
Di tempat yang Lain Rosalin dan Serina masih belum percaya Dengan hadiah yang Hana berikan waktu acara ulang tahunnya, beserta dengan setumpuk uang pecahan seratus yang di berikan kepada temannya saat menuduh Hana sebagai pencuri.
"Mama lihat sendiri kan, lelaki pilihan nenek, dia itu kaya raya ma, aku sedang mengejar lelaki yang aku idamkan ma, untuk hadiah ulang tahun mama saja dia rela memberikan tas mahal yang harganya mendunia." Ucap Rosalin.
"Kamu benar sayang, tapi mama mengorbankan harga diri mama hanya untuk itu. Teman mama menuntut ganti rugi untuk semuanya, bahkan uang setumpuk yang diberikan Yuda pada teman mama dimintanya bagi dua." Mata Rosalin terbelalak mendengar mamanya bercerita.
"Apa ma, dia meminta uang itu di bagi dua ?
Bukannya kita sudah memberikan fii untuknya."
"Kamu tau kan teman mama itu seperti apa, bahkan dia rela mengorbankan nama usahanya hanya untuk membantumu.
Apa kamu mau teman mama itu, buka mulut dengan kejadian sebenarnya. Mama tidak punya cara lain untuk membungkam mulutnya."
"Ya sudah terserah mama, aku malas dengarnya, yang jelas Yuda harus jadi milikku, dan Hana harus mati, agar dia tidak lagi menjadi penghalang hidupku."
Rosalin pergi meninggalkan mamanya seorang diri. Ia masuk kekamar, membanting pintu dengan kasar dan menelpon seseorang.
"Halo Brams, bantu aku selidiki wanita yang kemarin kau buang itu. Aku ingin dia mati secepatnya, jangan ulur waktumu karena kau sudah perna melakukan kesalahan. Jika kau gagal maka kali ini aku tidak akan memaafkanmu."
"Baiklah kalau itu yang kau inginkan, demi dirimu aku akan melakukan tugasku." Kata Brams mengakhiri panggilnnya.
Sebenarnya Brams sangat mencintai Rosalin, 10 Tahun bekerja diperusahan Rosalin, bersama almarhum papanya membuat Brams jatuh hati pada anak bosnya itu. Rosalinlah yang tidak perna melihat cinta dimatanya, Brams rela melakukan apa saja demi dirinya.
...***...
Pagi harinya Hana dijemput Steven di asrama dan meminta izin untuk membawa Hana, berhubung Steven adalah salah satu Panitia dan guru pembimbingnya, maka dia sangat mudah membawa Hana keluar dari tempat itu.
"Apa kau siap Hana melakukan semuanya ?"
"Iya kak, dimana lab itu ? Aku tidak sabar melakukannya." Mobil meninggalkan asrama. Sedang Hana masih saja kepikiran Yuda, semenjak tiba di asrama belum ada satupun kabar dari Yuda.
__ADS_1
"Apa secepat itu om Yuda melupakan aku ?" Tanya Hana dalam hatinya.
"Hana, kamu kenapa melamun ?"
"Eh tidak kak, aku hanya lagi memikirkan uji coba lab saja." Ucap Hana dengan wajahnya yang memerah.
"Yang benar kamu, atau kamu lagi memikirkan jodoh yang diberikan nenek untukmu ya." Steven menerka nerka apa yang difikirkan gadis polos disampingnya ini.
"Apaan sih kak Steven, buat apa memikirkan hal yang tak penting." Sanggah Hana.
"Yuda itu adalah pemilik perusahaan mobil terbesar di kota ini.
Kamu lihat mobil sport kaka ini juga produksi dari perusahaannya. Bahkan yang aku perna lihat di struktur beberapa rumah sakit Desa, ada nama Yuda tertera sebagai pemiliknya. Apa kamu tau itu Hana ?"
"Apa benar beritu itu kak, aku juga tidak perna mengetahui identitas om Yuda. Hana merasa kaget dengan penuturan Steven.
"Mungkin ini maksud nenek karena banyak membantu orang tuanya itu sebabnya mereka menjodohkannya karena dia adalah orang yang mapan, kalau kata kasarnya berarti dijual, karena mereka menerima uangnya maka aku yang diberikan sebagai barangnya." Itulah pemikiran Hana tentang neneknya yang memaksa dirinya.
"Hehehe... Hana, apa kamu memanggilnya dengan sebutan Om." Steven terkekeh mendengar ucapan Hana.
"Iya kak, aku hanya tidak menyangka semua itu, terimakasih telah mengingatkan aku." Hana sangat tahu betul dengan sifat Steven yang seperti itu, karena mengkhawatirkan dirinya.
