
Besok harinya.
Seperti biasa Yuda Nugraha, seorang direktur muda perusahaan Abadi Group Corporation, bersama orang yang selalu ada disampingnya Ronal. Sudah memasuki gedung besar pencakar langit itu.
"Ronal, hari ini kita ada jadwal meeting dengan Kepala Unit dari beberapa cabang. Tolong kau perintahkan kepada Terre, menyiapkan semua keperluan datanya.
Aku ingin melihat sejauh mana penjualan kita, dan bagaimana dengan strategi pasar mereka !" Ucap Yuda, sambil berjalan memasuki ruang pribadinya.
"Baiklah Bos. Oh iya, bagaimana dengan produksi ? Apa kita akan membahasnya di meeteng nanti ?" Tanya Ronal.
Kurasa untuk produksi kita sudah sangat berlebihan, belum ada hal yang perlu dibahas. Beberapa perusahaan yang bekerja sama juga masih tetap mensuplay kebutuhan kita. Terang Yuda.
"Oke, kalau begitu aku pergi dulu bos." Pamit Ronal dan berlalu pergi dari ruangan itu.
Sebelum masuk keruang kerjanya, Ronal menghampiri Terre yang sedang asyik mengotak atik layar di depan matanya.
"Selamat pagi Terre, apa kau sedang sibuk hari ini ?" Sapa Ronal dan bertanya.
Terre tersenyum melihat siapa yang datang, sambil menunjukkan hasil kerjanya dan menjawab. "Selamat pagi kembali Tuan. Ini lihat itu, aku hanya mengontrol unit kita di bagian penjualan yang tercapai target Money Market bulan kemarin."
"Oh itu Cabang Unit dalam kota Terre, salah satu unit cabang yang dipegang oleh Angga dan dua lainnya adalah Cabang Unit luar kota." Ronal memperjelas.
"Benar Tuan, bukankah dia temanmu ? Aku tidak menyangka dengan hasil yang dia berikan. Sudah Tiga bulan ini, Kepala Unit baru itu membuatku kagum."
"Terre, kamu jatuh cinta pada pekerjaannya itu sudah biasa, awas kamu jatuh cinta pada orangnya itu berbahaya." Canda Ronal.
"Huu... Apaan sih Tuan, ngaco deh..." Sahut Terre.
"Ada pekerjaan untukmu Terre, Tuan muda menyuruhmu menyiapkan file untuk meeting nanti." Ucap Ronal yang mengalihkan candaannya dan berlalu pergi meninggalkan Terre.
Sekilas Terre menatap nanar punggung belakang yang semakin menjauh dari ruangannya itu. Wajah Terre berubah sedih.
Ronal tidak perna melihatnya, baru saja Terre ingin bercanda Ronal meninggalkannya. Sifatnya yang dingin dan cuek itu, membuat Terre semakin mengejarnya.
"Sampai kapan kau akan membalas perasaanku Ronal, wajah dinginmu itu membuatku semakin ingin memilikimu, Apakah aku harus menunggumu sampai hari tua ? Kau sama saja seperti Tuan Besar Yuda yang tak mau mengenal wanita." Gerutu Terre seorang diri.
Terre hanya bisa bersabar menunggu lelaki itu jatuh hati padanya. Sudah bertahun tahun ini, mereka berdua bekerja di perusahaan yang sama sebagai orang inti perusahaan yang di percaya Yuda dapat menghandle pekerjaan apalagi ketika Yuda sedang berada diluar. Sedang Ronal bekerja sekaligus mengurus perusahaan saham milik Yuda di Luar Negeri, bagi Yuda, Ronal adalah orang terpercaya yang di anggapnya keluarga.
Setelah menyelesaikan beberapa data yang diminta, Terre bergegas dan beranjak dari duduknya.
Tok... tok... tok...
"Permisi Tuan, boleh saya masuk."
"Masuk saja Terre, aku tahu kamu yang datang, siapa lagi yang boleh memasuki ruanganku selain Ayah, hanya kamu dan Ronal. " Ucap Yuda tegas.
__ADS_1
"Hmmmp... pantas saja Ronal begitu dingin, bosnya saja sama juteknya." Terre membuang nafas kasarnya, dan berfikir sejenak sebelum melangkah masuk keruangan bos besarnya.
Setelah menyerahkan dokumen penting, Terre menceritakan soal kinerja Angga pada Yuda.
"Aku sangat terkesan dengan Kepala Unit baru itu, Setelah meeting selesai nanti, kau ajak dia bertemu denganku, aku akan memberi hadiah untuknya.
Hari ini, selain Ronal kau juga akan ikut meeting denganku Terre." Ucap Yuda.
Sedang di apartemen Hana menghabiskan waktunya untuk belajar, tidak terasa hari sudah sore, Hana kemudian teringat akan pesan dari kakaknya Rosalin. Malam ini ada acara Ulang Tahun dirumahnya. Kini Hana semakin bingung harus memakai gaun yang mana. Maklum selama ini tinggal di Desa, belum perna merayakan acara Ulang Tahun orang dewasa.
Tok... tok...
Pintu diketuk seseorang. Tanpa berfikir, Hana langsung berlari membuka, seorang kurir pembawa paket sedang berdiri di depannya.
"Apa betul ini dengan nona Hana ?" Tanya sih tukang kurir.
"Ya benar. Ada yang bisa kubantu pak ?" Jawab Hana.
"Maaf mengganggumu nona, ini ada paket untukmu. Tolong kau tanda tangan nota terima barang ini."
"Aku mendapat paket, tetapi dari siapa ?" Bathin Hana. Masi agak sedikit ragu, nama pengirim juga tidak tertera, tetapi Hana terpaksa menandatanganinya.
