
Di tempat lain, Terre dan Ronal baru saja akan pulang setelah selesai mengobati Luka Ronal.
Terre yang sedang asik mengemudikan mobil langsung bertanya pada Ronal, kemana ia akan membawa tuannya.
"Ak aku akan membawamu kemana tuan ?" Tanya Terre pada Ronal.
"Antar aku pulang ke Apartemenku saja Terre." Ucap Ronal dengan wajah datarnya.
"Mmm... Kenapa kamu masih sangat dingin seperti itu Ronal, padahal aku telah membantumu menyelamatkan hidupmu." Batin Terre yang wajahnya berubah sedih, seakan setebal kabut yang mulai menghitam di langit siang.
Sedang Ronal sesekali melirik Terre tanpa ia ketahui. Senyuman kecil kini mengembang diwajahnya, tak menyangka Terre berkorban untuk dirinya.
Tiba di kediaman Ronal, tak sengaja Terre melirik Ronal yang sedang menatapnya. Dengan canggung Ronal berucap.
"Terima kasih Terre untuk semuanya, oh ya aku tidak menyangka kehebatanmu."
Untuk pertama kalinya Terre mendengar ucapan terima kasih dari Ronal. Rasanya mau copot jantungnya, raut wajahnya sangat bahagia saat ini.
"Tuan, aku akan kembali ke perusahaan, kalau ada apa apa kau bisa menelponku, dan jangan lupa minum obatnya."
Ronal memberikan senyum manisnya dan menganggukkan kepalanya. Terre kemudian pergi.
Sepanjang perjalanan hatinya sangat berbunga bunga karena Ronal mulai merespon dirinya.
Sedang dirumah sakit terlihat Hana sedang disuapi oleh Yuda. karena dia memaksa mau tidak mau Hana menerima suapannya.
"Uuumm sudah sudah om aku masih kenyang." Tolak Hana ketika Yuda menyuapkan bubur kemulutnya.
"Makan dulu adikku sayang, biar cepat sembuh, katanya mau pulang ke asrama, tapi kok malas makan.
Ayoo buka mulutnya ya sayang... " Goda Yuda pada gadis kecilnya.
"Aku tadi sudah makan om, di suapin sama kak Steven." Wajah Yuda kini berkerut mendengar ucapan gadis kecilnya.
"Lagi lagi Steven melulu.
Kapan ya, aku seperti Steven yang namanya selalu disebut sebut."
"Idiiiih om, biasa aja kali, lebay bangat ya. Atau om cemburu kan ?"
"Jelas donk, mana ada seorang lelaki yang tidak cemburu melihat calon istrinya berdekatan dengan pria lain."
"Hahaha... " Hana tertawa terbahak bahak hingga membuat, luka perban dibahunya merasa sakit.
__ADS_1
"Semuanya tidak seperti yang om fikirkan, kak Steven itu orang yang baik."
"Hmmm... terserah kamu saja Hana."
"Om jangan marah, aku sama kak Steven tidak ada hubungan apa apa, aku hanya menganggapnya sebagai kakakku."
"Temaaan atau demaaan...
hahaha"
"Iiih, om jahat amat..." Wajah Hana kesal di jahili sama Yuda.
"Kalau gitu makan lagi ya, ayo buka mulutnya, cepat..
Aaaammm..."
"Sudah aku tidak mau makan om, berhenti main mainnya. Om jahat..." Sahut Hana.
"Hana, bisa tidak kamu memanggil aku tidak dengan sebutan Om, ketuan bangat kalau kamu memanggil aku om."
"Lah, memang orangnya sudah tua kan..."
"Kamu tuh yah sayang kalau di bilangin selalu tidak mau dengar, pokonya aku tidak mau dengar kamu panggil aku dengan sebutan om.
Steven saja kamu panggil kakak, usiaku tidak terpaut jauh sama dia. Lagian nih ya, aku calon suamimu..."
Hahaha, benaran kan."
Hana tertawa lepas akibat ulah Yuda, dengan segera ia mengacak rambut adik kecilnya yang kini menjadi kebiasaan barunya. Betapa bahagia hati Yuda melihat gadis kecilnya bisa seceria itu.
"Kalau benaran cemburu gimana ?"
"Cemburu, hahaha... ampuuun deh kalau gitu om, oups salah. Aku bingung panggil apaan." Sambil menutup mulutnya Hana menjawab ucapan Yuda.
