
Tidak berlangsung lama sampailah Hana dan kakaknya Steven di depan Asrama. Terlihat disana sudah ada ibu asrama menunggu kedatangannya, begitu juga dengan pak Haris dan bu Yanti. Saat melihat Hana turun dari mobil Steven, bu Yanti langsung menghapiri dan memeluknya.
"Hana, apa yang terjadi padamu nak ?" Tanya bu Yanti sambil mengeluarkan air matanya.
"Aku, aku baik baik saja bu, jangan khawatirkan aku." Jawab Hana.
"Bagaimana kami tidak khawatir Hana, itu menyangkut keselamatanmu." Ucap pak Haris menimpali.
"Iya pak, bu tetapi aku baik baik saja sekarang, ada kak Steven yang menjagaku.
Aku bersyukur saat itu Kak Steven ada disana." Jawab Hana sambil meneteskan air matanya.
"Sudah sudah, ayo bapak ibu kita bicara didalam saja, lagian adik Hananya kan sudah selamat, ayo masuk semuanya." Ajak ibu asrama yang tiba tiba menghampiri kami.
Semuanya kini masuk mengantarkan Hana, bu Yanti dan pak Haris merasa bahagia, akhirnya Hana kembali. Karena walapun bagaimana, Hana juga adalah tanggung jawab mereka, di tempat ini ia sedang menuntut ilmu.
"Oh ya Hana, memangnya kamu punya musuh di kota Jakarta ini ?" Tanya bu Yanti yang sudah sangat penasaran sedari kami masuk.
"Aku juga tidak mengerti bu, mengapa orang orang itu mengincar nyawaku."
"Memangnya apa yang kamu lakukan di Jakarta selama sebulan." Tanya bu Yanti lagi, sedang yang lain asik menyimak pembicaraan kami.
"Aku hanya tinggal dirumah keluarga, sambil belajar bu." Jawab Hana yang sengaja menyembunyikan mengapa dia ada di kota ini.
"Iya bu Yanti, mungkin orang itu tidak sengaja menembak atau tembakannya yang terpeleset, untuk sementara orangku sedang menyelidikinya." Terang Steven yang sudah tau akan kemana arah pembicaraan bu Yanti.
"Ya sudah pak, bu, kan Hananya sudah selamat, kita biarkan saja dulu dia istrahat, kan kasihan baru datang sudah di tanya seperti itu." Jawab ibu Asrama.
"Iya bu Yanti, Yang terpenting Hana sudah selamat, kita doakan saja semoga tidak akan terjadi apa apa lagi dengannya." Ucap pak Haris sebagai kepala sekolahnya Hana.
Hana berpamitan dari orang orang yang sangat berjasa baginya itu, ia masuk ke kamar asramanya untuk istirahat.
Rasa lelah ditubuhnya berganti dengan rasa kantuk. Ia mulai mengucek ngucek matanya, perlahan ia teringat Yuda calon suaminya itu.
"Dimana sebenarnya kak Yuda ?
Kenapa lelaki itu sangat misterius ?
Ada orang yang mengincar nyawaku. Apa ini ada kaitannya dengan kak Yuda ?" Tanya Hana dalam hati.
__ADS_1
Perlahan ia mengambil telpon genggamnya, saat membukanya ia melihat pesan whatsapp yang masuk dari ayah, Hanum, dan juga Yuda yang menjadi pusat perhatiannya adalah dari Yuda.
Saat dibuka, ternyata isinya foto foto kebersamaan terakhirnya bersama Yuda malam itu, rasanya ia mulai merindukan lelaki yang kini sebentar lagi akan jadi suaminya itu, masih belum percaya dengan kehidupannya saat ini, tapi itulah kenyataannya.
"Assalamualaikum kak, bagaimana kabarmu ?" Meski ragu Hana coba mengirim pesan whatsapp untuk Yuda untuk pertama kali.
Sedang Yuda yang berada di mobil, langsung mengambil hp miliknya dari saku. Saat dilihatnya Hana yang mengirim pesan whatsapp itu, rasanya ia tidak percaya.
Senyumnya kini melebar dengan jelas, binar bahagia terpancar diwajahnya saat mendapatkan pesan itu, langsung saja ia membalas pesannya.
"Walaikumsalam adikku sayang, aku sedang baik baik saja. Saat ini, aku sedang di Bandung bersama Ronal.
Kamu sudah baikan kan ?"
"Ia kak alhamdulillah sudah, aku sekarang ada di asrama, kak Steven yang mengantarku."
"Iya dek, jaga kesehatan. Jangan lupa minum obat ya..."
