
Setelah selesai sarapan dan berpamitan pada orang tuanya Yuda, kini Hana dan Yuda sudah berangkat menuju Apartemen.
Ronal melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata rata, tiba tiba Yuda berbicara.
"Hana bagaimana operasi adikmu apa semuanya berjalan baik ?"
"Ea om semuanya baik, tidak ada yg mengkhawatirkan."
"Syukurlah, aku turut bahagia mendengarnya."
Setelah itu tidak ada lagi kata kata yang keluar dari mulut Hana, tidak peduli apa yang Yuda katakan, kini Hana hanya diam sepanjang perjalanan.
Sesampainya di apartemen, Hana begitu kagum melihat aprtemen mewah di depannya, masih bingung apa yang akan dilakukannya.
"Om emang ini bentuk dan rupanya apartemen, aku baru pertama kali melihatnya, seperti rumah susun mewah.. hehehe."
Hana tidak sadar tertawa lepas sambil bertanya pada Yuda.
Uhuuuk... uhuuuk...
Asistennya Ronal terbatuk batuk mendengar Yuda di panggil om terus menerus. Apartemennya dibilang rumah susun.
"Apa kamu suka ?" Tanya Yuda.
Hana tidak menggubrisnya, dan balik bertanya.
"Tapi arah masuknya di bagian mana ? "
"Sudah kamu tenang dan ikuti aku..."
Sambil mengikuti langkah Yuda dan asistennya, Hana memperhatikan bangunan yang interiornya dari material bahan mewah, bahkan ada lift khusus menuju ruangan.
"Seperti kontrakan mewah !
Kenapa Yuda memilih tinggal disini ?
Dirumah utama orang tuanya kan lebih mewah dan lebih besar dari ini ?" ucap Hana dalam hati.
"Om om, tempat tinggalmu dimana kenapa kita harus masuk keruang kecil ini."
"Haaa... adik kecil, ini lift khusus untuk naik ke tempatku agar kita bisa cepat sampai. Di tempat lain ada juga tangga yang disediakan jika kau ingin berjalan kaki." Jawab Yuda sambil menjelaskan.
Saat Yuda menekan tombol dan membuka pintu apartemennya, mata Hana tidak berkedip melihat ruangan mewah di depannya.
"Adik kecilku, semoga kamu nyaman disini, kamar kamu disana." Ucap Yuda sambil menunjuk tangan dan memberikan kunci kamar pada Hana.
Kreeek...
Hana langsung saja membuka pintu kamarnya.
Wooow pemandangan yang sangat indah.
Kamar yang berdekorasikan warna biru yang sudah di tata sangat rapi sedemikian rupa.Tempat tidur bernuansa biru.
"Om ini tempatnya terlalu gede, apa kamarnya hanya ini ?
__ADS_1
Sana lihat itu om, kasurnya king size, untuk ukuranku terlalu luas." Tukas hana sambil menunjuk kasur besar itu.
"Kenapa, kamu tidak suka ?"
Bukan om, Hana suka. Apalagi itu yang disana perpaduan warna biru dengan lampu tidur, ditambah sedikit bunga bunga dimeja itu menambah kenyamanan saat tidurku nanti." Terang Hana.
"Ya sudah kalau begitu nikmatilah harimu, sebelumnya memang sudah dipersiapkan untukmu.
Asisten Ronallah yang menata ruangan ini." Jawab Yuda.
"Oh iya, terimakasih. Aku memang sangat menyukai warna biru, sangat kebetulan sekali, selera om Ronal sama denganku."
He... he... he...
Yuda senyam seyum sendiri melihat ke arah Ronal, hingga akhirnya melepas tawanya.
"Rasain tuh kan, akhirnya lo dipanggil om juga" ledek Yuda dalam hati.
Asisten Ronal yang mengerti dan paham dengan bosnya, langsung saja menjawab.
"Iya nona kecil, aku juga sangat suka warna biru, makanya aku sengaja menambahkan hiasan hiasan kecil itu, agar mempercantik dan siapa saja yang melihat keindahan diruangan ini, membuatnya betah didalam.
Nona pasti sangat menyukainya."
Ronal sengaja bicara banyak, dan sedikit menjelaskan pada Hana agar bosnya Yuda merasa tidak diperdulikan dan tidak mengejeknya lagi.
"Sangat aku sangat menyukainya.
Apa aku sudah boleh masuk ?"
Sementara Yuda diam saja, Hana berlalu tanpa memperdulikan dirinya, raut wajah Yuda terlihat sangat kesal dengan sikap Hana.
Ronal yang melihat itu, balik menertawakan tuannya.
"Awas saja kau Ronal," Yuda berucap dalam hati, sambil melototkan matanya ke arah asistennya.
