Aku Dijodohkan Saat SMP

Aku Dijodohkan Saat SMP
Menjadi Teman Gea


__ADS_3

Selesai mengganti pakainnya Hana keluar dari kamar. Didepan Yuda sudah menunggunya.


"Gaun yang indah, kau sangat cantik Hana." Puji Yuda.


"Ini gaun pemberian ibumu om." Jawab Hana dengan malu malu.


Yuda dan Hana pergi bersama, membuat keduanya hanyut dalam perasaan masing masing, karena baru kali ini asisten Ronal tidak menemani. Mereka menggunakan mobil Lamborgini.


"Om, mobilmu kereen."


"Apa kau menyukainya Hana..."


"Kurasa iya, aku akan betah dengan mobil ini.


Om, kita mau kemana ?"


"Ikuti saja Hana, kau pasti akan menyukai tempatnya."


Mendapat jawaban itu, Hana terpaksa diam saja hingga sampailah mereka disuatu tempat dimana tempat itu sangat luas, tetapi tidak banyak orang berlalu lalang disana.


Setelah memarkir, keduanya pun turun. Kali ini Yuda menggenggam tangan Hana dan membawanya ke tempat duduk yang ada dibawah pohon rindang itu. Banyak bunga bunga bertebaran disana. Saat melihatnya Hana tersenyum bahagia.


"Tempat yang indah, cocok untuk menenangkan fikiran disaat sedang suntuk.


Apa om sering kesini ?"


"Tebakanmu benar sekali Hana, aku sering duduk di sini, mungkin kau akan suka, tunggu sebentar lagi kau akan melihat pemandangan yang indah."


Tepat sekali, selang beberapa menit lampion lampion mulai terbang mengelilingi tempat itu. Balon gas di udara meletup letup memecah kesunyian malam mempercantik suasana, di ikuti dengan berbagai macam kembang api bertebaran di undara. Sungguh cantik menikmati pemandangan diterangi cahaya lampu lampu itu, meski cakrawala malam tak menerangi jagad.


"Oww Indahnya. Kereen om, aku suka tempat ini."


"Hana, kaulah orang pertama yang kubawa ketempat ini." Mendengar ucapan Yuda, sekilas Hana menoleh.


Sambil membuang nafas Yuda berusaha menutupi kesedihannya.


"Besok kau akan pergi meninggalkanku. Aku pasti akan merasa kesepian lagi tanpamu."


"Maafkan Hana om. Mungkin om bisa menjengukku di asrama nanti."


"Apa kau tidak malu sama teman temanmu, kalau ada om om tua sepertiku menjengukmu di asrama."


"Hehehe...Om jangan bicara begitu, aku rasa om masih laku, siapa tau aja ada yang naksir


Uuups...." Hana menutup mulutnya. Mendengar ucapan barusan Yuda melototkan matanya refleks mengacak rambut Hana seperti anak kecil.

__ADS_1


"Aaah om, hentikan rambutku jadi rusak tau." Gerutu Hana. Sedang Yuda tak mengeluarkan suaranya.


Yuda berdiri dan kembali menarik tangan Hana menuju kerumunan orang yang sedang mengantri seperti sedang menunggu sesuatu. Maju dan maju menyelip ke bagian depan orang orang itu, disana ada gadis penari kecil sedang bernyanyi di iringi alunan musik dari gitar tua, yang di petik oleh seorang lelaki paru bayah. Kalau di tebak mungkin ayahnya.


Yuda, mengambil sesuatu dari sakunya dan memberikan pada anak kecil itu. Selesai menari orang orang yang berkerumun ikut memberikan uang kepada gadis kecil yang cantik itu, dan mulai pergi begitu saja. Tersisa Hana dan Yuda.


"Hai gadis kecil bisakah kau dan pamanmu memberikan nyanyian terbaik untuk kami."


Paman dan gadis kecil itu pun tersenyum sambil menyapa Yuda. "Tuan Yuda kamu datang bersama siapa ketempat ini ?"


Yuda membalas senyuman mereka. " Aku bersama wanita kecilku ini."


Sesaat Hana berfikir, ternyata lelaki tampan bermata kebiruan dihadapannya ini sangat lemah lembut kepada pengemis seperti pria paru baya dan anak gadis kecil itu.


Alunan musik mulai berirama, petikan petikan gitar tua mulai terdengar, gadis kecil itu mulai menari dan mengeluarkan suara indahnya hingga Liliana dan Erland hanyut terbawah oleh perasaan masing masing. Sungguh merdu, benar benar merdu sekali, nyanyian anak gadis yang kira kira berusia 8 tahun itu membuat mereka menikmati indahnya suasana malam.


Beberapa lagu mengalun mengikuti irama musik seadanya. Tak terasa malam telah larut. Yuda kembali memberikan amplop putih untuk pria paruh baya.


"Terima kasih nak, semoga kalian selalu bahagia." Hana mendekati gadis kecil itu.


