
Bruuuuuuk.....
"Kamu ini pake mata dong kalau jalan, sedari tadi modar mandir melulu.
Apa mau ku peluk, bilang ?"
Yuda terlihat kesal karena Hana menabraknya.
"Ma_maaf om, aku tidak sengaja.
Ini dari tadi aku belum menemukan dapurnya." Jawab Hana.
Melihat Hana, dengan wajah ketakutan seperti itu, membuat Yuda ingin terus menjahilinya.
"Oooh kamu sangat manis adik kecil, dengan pakaian seperti itu, aku senang melihatnya. Hehehe"
Wajah Hana kembali memerah dikatai seperti itu, malunya bukan main karena memakai pakain selutut."
"Anu... maaf om, telah lancang, aku memakai pakaian dilemari besar itu karena sudah berapa jam om Ronal belum kembali mengantar pakaianku."
"Piyama yang kamu kenakan itu sangat cocok dengan kulit putihmu, makanya aku memberikan semuanya untukmu, terserah kamu mau pakai yang mana, itu milikmu."
"Ea om, tapi itu terlalu banyak untukku"
"Sudahlah kamu tinggal pakai saja, oh iya nanti asisten Ronal yang akan mengantarkan tasmu kekamar."
"Terimakasih om."
"Ronal, kamu rapikan berkas yang berhamburan itu, aku akan mengantar Hana kedapur." Ucap Yuda pada asistennya yang baru saja masuk membawah beberapa cemilan ditangannya.
"Tuan kenapa berkasnya berserakan seperti ini, ada file penting perusahaan, aku belum punya salinannya."
"Tidak usa banyak tanya Ronal, bereskan saja cepat." Yuda berucap tegas dan pergi menunjukkan arah dapur pada Hana.
"Ok om, kau tunggu disana aku akan menyiapkannya untukmu."
"Baiklah, yakin tidak mau aku temani ? "
"Eaa om, tidak perlu"
Yuda kembali keluar menyusul Ronal, sementara Hana sedang sibuk merebus air dan membuat kopi manis, seperti dikampung dia selalu menyajikan kopi untuk ayahnya.
Hana membuat kopinya bukan hanya secangkir, dia membuat kopi di teko ukuran besar. Kebetulan memang Hana juga sedari dulu suka minum kopi.
Sementara diruang tengah ada Yuda dan Ronal yang sedang asik bercakap cakap di depan mereka juga tersedia laptop kerja, sambil makan cemilan yang baru saja Ronal beli di supermarket.
Hana datang menghapiri mereka sambil membawa nampan kopi yang berisi tiga buah gelas.
"Banyak sekali kamu membuatnya aku tidak bisa terlalu banyak minum."
Hana tersenyum dan menjawab.
__ADS_1
"Aku sengaja membuat banyak, disini juga kan, ada om Ronal. Kebetulan aku juga suka minum kopi."
Mendengar ucapan Hana, kalau asistennya Ronal dibuatkan, Yuda sangat marah.
Hana kembali menuangkan kopi di dalam tiga gelas, dan segera hendak pergi ke kamarnya sambil membawa segelas kopi.
"Eeeiittts... adik kecil mau kemana kamu disini saja tidak perlu kedalam, duduklah.
Asisten Ronal sudah membawakan banyak cemilan untukmu."
Dengan tidak berucap terpaksa Hana kembali duduk di depan televisi dan mengambil beberapa cemilan untuknya.
Yuda dan Ronal sama sama mulai meminum kopi buatan Hana.
Saat Yuda meminum kopinya, dirinya tidak berhenti memuji dalam hati.
"Kopi manis buatan Hana ini sangat enak, bahkan lebih enak dari biasanya, Velory yang sering membuatnya untukku saat di kantor saja bahkan tidak seenak ini !"
Sama halnya Ronal ketika meminumnya sangat luar biasa, kopi ini begitu nikmat, bahkan membuat badan mereka segar, yang tadinya lelah.
Mereka tidak menyangka, gadis kecil dari kampung itu, begitu pandai membuatnya.
"Ronal, aku masih mau, tolong kamu tuang sisahnya digelasku, jangan di habiskan." Yuda dan asistennya berebut menghabiskan kopinya.
Melihat itu, Hana berusaha menjawab, "Apa om berdua masih mau, aku bisa membuatnya kembali." Yuda dan Ronal saling bertatapan.
"Sudahlah tidak perlu Hana kami hanya berebut menghabiskan sisanya.
Terimakasih telah membuatnya, baru kali ini aku merasakan kopi seenak ini." Yuda berucap dan memberi pujian pada Hana.
"Nona, kopi apa ini ?
Benar benar nikmat, tubuhku terasa rilex setelah menikmati kopi buatan anda." Ronal menyambung.