"Apa Yuda mengetahui identitasmu yang sebenarnya sebagai seorang peneliti Dunia, dan tergabung dalam organisasi LIPI, bahkan kau sudah mendapat gelar profesor dan untuk sekolahmu kau juga dinyatakan lulus S2 tanpa harus mengikuti kuliah umum, setelah berhasil mengikuti Lomba Nasional ini."
"Be belum kak, tolong kakak jangan katakan soal ini, aku masih merahasiakan semuanya kak, biarlah dia menilai aku seperti anak sebayaku saja.
Ada hal yang masih aku cari tahu kak di keluarga om Yuda, salah satunya yang menjadi pendonor ginjal untuk adikku, karena keluarganya meminta merahasiakan identitasnya. Yang kedua apa maksud nenek dan ayahnya Yuda memaksaku bahkan mereka ingin aku secepatnya menikah dengan om Yuda.
Kita bahkan sudah hidup di zaman yang serba canggih dan moderen kak, kenapa harus ada acara perjodohan, apa karena aku dan kedua orang tuaku adalah orang susah ?"
"Jadi karena itu kamu merahasiakan identitasmu.
__ADS_1
Sebenarnya kamu tidak susah Hana, hanya kamu saja yang selalu menolak hadiah Profesor Prayitna, aset yang sudah disediakan untukmu juga sudah begitu banyak, karena kamu berhasil menciptakan salah satu obat yang bahkan Dunia juga ingin menciptakan itu. Andai saja kamu mau menerima dan mengambil hakmu itu, mungkin kedua orang tuamu tidak akan hidup menderita, begitu juga Hanum adikmu." Ucapan Steven membuat Hana sedih.
"Aku hanya tidak ingin orang tuaku menuduhku hal yang bukan bukan kak, begitu mudah melakukan semuanya tapi tidak dengan mendapatkan kepercayaan dari kedua orang tua, mereka menganggapku manusia aneh, kenapa tiba tiba anak sekecil aku punya uang yang banyak dan beberapa aset diluar bahkan sampai di Luar Negeri, jelas saja mereka menganggapku gila. Aku hanya menitipnya pada profesor kak, karena di usiaku ini belum pantas mengelola semuanya. Dengan usahaku sekarang, perlahan aku akan membuktikan kepada kedua orang tuaku kalau semua itu adalah memang pantas kumiliki."
"Hmmm... Terserah pendapatmu saja Hana, aku sebagai orang orang terdekatmu hanya bisa membantu dan selalu melindungimu.
Sekarang kita sudah sampai ayo turun."
Keduanya sampai di tempat sepi yang hanya ada satu bangunan besar berdiri dan menjulang tinggi. Keduanya melangkahkan kaki masuk ke bangunan itu.
Setelah memasukkan kode masuk mereka, pintu terbuka lebar dan menampilkan ada beberapa manusia didalam bangunan itu.
"Selamat datang kembali profesor kecil, semuanya telah menunggumu."
"Selamat datang juga kak, bagaimana kabar kalian, apa profesor Helena juga akan datang ?"
"Profesor tidak akan datang, beliau hanya menitip pesan agar kau yang akan melakukan lanjutan penelitiannya."
"Baiklah kak, tetapi untuk sementara kita akan menunda penelitiannya karena aku datang bersama kak Steven untuk melakukan uji coba perlombaanku." Hana kemudian mengeluarkan sample sample penelitian yang dilakukan berdasarkan aseptasinya sendiri.
"Profesor Hanaya Rafael, sedang menciptakan sebuah produk terbaru yang telah menjadi mimpinya sudah sejak lama, untuk itu kita harus membantu meneliti lebih detil tentang manfaat dan hasilnya."
Mendengar ucapan Steven, salah satu anggota organisasi LIPI itu membantunya menuju tempat duduk Hana. Selang beberapa menit mereka akan melakukan uji coba, pintu utama kembali terbuka memperlihatkan seorang lelaki berbadan pendek dan agak berisi berjalan masuk kearah mereka.
"Apa aku terlambat datang ?" Tanyanya.
Hana tersenyum lebar setelah mengetahui siapa yang datang itu seorang Direktur Yayasan Universitas Kedokteran, ia membungkukkan badannya. "Tepat sekali, baru saja kami akan memulainya pak."
Semuanya mempersiapkan diri dan akan melihat langsung bagaimana seorang gadis kecil menjabarkan hasil penelitian yang dilakukannya seorang diri.
Profesor Hanaya Rafael anak jenius dari Desa, yang juga tergabung dalam anggota organisasi LIPI, atau biasa disebut Organisasi Penelitian Dunia.
__ADS_1
Bersambung lagi kak....
Jangan lupa Vote, like dan tambahkan ke favorite, biar authornya tetap semangat nulis.