Aku Dijodohkan Saat SMP

Aku Dijodohkan Saat SMP
Gadis Kecil Misterius


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat, membuat kedua insan itu tidak akan melupakan kebersamaan awal mereka, setelah menikmati indahnya suasana malam, tidak lupa Yuda mengajak Hana berfoto selfi dengannya. Meski awalnya canggung, Hana terpaksa mengikuti kemauan Yuda.


Cekrek... cekrek... cekrek...


Setelah puas dengan berfoto, saatnya mereka pulang, dan sesampainya di Apartemen keduanya kembali membersihkan diri. Karena amat lelah, masing masing dari mereka istirahat dan telah berlayar di alam bawah sadar, bersandar di palau kapuk.


Besok harinya.


Matahari pagi mulai menampakkan sinarnya perlahan memasuki sela sela pentilasi kamar. Terlihat seorang gadis kecil sedang merapikan pakaian miliknya sembari menatap lekat kamar yang akan di tinggalkannya.


Hari ini ia akan menuju asrama dimana para peserta akan dibimbing untuk persiapan lomba.


Kreek...


Pintu kamar terbuka, seorang lelaki tampan bermata biru bergaya ke bule bulean dengan setelan jas hitamnya melangkah gontai kearah gadis itu.


"Hana, apa kau benar benar akan meninggalkanku ?."


Yuda menghampiri Hana dikamarnya. "Maafkan Hana om, kalau harus pergi. Ini hanya sementara om.


Oh iya, bagaimana dengan ibunya om Yuda, apa om sudah bicarakan ini ?"


"Aku tidak membahas ini pada mereka, aku takut kau tidak bisa pergi Hana, biar ayah dan ibu jadi urusan pribadiku saja." Ucap Yuda dengan tegas.


Setelah berkemas, hari ini Hana tidak mengenakan gaun. Ia hanya menggunakan kemeja santai, di padukan dengan jeans dan sepatu selip on, seperti layaknya anak sekolah sebayanya.


Asisten Ronal sengaja sudah datang pagi pagi sekali karena harus mengantar nyonya kecilnya bersama bosnya Yuda.


"Ronal, Aku tidak ingin dia kekurangan apapun disana."


Mendengar perintah dari bosnya, Ronal secepatnya membereskan bawaan Hana yang hanya sebuah koper berisikan pakaian. Lalu mempersiapkan segala keperluan nona kecilnya.


Yuda kemudian menghampiri Hana, ia mengeluarkan satu buah kartu Id card dari dalam dompet dan menyerahkan ke Hana.


"Kamu bawah ini. Mungkin saat disana kau akan membutuhkannya."


"Jangan om, tidak usa. Apa ini ? Aku tidak memerlukan barang seperti ini.


Aku juga tidak tahu bagaimana cara menggunakannya."


"Itu kartu Id Card belanja tanpa batas limit yang bisa digunakan dimana saja, kau bisa menggunakann semaumu saat kau sedang membutuhkannya Hana, caranya sangat gampang saat belanja kau tinggal memperlihatkan kartumu untuk digesek, setelah itu kartunya kau simpan lagi dan belanjamu selesai."


"Tapi om, aku tidak menginginkan itu. Simpan saja, itu terlalu berharga. Mana ada asrama jadi pusat perbelanjaan." Hana menolak halus pemberian Yuda, tetapi terus saja Yuda memaksanya.


"Anggap saja aku berikan sebagai hadiah, kartunya kalau tidak di pakai, ya disimpan saja."


Karena Yuda memaksa, Hana menyimpan Id card itu didalam tas kecil yang dibawahnya.

__ADS_1


"Terima kasih om sudah peduli padaku."


Yuda memberikan senyum manisnya, meski satu sisi dia merasa kehilangan kebahagian yang baru saja ingin dia bangun. Entah berapa lama Hana akan kembali, dan apa alasannya nanti ketika Ayah dan Ibunya tahu, belum lagi kakeknya yang selalu menanyakan soal perjodohan dengan gadis Desa itu. Bisa bisa seluruh aset perusahaan saham yang sudah lama dirintis dengan kerja kerasnya bisa di ambil alih kakeknya.


Asisten Ronal sudah siap mengemudikan mobil, kali ini Yuda duduk di belakang berdampingan dengan Hana. Karena tidak mau Yuda melewati momen bersama gadis kecilnya itu.


Sepanjang perjalanan tidak ada perbincangan, Hana hanya memberikan alamat yang dia dapat dari pihak sekolahnya.


Disana sudah ada utusan dari sekolahnya di Desa yang akan mendampinginya nanti, Ayah dan ibunya belum bisa datang karena masih terhalang biaya. Keluarga besarnya itu akan datang setelah kontes besar perlombaan dimulai. Sesekali Yuda menatapnya, dan coba membuka suara.