Kurir kemudian pergi, terheran Hana sekali lagi melihat dan meneliti dengan seksama paket itu. Benar, tertuliskan namanya Hanaya Rafael.
Hana membuka paketnya. "Waaauw... Indahnya gaun ini, apa benar ini diberikan untukku ?"
Saat sedang dalam kebingungan, telpon selulernya berdering, sebuah pesan masuk.
"Apa kau menerima paketnya ? Itu hanya gaun biasa Hana, semoga kau suka, harganya juga tidak seberapa, aku harap kamu memakainya saat acara malam nanti. Begitulah bunyi isi pesannya yang ternyata pengirimnya adalah Rosalin.
"Astagaa... gaun indah ini dari kakak Rosalin, pasti harganya sangat mahal, aku sangat terharu, aku bahkan belum perna memakai gaun seindah ini apalagi bermimpi untuk memilikinya. Pantas saja kak Ros menulis nama lengkapku di paket itu." Hana sedikit melamun lalu membalas pesan kakaknya.
"Ternyata ini darimu kak, Terimakasih untuk gaun indah ini, aku sangat bahagia."
Setelah membalas pesan Rosalin, Hana mengenakan gaun cantik itu, rona mukanya yang berseri, menjadi merah mudah itu, menunjukkan begitu bahagianya Hana saat ini. Sambil bercermin Hana berputar putar memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah bak seorang putri cantik jelita.
Hana berhenti sejenak, mengingat akan hadiah untuk kakaknya nanti.
"Oh, aku hampir lupa belum membeli hadiah, sekarang sudah sore, aku akan coba hubungi om Yuda, agar dia membantuku memilihkan hadiah untuk kak Ros." Hana terhenti, lalu segera mencari telepon genggam miliknya.
Setelah mengotak atik layar handphonenya, Hana lupa kalau nomor Yuda belum disimpannya.
"Haiiiss... Bagaimana ini, aku belum mengambil nomor om Yuda, bagaimana aku bisa membeli hadiah." Hana semakin kebingunggan apalagi sekarang sudah menunjukkan pukul 16.30 sore hari.
Semakin kebingungan Hana mondar mandir di apartemen, seperti sedang mencari sesuatu, tetapi tak kunjung ditemukan. Tidak lama telpon selulernya kembali berdering.
__ADS_1
Kali ini bukan sebuah pesan masuk melainkan telepon dari nomor baru yang tidak dikenal tertera di layar Hp miliknya.
Hana terdiam sebentar dan berfikir. "Mungkin ini telepon dari pihak sekolah, Apa mungkin mereka sudah sampai di Kota ini ? Tapi kan... masih dua hari lagi aku baru masuk Asrama."
Berusaha tenang, Hana mengangkat teleponnya.
"Haloo Hana, apa ini kamu ?" Ucap penelpon dari seberang.
"Ya, benar pak. Saya sendiri. Boleh tahu dengan siapa saya berbicara ?"
"Apa... Kamu belum menyimpan nomorku ?
Ternyata kamu tidak mengenal suara calon suamimu ini." Jawab penelpon, yang ternyata adalah Yuda.
Sedang orang yang di tanya menjadi diam, Hana menjadi kikuk, apa yang ingin diucapkan, lidahnya terasa berat mengeluarkan suara.
"Hana... Hana... Apa kau masih mendengarku ?"
"Eh... iya, maafkan aku, ada apa om ?"
"Mungkin hari ini aku agak malam pulangnya, apa kamu sudah makan ? Tidak ingin memesan sesuatu." Tanya Yuda.
"Om, sebenarnya ada yang ingin ku sampaikan padamu."
"Ya Hana, katakanlah. Mungkin aku bisa membantumu."
"Om, kakakku Rosalin mengundangmu malam ini pergi bersamaku di acara Ulang Tahunnya."
"Kenapa baru sekarang kamu katakan Hana, aku sedang ada janji penting malam ini.
Begini saja, aku akan menyuruh Ronal mengantarmu, aku juga akan meninggalkan beberapa pengawal untuk menjagamu. Setelah selesai pertemuan, aku janji akan menyusulmu kerumah kakakmu itu. Bagaimana ?" Usul Yuda.
"Tapi om, aku kan hanya kerumah kakak, kenapa harus ada pengawalan.
Oh iya, apa om bisa membelikan aku hadiah untuk kakakku ?"
"Hana kau jangan membantah, aku tidak ingin kehilangan lagi. Untuk hadiahmu biar Ronal yang mengurus."
"Terima kasih Om, kau sudah membantuku. aku akan mengirim gambar screen shoot di whatsapp tentang hadiah yg kupilih untuk kak Ros."
"Baiklah kalau begitu." Ronal memutuskan sambungan telpon. Setelah beberapa menit masuk sebuah foto parfum mahal, di hiasi beberapa pita cantik di kotaknya. Membuat Yuda menunggingkan senyum manisnya ketika melihat hasil screen yang ditangkap Hana.
Yuda kemudian memerintahkan Ronal mencarikan hadiah percis seperti gambar yang dikirim Hana.
"Ronal kau buatkan dua kotak Hadiah, satu untuk Rosalin dan satu untuk Hana, adalah hadiah dariku."
__ADS_1
Setelah dapat perintah, Ronal pun pergi meninggalkan Abadi Group Corporation. Sedang Yuda masih diperusahaan karena dirinya ada janji dengan Angga, dan masih akan menyelesaikan beberapa data perusahan yang baru baru ini, ada yang membobol serta membuat duplikat produksi mobil sama dengan yang di desainnya.