"Iya makasih yah, kak Yuda selama ini sudah baik sama aku. "
"Masa ia aku jahat, hehehe... Aku kan calon suamimu."
"Oh iya kak, kapan pulangnya ?" Aku coba mengalihkan pertanyaan kak Yuda.
"Aku janji tidak akan lama disini. Setelah mengurus beberapa masalah perusahaanku aku akan cepat kembali."
"Kamu di asrama jadi anak yang baik, rajin belajar yah biar aku bisa bangga memilikimu."
"Kasihan juga kak Yuda, segitu dalamnya masalah perusahaannya, tetapi aku bisa apa, itukan masalah perusahaan, anak kecil seperti aku tidak ada gunanya." Batinku.
"Iya kak itu pasti. Oh iya, sudah dulu ya. Aku mau istrahat, kakak jaga diri disitu."
"Iya dek, makasih yah atas perhatiannya. Bye syng."
Itulah pesan whatsapp Yuda yang terakhir, setelah dibaca, Hana tidak lagi membalasnya, ia segera membersihkan diri, lalu istirahat. Baginya sudah cukup saat mendengar lelaki itu baik baik saja.
Di tempat lain, Rosalin yang baru sampai dirumah Brams, terus menghubungi nomornya. Masih saja di luar jangkauan.
Rosalin mencoba membuka pintu pagar yang memang tidak di kunci, lalu ia masuk kerumah Brams, karena memang sudah biasa orang yang berjaga disana tidak mempersoalkan itu, mereka tahu siapa Rosalin bagi Brams.
__ADS_1
"Brams, Brams.. Kau dimana ? Teriak Rosalin saat masuk di pintu utama. Seorang pelayan yang mendengar Rosalin berteriak datang menghampirinya.
"Ma maaf nyonya, tuan Brams dari semalam belum pulang kerumah, terakhir keluar katanya dia akan ke kantor."
"Apa !! Brams belum kembali dari semalam ?" Masih belum percaya Rosalin kembali bertanya, karena tidak biasanya Brams seperti ini.
"Iya nyonya pak Brams belum kembali." Jawab pelayan meyakinkan. Rosalin semakin berfikiran tak karuan, dadanya semakin bergetar naik turun tak menentu.
"Dimana Brams sebenarnya, apa benar dia ada di kantor ?
Kenapa dia tidak menghubungiku jika ada di kantor ?
Apa terjadi sesuatu pada Brams ?" Batin Rosalin.
Setelah selesai bertanya Rosalin kembali mengambil mobilnya, ia segera melaju menuju ke perusahaan miliknya, saat sampai disana Rosalin belum juga menemukan Brams.
"Astagaa Brams, aku capek kamu dimana sih, awas saja kalau aku sampai menemukan dirimu, akan aku buat kamu berfikir dua kali untuk meninggalkanku." Maki Rosalin.
Beberapa karyawan mulai melihat kearahnya, seperti seseorang yang sedang khawatir.
"Nyonya, apa yang bisa kami kerjakan untukmu ?" Tanya Seorang karyawan yang memberanikan diri menghampirinya.
"Aku, aku sedang mencari Brams, apa kalian melihatnya ?"
"Pak Brams sudah dari pagi tidak masuk, terakhir datang kemarin sore, setelah itu pergi lagi entah kemana." Ucapan yang membuat Rosalin sedih, tetapi tidak dinampakkan dihadapan para bawahannya.
"Iya bos, aku juga sudah dari pagi menghubunginya tetapi nomornya tidak bisa di hubungi." Jawab karyawan lain yang jg datang menghampiri Rosalin.
Merasa tak nyaman karena para bawahannya mulai bertanya tanya kemana perginya Brams, dengan terpaksa Rosalin mencairkan suasana.
"Ya sudah dilanjutkan saja kerjanya. Sekarang buabar dulu, kita tunggu saja kabar dari Brams, siapa tahu sebentar lagi dia akan datang." Tukas Rosalin lalu berjalan masuk ke ruang pribadinya.
Sampai diruangan tidak lupa Rosalin menghubungi mamanya, mengabarkan tetang hilangnya Brams. Entah pada siapa dia akan bercerita, saat ini Bramslah orang yang paling dekat dengannya, lalu tiba tiba dia menghilang.
"Apa jangan jangan Brams...?
Tidak, tidak mungkin, semoga saja bukan Brams."
Rosalin mengingat tragedi kecelakaan yang disiarkan di televisi itu, saat bersama tepat hilangnya Brams.
__ADS_1
Bersambung....!!!