Aku Dijodohkan Saat SMP

Aku Dijodohkan Saat SMP
Pertengkaran Yuda Dan Steven


__ADS_3

Steven dan Bambang berdiskusi mengenai keadaan Hana, tidak lupa mereka memberi informasi kepada ketua organisasi LIPI.


Braaaakkk... Braaaakkk... Braaakkkk


Ada seseorang diluar ruangan mereka, sedang mengobrak abrik meja tunggu. Suaranya menggelegar dengan amukan memanggil manggil nama Steven.


"Steven keluar kamu bajingan."


Mendengar teriakan itu Bambang saling bersitatap dengan Steven. Siapa yang sedang mengamuk diluar ruangan. Karena penasaran Bambang perlahan sedikit membuka pintu, tanpa di duga orang yang sedang mengamuk itu menerobos masuk keruangan.


"Steven dimana kamu haaa, jangan sembunyi." Orang itu memegang kerah leher Steven, hingga ia kesulitan bernafas.


"Tu... Tunggu dulu, dengarkan ak..."


Bouuught... Bouuugt...


Tanpa ampun, orang itu melayangkan pukulan ke Steven, kewalahan melawan orang dihadapannya ini, sementara Bambang yang melihat itu berusaha melerai, namun karena badannya yang pendek, dia bukanlah tandingan mereka.


Steven berusaha melawan. Satu buah tinju tepat mengenai dada orang itu, para dokter dan perawat sedang berkumpul di depan ruangan, mereka panik dan menjadikan tontonan dengan petinggi petingi yang sedang adu jotos itu.


"Hahaha... Kau hebat juga Yuda, aku tidak menyangka kemampuanmu semakin meningkat."


"Steven kau apakan gadis kecilku haaa..."


Kini Steven merasakan sakit, mulutnya sedikit berdarah akibat tinju dari Yuda. Melihat itu Yuda menghentikan aksinya. Sambil menggertak Yuda berkata.


"Aku tidak akan memaafkanmu Steven, dimana Hana sekarang ? Jika terjadi sesuatu padanya kau akan merasakkan sakit lebih dari ini." Ancam Yuda.


Melihat suasana mulai meredah, Bambang segera membubarkan para dokter yang sedang menonton, lalu menutup pintunya.


"Steven kau akan kubunuh, kalau terjadi sesuatu dengan Hana."


"Hentikan....


Kalian tidak malu, menjadi bahan tontonan, sekarang bukan waktunya berkelahi, Hana butuh pertolongan.


Steven bersihkan dirimu kita berdua akan segera mengeluarkan peluru yang ada di lengan Hana." Bambang membentak keduanya, meski ia sangat Mengenal Yuda tetapi ia tidak tahu apa hubungan Yuda dan Hana sampai Yuda mengamuk seperti kesetanan.


Steven secepatnya membersihkan dan mempersiapkan diri tanpa berucap apapun pada Yuda.


Ketiganya berjalan masuk keruangan Hana. Para dokter semakin dibuat terkejut melihat orang orang hebat datang ketempat gadis itu terbaring. Banyak diantaranya yang merasa penasaran, ada pula yang mulai berbisik bisik satu sama lain.

__ADS_1


Yuda yang juga merasa aneh dengan kehadiran Bambang, bahkan ikut menangani Hana saat ini. Namun rasa penasaran ditepisnya karena Hana sedang terbaring tak berdaya. Pertolongan merekalah yang lebih penting saat ini.


"Sebenarnya wanita kecilnya itu siapa ? Kenapa orang hebat mulai datang satu persatu didekatnya." fikir Yuda.


Pintu ruangan Hana terbuka, tetapi Yuda tidak di izinkan masuk oleh Steven. Ia mulai berontak dan ingin meninju wajah Steven, syukurlah Steven dengan sigap menahan serangannya.


"Izinkan kami para dokter menanganinya, kami akan berusaha menolong Hana, setelah kami mengeluarkan peluruh ditubuhnya kau boleh menjenguknya." Ucap Steven tegas.


"Sebenarnya siapa yang mengatakan kejadian ini pada Yuda, aku bahkan belum menghubunginya. Atau kasus ini ada hubungannya dengan Yuda ?" Sesaat Steven termenung. Diam diam dia akan menyelidiki kasus percobaan pembunuhan ini.


Yuda akhirnya mengalah dan menunggu dua sahabatnya yang kini sedang menyelamatkan hidup Hana didalam.


Lampu terus saja berkelap kelip tanda operasi pembedahan masih saja berjalan. Yuda mondar mandir didelan pintu. Kembali ia bingung haruskah ia mengatakan kejadian ini pada keluarga besarnya ? sementara mereka tidak mengetahui saat ini Hana sedang ada dimana.


Saat ini Yuda tak tahu bagaimana kejadiannya, apa yang terjadi pada gadis kecilnya dan siapa orang orang yang ingin melenyapkan gadis kecilnya itu, ia tahu Steven tidak mungkin melakukan hal itu, ia hanya kesal karena gara gara Steven membawanya dari asrama sehingga Hana harus mengalami nasib seperti itu.


Tiba tiba saja lampu kembali padam, tanda pembedahan sudah selesai, dari dalam ruang dua orang hebat berjalan menghampiri Yuda.


"Ba, bagaimana keadaan Hana sekarang ?"


Yuda coba bertanya pada keduanya. Namun Steven tak menjawab ucapannya. Karena Steven sangat kesal terhadap temannya yang menurutnya masih kekanak kanakan itu.