"Ronal kau bergegas turunlah kebawah, ambilkan barang barang Hana." Yuda mencari alasan saja agar Ronal pergi dari situ, dia terlihat kesal pada asistennya.
"Oke bos." Ucap Ronal dengan santainya dan berlalu pergi dari ruangan itu.
"Hei awas jatuh. Kau ini kenapa lompat lompat dikasur besar itu, dasar anak kecil," gerutu Yuda.
"Yeeeeaaa...
Memang aku anak kecil, kan om yang selalu bilang. Lihat deh om, aku rasanya bermimpi punya tempat tidur senyaman ini."
Hana begitu bahagia dengan kamarnya, ini adalah kamar impian warna favorit desain biru yang dari dulu di inginkannya. Karena keterbatasan orang tua, sehingga Hana belum bisa memiliki kamar indah seperti ini.
"Apa perlu kau kutemani beloncatan disitu ?"
"Ja_ja_jangan om, tidak usah." Jawab Hana terbata bata sambil menghentikan aktivitasnya.
Yuda sengaja berucap seperti itu hanya ingin menjahili Hana.
"Kalau begitu sana cepat, ganti dulu pakaianmu, bersihkan dirimu, lalu kau buatkan aku kopi.Jangan lupa kopi ada di dapur nanti kau bawah ke sofa yang ada diluar." Ucap Yuda dan segera pergi meninggalkan kamar Hana.
__ADS_1
Saat Hana masuk dikamar mandi, dia kembali terkesan.
"Astagaa kamar mandi seluas ini, bahkan lebih besar dari kamarku, membuat satu kamar mandi ini saja orang tuaku tidak akan mampu.
Peralatan dan fasilitas mandi juga sudah sangat lengkap, ada handuk warna biru juga, wow benar benar kereend om Ronal menatanya." Ucap Hana sambil menggeleng kepalanya.
Setelah selesai mandi dan membersihkan diri, Hana mencari pakaiannya yang dibawahkan asisten Ronal. Semuanya tidak ada.
"Ya ampuuun... aku lupa, kemana om Ronal membawa barangku ?
Apa dia belum kembali mengambil barang di mobil ?
Fikir Hana, dan bertanya pada dirinya sendiri.
Sambil menunggu kedatangan asisten Ronal membawakan pakaian untuknya, Hana berputar putar dikamarnya, memeriksa setiap sudut ruangan, tetapi tidak satupun ditemukan pakaian.
Sudah lebih dari satu jam Hana menunggu, tetapi belum ada yang mengetuk pintu.
Hingga matanya tertuju pada satu tempat.
"Ini apa fungsinya ?
Kenapa ada tombol disamping meja rias itu ?"
Sambil kembali berfikir dan penasaran akhirnya Hana memencet tombolnya, tiba tiba dinding kaca yang tadinya sangat rapat itu, kini terbuka lebar tepat dihadapannya.
"Hah, ini kamar khusus ganti, sungguh luar biasa, aku baru pertama kali melihat tempat seperti ini, ternyata pakaian ada disini, dasar om Yuda tidak memberitahukan padaku sebelumnya." Cercah Hana seorang diri.
"Astaga, kenapa lagi ini lemari terlalu besar begini, didalamnya juga banyak sekali pakaian."
Saat Hana membuka empat lemari di depannya, matanya disuguhkan pemandangan yang luar biasa.
Berbagai pakaian mewah, tas, sendal, sepatu dari brand brand ternama, bahkan ada beberapa produksi luar negeri, yang selama ini Hana hanya bisa melihat itu di pakai kalangan artis saja, pengusaha, atau kalangan ekonomi menengah ke atas. Kini semuanya ada di depan matanya.
Hana terpaksa mengambil salah satu pakaian di situ untuk dia kenakan, karena asisten Ronal belum juga datang.
"Hmmmpp...
Kenapa pakaian ini sangat pas dan cocok untuk ukuran badanku ?
Sepatu, sendal semuanya satu ukuran, itu percis ukuran kakiku.
Apa barang sebanyak ini memang diberikan untukku ?
Lalu kenapa mereka mengetahui ukuranku dari mana om Yuda bisa tau ?"
Hana berucap lagi, sambil mengenakan piyama pendek selutut, dan berputar di depan cermin. sama percis dengan anak anak sebayanya.
Huuuu.... Semua piyama tidak ada yang celana panjang kek...! serba selutut.
Baju santai semuanya selutut, heedeee.....
Dengan terpaksa Hana mengenakan salah satu pakaian dan menyisir rambut panjangnya di depan cermin.
"Ooh sudah berapa jam disini sampai aku lupa om Yuda menyuruhku membuatkan kopi untuknya."
__ADS_1
Secepatnya Hana menyelesaikan sisirannya dan pergi berlari keluar kamar mencari dapur yang belum Hana tahu dimana letaknya.