaha berontak, ia menampar Brams namun tangannya dicekal oleh Brams.


Kini Brams mendorong paksa tubuh Rosalin hingga tersandar didinding.


"Brams Hentikan, aku akan memecatmu." Teriak rosalin. Dengan cepat Brams menyumbat mulut Rosalin dengan mulutnya. Rosalin yang berusaha menepis, ia menggigit bibir Brams sampai berdarah, tetapi Brams semakin melanjutkan permainan mulutnya.


Rosalin tidak berdaya, ia hanya mengeluarkan air mata. Brams mulai menjelajahi seluruhnya, satu persatu pakaian di robek paksa, seperti seekor binatang buas yang sedang melahap mangsanya.

__ADS_1


Rosalin diseret masuk kekamar Brams, lalu ia mengunci kamarnya, Brams kembali melancarkan aksinya, tak kuasa Rosalin terus menangis hingga akhirnya hilangnya mahkota yang selama ini dijaganya. Pertahanan kini jebol sudah.


Brams begitu menikmati permainannya, tak kuasa ia menolak gejolak hasrat yang sudah bertahun tahun ditahannya. Tiba tiba saja Rosalin datang kerumahnya membuat ia mendapat kesempatan itu.


Tiga kali pertempuran membuat Rosalin terpaksa pasrah dengan perbuatan Brams, ia ikut menikmati permainan yang baru pertama kali dilewatinya, lagi pula Brams juga adalah orang yang tampan. Namun ia tetap bertekad ingin mendapatkan Yuda.


Sementara dirumah sakit Hana baru saja melewati 12 jam, kini ia sudah sadar dan membuka matanya.


"Om Yuda, aku dimana ?" Sebuah senyuman kecil, dari wajah mungil pucat itu. Yuda yang melihat Hana sadar cepat cepat ia menghapus air matanya yang sedari tadi menetes.


"Hana kamu sudah sadar ? Tenang dulu, kamu ada dirumah sakit Hana, kamu terkena tembakan." Mendengar ucapan Yuda, akhirnya Hana mengingat kembali kejadian yang menimpanya saat itu.


"Ka Steven dimana om ?"


Deeeggg


Mendengar ucapan Hana yang memanggil Steven dengan ucapan kakak, Yuda merasa kesal dan sangat cemburu, namun ia berusaha menyembunyikan perasaan itu.


"Oh Steven, dia tidak kemana mana, sekarang kau dirumah sakitnya, dia sedang istirahat sebentar diruangannya."


"Iya om." Lagi lagi Yuda menelan pahit, Hana memanggilnya om.


Pintu ruangan Hana dibuka kembali, Steven yang baru saja datang langsung menghapiri Hana, melihat gadis kecil itu sudah sadar, sirat kebahagian nampak di wajah Steven. Sedang Bambang sudah pulang lebih dulu.


"Amiiin Ya Allah, akhirnya setelah 12 jam siuman kamu sudah sadar dek."


"Terima kasih telah menolongku kak." Hana memberikan senyuman terbaiknya untuk Steven.


Sedangkan kehadiran Yuda seolah saja mereka tak menganggapnya, jika melihat itu rasanya Yuda ingin menghabisi Steven, mengingat kondisi Hana ia berusaha tetap diam.


"Kak, bagaimana dengan asrama, apa kakak sudah menghubunginya ? Pasti pak Haris dan bu yanti sedang bingung memikirkan aku." Tanya Hana pada Steven.


"Sudah Hana, kamu jangan banyak fikiran dulu, istirahat yang cukup. Kalau soal mereka biar kakak saja yang mengurusnya."


Dalam Hati Yuda berfikir. "Huu, sudah cepatan pergi sana, jauh jauh dari gadis kecilku, malas lihat kamu terlalu lama didekatnya."


Steven yang seakan mengetahui isi hati Yuda, rasanya ia ingin berteriak menertawakan lelaki bodoh didepannya ini.


Yuda dan Steven keduanya diam seperti orang asing, Hana memperhatikan tingkah aneh mereka.

__ADS_1


"Ehmm... Aduh sakiit." Seru Hana yang sengaja mengalihkan gerak gerik aneh kedua lelaki tampan di hadapannya ini.


Yuda dan Steven bersamaan memegang pundak gadis kecil mereka.


"Kamu kenapa dek, dimana yang sakit ?" Tanya Steven.


"Apa yang sakit Hana ?" Tanya Yuda.


Keduanya sangat khawatir, namun Hana menatap dalam kedua lelaki didepannya ini. Ia tau kedua lelaki ini sangat peduli padanya, disatu sisi Yuda adalah jodoh yang diberikan tuhan untuknya dan akan menjadi pendampingnya, sedang Steven adalah sahabat sekaligus sebagai seorang kakak yang selalu akan menemaninya dalam meraih mimpi.


"Aku, lenganku sakit." Jawab Hana singkat


"Mungkin itu hanya efek dari luka dalammu Hana, aku sudah memberikan obat terbaik untuk meredahkan rasa sakitnya." Jawab Steven.


"Iya dek, kamu jangan takut. Aku tidak akan meninggalkanmu." Yuda menimpali.


"Iya om, maafkan aku atas kejadian ini." Hana.


"Berhenti menyalahkan dirimu, ini bukan hal sepele Hana, aku tidak akan melepaskan orang orang yang ingin berbuat jahat padamu." Ucap Steven dengan tegas, sekilas ia menatap Yuda.


"Hmm... Aku akan memberikan bayaran setimpal dengan perbuatan mereka padamu Hana." Jawab Yuda.


"Steven bisa aku menitip Hana padamu, untuk beberapa waktu aku akan pergi." Walau berat rasanya, Yuda terpaksa harus pergi, sebentar lagi Ronal akan datang menjemputnya.


"Kau mau pergi kemana bro ?" Tanya Steven tiba tiba.


"Ada hal yang harus aku selesaikan Steven, mungkin Hana akan aman berada didekatmu. Aku percaya padamu."


Perlahan Yuda mendekati Hana, dia kembali menghambur haburkan rambut Hana layaknya mainan digengamannya, barangkali itu kesukaannya.


"Kamu tunggu aku disini Hana. Steven, aku mengirim beberapa pengawalku untuk berjaga dirumah sakitmu."


Mendengar jawaban Yuda, Steven sangat marah. Yuda seenaknya mengirim para penjaga di sekitar area rumah sakitnya, seakan Steven tidak bisa menjaga Hana.


Bahkan Steven bisa lebih hebat dari Yuda ia bisa mengirim beberapa anggota organisasi yang tergabung dalam kelompok mereka. Namun ia mengurungkan niatnya, sehingga Steven bermain dibelakang layar agar Yuda juga tidak merasa curiga kalau Steven mencurigainya.


Yuda terpaksa meninggalkan Hana di tempat itu, ia tahu bahwa sahabatnya itu hanya ingin menyelamatkan gadis kecilnya, entahlah seberapa jauh Hana dan Steven saling mengenal.


Sampai di depan Rumah sakit, asisten Ronal sudah menunggunya, ia menyiapkan pengawalan ketat untuk Hana, kemudian mereka melaju menuju perusahaan mobil terbesar dikota itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2