Steven tahu dan paham kalau Yuda sangat mengkhawatirkan Hana, tetapi tidak harus mengamuk apa lagi ini adalah rumah sakitnya.


Mendengar ucapan dari Direktur Yayasan Universitas Kedokteran itu, Yuda langsung berlari masuk menuju tempat pembaringan Hana.


Disana terbaring lemah seorang gadis kecil yang sedang terpasang impus dihidungnya, dilengannya sedang terbalut perban yang entah beberapa senti tebalnya membuat Yuda menatap dengan tatapan sayu. Langkahnya terhenti saat melihat layar monitor detak jantung manusia disana. Baju yang dikenakan Hana masih ada bercak darah, Steven dan Bambang telah menggunting pakaian yang dia kenakan agar mereka leluasa membersihkan luka Hana.


Entah apa yang dirasakan gadis kecilnya itu, kedua kalinya ia gagal menjaga wanita kecil dihadapannya.Yuda terpuruk merasa terlalu bodoh tidak dapat melindunginya.


Kini Yuda duduk di samping tempat tidur Hana, ia menangis sejadi jadinya, dipegangnya telapak tangan Hana yang begitu dingin, kini ia tidak bisa membiarkan gadis kecilnya menderita seperti ini lagi.


"Maafkan atas kecerobohanku Hana, kedua kalinya kamu mengalami tragis seperti ini. Aku berjanji padamu, akan membalas semua perbuatan orang yang telah melakukan ini semua."


Suara Yuda memecah didalam ruangan, hanya bunyi layar monitor jantung yang terus saja bergema.


Di tempat lain Steven tidak kalah marah. Ia mengamuk bahkan membanting tangannya sendiri di atas meja ruangannya. Ia mengurung diri diruangan bahkan sampai mengeluarkan air matanya, karena dirinya Hana sampai ditembak.


Rasa sakit disekujur tubuhnya karena ulah Yuda tak diperdulikannya, kejadian itu tepat didepan matanya, kalau saja saat itu ia tidak mendorong Hana, mungkin saja Hana pasti sudah tewas saat ini.


Mata Steven memerah akibat menahan amarahnya, saat datang di kota ini kenapa hidup Hana begitu menyakitkan.

__ADS_1


Tok tok tok...


Bambang mengetuk pintu ruangan Steven, karena sudah dua jam Steven masih menyendiri.


"Steven, buka bro kamu kenapa ayo buka dulu, kita bahas ini sama sama." Bambang berteriak sambil menggendor gendor pintu.


Mendengar itu, akhirnya Steven tersadar dari fikirannya sendiri, ia langsung saja membuka pintu untuk Bambang.


"Dimana laki laki pengecut itu yang taunya hanya marah marah, tidak perna memikirkan bahwa aku juga sangat terluka, bahkan aku juga punya ketakutan yang sama dengannya." Ucap Steven.


"Sudah kamu tenang saja, dia saat ini sedang menemani Hana, kita semua sama sedang mengkhawatirkan Hana, dia anak gadis yang harus dilindungi, jika mengingat identitasnya yang sangat istimewa itu." Jawab Bambang yang masuk keruangan dan langsung mengambil tempat duduknya.


"Kita tidak boleh membiarkan Yuda diruangan itu, aku juga masih curiga dengannya, dan Hana masih butuh 12 jam untuk sadar, karena dia kehilangan banyak darah.


Itu ruangan khusus pembedahan, kita akan pindahkan Hana keruangan khusus milikku, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengannya" Steven.


"Ma.. Maksudmu Yuda teman kita bro, kali ini aku masih bingung kenapa Yuda tiba tiba berontak"


"Iya dia teman kita, tetapi Hana masih merahasiakan identitasnya. Dan Yuda adalah orang yang dijodohkan neneknya Hana, karena tidak ada pilihan Hana terpaksa harus mengikuti semuanya." Steven memperjelas.


"Jadi sejauh ini, Yuda sudah dekat dengan Hana. Astagaa, jangan jangan motif pembunuhan ini ada kaitannya dengan Yuda bro, kamu tahu kan banyak perusahaan lain yang selalu ingin bersaing dengannya." Bambang.


"Iya soal itu aku tahu, tapi kalau kaitan pembunuhan kita hanya boleh menerka saja, dan kita tidak boleh diam saja, kerahkan semua kekuatan kita untuk mengusut tuntas siapa dalang semua ini." Steven


Tanpa mereka sadari Yuda sudah datang dan masuk keruangan karena kebetulan pintu tidak dikunci.


"Benar ucapanmu Steven, aku tidak akan tinggal diam dan akan mencari orang yang coba membunuhnya."


Bambang dan Steven saling bertatapan, mereka hanya diam saja mendengar ucapan Yuda.


Masing masing mereka berfikir sejak kapan Yuda masuk keruangan itu, semoga saja ia tidak mendengar percakapan sebelumnya.


"Ehmm... Bambang kau temani Yuda disini, aku akan pergi memerintahkan para suster agar Hana dipindahkan secepatnya dari tempat itu."


Sebelum pergi sekilas Steven melihat wajah sahabatnya itu, matanya sembab seakan habis menangis, ia tersenyum kecut dan meninggalkan mereka.


Sedang di tempat yang lain seseorang sedang marah dan murka.


"Aaahkkk sial, siapa lagi lelaki dewasa dengan anak itu.


Dia selalu saja beruntung, karena pemuda dewasa selalu nengelilinginya, hingga tembakan meleset kelengannya..."

__ADS_1


Bersambung...!!!


Jangan lupa tinggalkan jejaknya kaka, mohon dukungan untuk karya ini.


__ADS_2