"Aku pasti akan sangat merindukanmu Hana. Jangan lupa kau kabari aku.


Apa perlu kusiapkan pengawalan untukmu. Aku takut akan ada orang yang menyakitimu."


"Itu pasti om, aku pasti akan selalu mengingat tempat tidurku yang empuk saat di kamar.


Hehehe... " Kekeh Hana.


"Serius lah adik kecilku, aku tidak sedang main main.


Ronal, siapkan pengawal untuk... "


"Ja jangan om, tidak usa. Aku bisa jaga diri tau, secara disana ada guru pembimbingku."


"Kalau aku yang datang, mengajakmu makan, berkeliling kota, bagaimana ?"


"Hana, Hana. Kalau begitu jaga dirimu baik baik, saat kau pulang kerumah aku ingin melihat gadis kebanggaanku tak kurang satu apapun."


"Ingat pesanku, tidak semua orang itu baik jangan sampai kebaikan kita dimanfaatkan orang lain."


Yuda terus berpesan pada gadis kecilnya, sebenarnya takut meninggalkan Hana di tempat lain, mengingat tragedi penculikan yang terjadi dikediaman orang tuannya waktu itu.


"Sepertinya kita sudah sampai." Ucap Ronal.


"Hana, coba kau lihat lihat apa sudah benar ini tempatnya."


"Aku juga belum tau om, ini hanya petunjuk dan tertera alamat.


Kurasa ini sudah benar, coba lihat papan bertuliskan alamat itu."


"Disana bos, lihat itu Selamat datang para peserta Olimpiade Sains Nasional." Tunjuk Ronal.


Setelah menepikan mobil, mereka mencari respsionis tempat penerimaan tamu.


"Apa benar disini asrama tempat Olimpiade ?"


"Ya. Tuan benar sekali, mungkin ada yg bisa aku bantu."

__ADS_1


"Maaf, kami hanya membawa gadis kecil itu kesini."


"Silahkan menunggu di lobi itu tuan, akan ada ibu asrama yang menemui kalian."


Setelah bercakap cakap akhirnya mereka duduk disofa ruang tamu yang sudah disiapkan. Selang beberapa menit datanglah seorang wanita berperawakan tinggi, menghapiri mereka.


"Hai... Kenalkan


Saya kepala asrama disini."


"Hai bu, Perkenalkan saya Hana dari Desa Sabang SMP 1 Taruna Jaya."


"Ooh aku selalu mendengar namamu Hana, suatu kebanggaan bisa melihatmu langsung.


Senang kau bisa bergabung di asramaku ini." Wanita itu begitu menghormati Hana, membuat mata Yuda dan Ronal terbelalak melihat semuanya.


Tidak jauh dari sana, seseorang datang menghampiri mereka.


"Selamat datang Hana, aku senang kau sudah sampai disini tepat waktu. Uji cobamu akan segera dilaksanakan."


Hana membalas sapaan itu. Sedang Yuda dan Ronal lagi lagi dikejutkan sapaan hangat dari Direktur muda Rumah sakit terbesar dikota itu.


"Siapa sebenarnya gadis kecilnya ini, kenapa direktur Rumah sakit itu sangat menghargainya ?" Batin Yuda.


"Hei Yuda, benarkah itu kamu ? Sungguh satu penghormatan kita bisa ketemu" Yuda memberikan senyum smirknya.


"Hai steven, kamu ngapain disini bro !"


"Aku salah satu dari orang orang uji coba lab, yang akan di dilaksanakan di asrama ini."


Perasaan aneh tiba tiba muncul di benak Yuda, ia sungguh paham siapa Steven. Ada rasa cemburu mulai menyayat dihatinya, cara Steven menyapa Hana, yang seakan begitu sudah sangat dekat dengannya.


Selang berapa menit Yuda dan Ronal kembali menuju perusahaan mereka, selama di perjalanan ia masih diam, menyimpan banyak tanda tanya dibenaknya.


Tentang siapa gadis yang perlahan lahan mulai mengisi hari harinya itu.


Tentang ayah dan ibu yang memaksanya menjadi pendamping gadis kecil itu.


Tentang kakeknya yang rela memberikan semua aset perusahaan demi gadis desa itu.


Dan Neneknya Hana yang bersikukuh untuk menjodohkan mereka.


Sungguh gadis kecil misterius.


Bersambung dulu ya...


Kakak semua, bantu like dan jangan lupa vote dan tambahkan ke favorit ya, karena berhasilnya suatu karya itu karena dukungan dari kakak kakak. 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2