"Hai kak, kau cantik sekali aku senang berjumpa denganmu, semoga kakak Yuda selalu datang membawamu kesini."


Hana memeluk gadis kecil itu, ia kembali teringat adik perempuannya Hanum.


"Adik kecil, kau juga cantik sekali dan kau sangat pandai menari, suaramu sangat merdu.


"Terima kasih kak, Kalau kakak mau nnti aku ajarin kakak, namaku Gea kak. Kalau kakak siapa ?"


"Benarkah, aku janji lain waktu akan datang kesini belajar menari dan bernyanyi bersamu. Aku Hana, panggil saja kak Hana."


Keduanya mulai tertawa riang, begitu akrab Hana dengan gadis itu, membuat Yuda merasa kagum dengan wanitanya, Ia pandai merayu adik kecil itu menjadi temannya.


"Kak, aku senang kau bisa menjadi kakakku. Tetapi saatnya aku pulang kak, ayah memanggilku, kami tak bisa berlama lama karena ibuku sedang sakit keras."


Sebelum pergi, Hana kembali memeluk adik Gea. Sebuah bulir bening kembali menghiasi ekor matanya. Ingin sekali ia membantu Gea tapi ia tak mampu berbuat apa apa.


"Pergilah, suatu saat kakak akan datang mencarimu." Gea mencium kedua pipi Hana, tidak lupa ia menghapus air mata gadis yang kini menjadi kakaknya dengan kedua jarinya dan berlari meninggalkan kedua insan itu menyusul Ayahnya.


Kini Yuda berdiri di dekatnya. "Kau jangan bersedih Hana, dia harus pulang karena ibunya sedang sakit.


"Iya om, aku sedih karena tidak bisa menolongnya."


"Sudahlah, itu bukan salahmu. Sekarang ayo kita mencari makanan."


Keduanya berjalan menuju tempat mereka memarkirkan mobil, hanya beberapa meter ketika Hana melihat gerobak kaki lima pedagang siomay langsung saja ia merengek pada Yuda minta dibelikan. Sambil menggoyang sebelah lengan baju Yuda.

__ADS_1


"Om, om ,aku mau itu sana...! " Tunjuk Hana kepada mas siomay itu.


Yuda yang tidak terbiasa menjawab tanpa ekspresi. "Maksud kamu gerobak itu Hana."


"Iya om iya, aku mau itu perutku lapar, itu makanan kesukaanku. Kalau disekolah aku sering jajan makanan itu."


"Hana, tapi itu pinggiran kaki lima Hana, ak aku belum perna kesana."


Tanpa peduli ucapan Yuda yang terbata bata, Hana seakan ingin merengek, ia menarik tangan Yuda sampai di depan gerobak mas penjual siomay.


Yuda merasa geli melihat Hana yang sangat kekanak kanakan, ya memang masih anak anak kali. Hehehe.


"Halo mas, aku pesan siomay dua porsi ya."


Masnya menjawab. "Iya neng dua sama masnya, ditunggu ya." Ucap mas penjual siomay dengan ramah.


Yuda mulai merasa tak enak, ia belum perna makan di pinggiran seperti ini.


"Hana, apa tidak sebaiknya kamu bawah pulang saja, dibungkus saja."


"Yeaaa ga asik om makan dirumah tau, makan disini aja, pasti enak selagi masi hangat.


"Iya mas benar kata nengnya, enakan langsung dimakan saja."


"Iya, iya tapi aku belum terbiasa."


"Nih siomaynya neng silahkan dinikmati. Ayo duduk sana mas, sama nengnya." Ucap mas siomay ramah.


"Om, ayolah duduk sini. Ini enak om, ada saos kacangnya. Nih coba lihat punyaku sudah mau habis."


Hana memaksa Yuda duduk dan mencoba makanannya. Karena Yuda tak mau makan, dan untuk kedua kalinya Hana menyuapi Yuda.


"Enak, benar katamu Hana makanan ini sangat nikmat baunya yang menggoda selera ditambah bumbu saos kacangnya itu, menambah kenikmatan tersendiri." Yuda memuji makanan dan menghabiskan seporsi.


"Nah benar kan om ucapanku, kalau gitu aku mau bungkus dua porsi."


Segera mas mas tadi menyiapkan pesanannya, Yuda mengeluarkan 3 lembar uang pecahan seratus dan membayar makanannya.


"Mas mas, ini kebanyakan duitnya."


"Ambil saja kembaliannya pak, anggap saja hadiah karena aku menyukai makananmu dan untuk pertama kali mencobanya."


"Alhamdulillah... Didunia ini masih banyak orang orang baik sepertimu. Terimakasi mas, semoga bahagia selalu.


Mas dan nengnya terima kasih ya."

__ADS_1


Senyum kembali mengukir di wajah keduanya. Mereka berlalu dan meninggalkan tempat itu.


Bersambung...!!!


__ADS_2