"Itu kopi biasa saja, hanya ada sedikit campuran didalamnya om." Jawab Hana.
Tidak terasa waktu berlalu beberapa jam, Hana sudah tertidur di sofa. Setelah selesai mengerjakan tugasnya, mengutak atik layar laptop, Ronal segera berpamitan pada Yuda untuk pulang.
"Anak ini, kenapa kalau mengantuk tidak kembali ke kamar saja. Aku fikir dia belum tidur.
Akhirnya Hana mendengkur lagi mengeluarkan ciri khas tidurnya, Yuda terkekeh kekeh melihat Hana tidur, wajah polosnya itu, mukanya yang belum perna dirias dengan kosmetik menambah kesan tersendiri bagi Yuda.
Benar benar bening, gadis cilik yang dimilikinya itu memiliki bentuk wajah oval. Sungguh membuat Yuda selalu ingin melindungi gadis kecil yang ditakdirkan bersama dengannya, meski baru memiliki ikatan perjodohan rasanya Yuda sudah memiliki tanggung jawab besar.
Hana bergerak mengucek matanya, membuat Yuda berhenti memperhatikan wajahnya, dia takut Hana mendapati dirinya sedang mendekat.
Beberapa menit Hana belum juga bangun, dan kembali mendengkur.
Yuda berusaha membangunkan Hana dengan menggoyangkan kakinya, tetapi Hana tidak bereaksi apa apa.
Dengan terpaksa Yuda menggendong Hana sampai dikamar dan membaringkannya di atas kasur besar itu.
__ADS_1
Setelah itu Yuda mengunci pintu kamar Hana, dan berlalu kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya Hana bangun pagi pagi sekali, tanpa disadarinya kini dia sudah baring di kasur super jumbo itu.
"Haaa....
Kenapa aku berada disini, ?
Kurasa semalam aku tidak tidur disini, bukannya disofa.
Astagaa jangan jangan om Yuda...
Tidaak, aku yakin tidak terjadi apa apa padaku. Nanti akan kutanya langsung ke orangnya saja."
Hana berlalu menuju keluar, dan membersihkan sisa makanan di ruang tengah sisa cemilan semalam.
Setelah membereskan semuanya Hana kembali membuatkan nasi goreng ala kadarnya yang dilengkapi telur mata sapi kesukaannya.
Karena persediaan di apartemen hanya itu, Hana memasak seadaanya saja, cukup untuk dua piring.
Setelahnya tidak lupa Hana membuat dua gelas kopi herbal kesukaannya. Kopi ini sebenarnya kopi biasa saja, Hana hanya menambahkan sedikit bubuk herbal racikannya saja.
Yuda yang sudah rapih dengan pakaian kejanya keluar dari kamar dan mencium bauh harum berasal dari arah dapur.
Tanpa berfikir panjang Yuda menuju dapur, disana dia melihat ada gadis kecil yang memasak.
"Hana apa itu ?
Kenapa kau membuat nasi goreng lagi, sudah kukatakan kau jangan membuatnya."
Maaf om, aku sudah sangat lapar. Hanya itu yang ada disini, terpaksa aku membuatnya untukku, kalau kau tidak mau juga tidak apa."
"Oke makanlah, terserah kamu saja." Jawab Yuda jutek
Hana mengambil nasi goreng buatannya, lalu duduk di ruang tengah tempat dia menyiapkan dua cangkir kopi menyusul juga Yuda duduk disana.
Yuda cuek saja dengan sikapnya Hana. Lama lama menatap, Hana begitu menikmati makanannya hingga membuat Yuda tergoda dan sangat penasaran dengan rasa nasi gorengnya itu.
"Hei, kenapa kamu menikmatinya seorang diri, tidak memberikannya untukku juga ?"
"Oooh kirain om tidak mau, makanya aku hanya mengambil untukku saja.
Tunggu disini aku akan mengambil sepiring nasi goreng untukmu." Jawab Hana polos, sambil berdiri mengambil nasi goreng untuk Yuda.
"Om ini, silahkan di nikmati." Ucap Hana.
Yuda yang mau mencicipi nasi goreng itu, berusaha menutup matanya erat, sambil menyuap satu sendok kemulutnya.Takut kejadian dirumah ibunya kembali terulang.
Kini kedua matanya terbuka lebar membulat, dan melahap habis sepiring nasi goreng itu sambil berucap.
"Sempurna." Yuda mengagumi makanan buatan Hana.
__ADS_1
"Kau sungguh berbakat Hana, masakanmu seperti makanan chef handal. Aku sangat menyukainya.
Ternyata kau sungguh ahli membuatnya, aku tak menyangka anak sekecil kamu bisa melakukannya, pantas saja kedua orang tuaku dan juga nenekmu sangat berambisi menjodohkan kita."