"Panggil dengan sebutan sayang saja bagaimana ?" Ucap Yuda dengan santainya sementara Hana kedua matanya membulat sempurna mendengar ucapan Yuda.
"Aaaah tidak mau, aku tidak mau panggil sayang, nanti kata orang apa..."
"Ya sudah panggil kakak saja kalau kamu tidak mau panggil aku dengan sebutan sayang, asal jangan panggil om ya."
"Ia ia bos, siap mengikuti perintah."
Melihat tingkah Hana yang seperti itu membuat hati Yuda bahagia, dalam hati ia berucap.
__ADS_1
"Aku memang cemburu padamu, aku tidak menduga kamu dikelilingi orang orang hebat. Aku yakin kamu adalah permata kecilku, walau aku mengenalmu hanya gadis kecil yang bersekolah di SMP tetapi semakin lama, aku merasa kamu bukanlah gadis kecil biasa Hana. Beruntungnya aku, karena nenek aku bisa dijodohkan denganmu. Aku sangat yakin ada hal lain yang membuat kita dijodohkan." Yuda melamun, panjang lebar ia memikirkan tentang gadis kecil di depannya ini.
"Kamu kenapa ka kak ?" Tanya Hana yang masih berat dengan ucapannya. Yuda memberikan senyuman terbaiknya.
"Aku hanya memikirkan tentang kita sayang."
Hana mengalihkan ucapan Yuda.
"Aku ingin cepat pulang, tapi katanya kak Steven aku tidak boleh terlalu banyak gerak, karena lukanya masih basah."
"Dengarin apa kata dokter sayang, biar kamu bisa cepat sembuh, jangan pulang dulu sebelum sembuh, aku akan disini berjaga untukmu.
"Selama aku bangun, aku tidak perna melihat om Ronal, memangnya dia dimana ? Tumben kakak tidak bersama dengannya."
"Ronal sedang terluka sayang, saat ini Terre asisten perusahaanku sedang membantunya."
"Terluka, memangnya Om Ronal terlibat masalah."
"Dia itu belum nikah sayang, berhenti memanggilnya om, dia terluka karena sedang mencari bukti penembakanmu waktu itu."
"Apa !!! penyebabnya karena aku...? "
"Sudahlah sayang jangan fikirkan Ronal, dia baik baik saja. Disana Terre sedang mengurusnya.
Kamu jangan khawatir, " Yuda meyakinkan Hana, hingga tidak ada ucapan yang keluar dari mulutnya.
Sedang ditempat lain anak buah Rosalin belum bisa menembus rumah sakit tempat Hana dirawat saat ini.
"Bagaimana cara kita masuk kesana, penjagaan tempat itu sangat ketat, apa tidak ada cara lain yang kita gunakan selain menembus tempat itu. Apa kita tidak akan merubah rencana kita ?" Tanya seseorang dari anggota kelompok mereka.
"Kurasa tidak perlu, ayo turun." Ajak seseorang dari mereka, ketika ia melihat ada seorang suster yang sedang berjalan ke arah sampah rumah sakit.
Dengan kecepatan orang itu membekap mulut sang suster dengan lenso yang sudah mereka bius, hingga akhirnya suster itu pingsan, lalu menyeretnya ke mobil.
Mereka membawa suster itu ketempat sepi, yang tidak jauh dari rumah sakit. Lalu ia mengabil pakaian kerja yang dipakainya, lalu salah satu wanita dari kelompok mereka menggunakan pakain itu.
Setelah merasa berhasil, mobil itu menurunkan kelompok mereka di sekitar sampah tempat suster tadi berjalan. Lalu mereka masuk, penyamaran berhasil dilakukan, kelompok yang lain sedang berjaga didalam mobil.
Orang itu terus mencari keberadaan Hana, satu persatu ruangan rawat pasien dimasuki dan di perhatikan belum ada tandanya wanita yang dalam foto pegangan mereka sedang dirawat.
"Apa benar rumah sakit ini tempat perawatan target yang kami cari, sampai sekarang aku belum melihat wajah anak ini.
Atau mungkin bos salah kasih informasi rumah sakit ini." Batin orang yang sedang mencari ruangan Hana.
__ADS_1
Aku akan coba mencarinya sekali lagi, jika target tidak ada disini, aku akan coba keluar dari tempat ini."
Bersambung....