Aku?Jadi Pemeran Figuran!!

Aku?Jadi Pemeran Figuran!!
CHAPTER 11


__ADS_3

Saat ini suasana hati Arin sedang buruk, ia akan terima jika ia yang di caci atau dihina. Tapi ia tidak segan segan jika menyangkut keluarganya. Arin sekarang sedang meredakan emosinya di roftoop menikmati semilir angin yang menerpa kulitnya. Ia menatap kearah langit agar ia tidak terlalu larut dalam pikirannya.


"Apakah aku pembawa sial"ucapku pelan sambil memandangi langit yang biru dan cerah.


"Apakah karena mataku yang berbeda warna membuatku jadi pembawa sial"lanjutku tak terasa buliran air mata mengalir dipipiku.


"Bunda ayah apakah aku begitu"lirihku sambil menangis tak kuasa menahan air mata. Arin pun berhenti menangis kala ada orang yang memeluknya dari belakang. Ia tahu siapa itu, aroma mint yang menenangkan, ya itu adalah Arion kakaknya.


"Kak apa aku pembawa sial"ucapku pelan kepada Arion yang masih setia memeluk adiknya itu.


"Dengar kakak, adikku yang manis, kamu bukan pembawa sial. Kamu kebahagian di keluarga kita. Lihat kakak"ucap kak Arion sambil menghadap ku .


"Kamu sumber kebahagian kakak dan ayah bunda. Jadi jangan berpikir yang aneh aneh kamu paham. Dan tentang bola mata kamu menurut kakak itu sangat indah dan keren. Kamu kan tahu ayah memiliki warna mata biru sedangkan bunda ia memiliki warna mata ungu. Kamu paham. Warna matamu itu sangat cantik dan unik. Jadi jangan anggap kamu itu pembawa sial dan jangan menangis lagi. Kakak tidak bisa melihatmu menangis"ucap kak Arion sambil membawa Arin kedalam dekapannya. Arin pun hanya menganggukan kepalanya.


Arion masih setia memeluk adiknya itu, lama kelamaan ia mendengar dengkuran halus dari pelukannya. Ia pun melonggarkan pelukannya melihat wajah adiknya yang sudah terlelap dalam tidur.


Arion pun tersenyum melihat wajah damai adiknya.


"Kamu harta kakak jangan harap untuk pergi dari kakak"ucapnya pelan sambil mencium kening arin dan membawanya ke UKS dalam gendongannya.


Sampai di UKS ia pun membaringkan tubuh Arin di ranjang. Kemudian menuju kelas Arin untuk meminta izin, agar ia bisa membawa Arin pulang kerumah. Setelah meminta izin Arion membawa tas Arin di punggungnya sedangkan Arin ia akan menggendongnya didepan.


Sesampainya di rumah Arion segara membawa Arin menuju kamar arin dan meletakkannya di kasur. Karen ia sudah sangat lelah akhirnya memutuskan untuk tidur disamping Arin.


4 jam berlalu Arin menggeliat kala merasakan sesuatu yang berat melingkar di perutnya. Ia pun membuka mata perlahan dan mendapati ia tertidur dipelukan kakaknya. Sejenak ia memandangi wajah Arion dengan penuh kasih sayang.


"Kak"ucapku sambil menggoyangkan tubuh Arion.


"Hem"hanya dibalas deheman oleh Arion.


"Bangun kak"ucapku.


"Bentar dek 5 menit lagi"ucap kak Arion sambil menyembunyikan wajahnya diceruk leher adiknya, menghirup aroma vanila yang khas dari bau tubuh Arin yang menenangkan. Sedangkan Arin terkekeh melihat tingkah kakaknya, tapi ia hanya membiarkannya saja. Ia pun mengambil ponselnya untuk melihat apakah ada pesan yang penting. Ia ingat jika tadi pagi Vika mengajaknya pergi ke pasar malam. Ia pun memutuskan untuk mengirim pesan kepada Vika.


"Vika nanti jadinya jam berapa ke pasar malam"pesanku.


"Jam 08.00 aja sampai jam 10.00, tapi bener kan jadi?๐Ÿ˜š"pesannya.


"Iya jadi, ok kamu jemput aku ya di jalan merpati no 10"pesanku.


"Siap"pesannya.


Aku pun mematikan ponselku kemudian mengalihkan pandanganku kearah kak Arion yang masih tidur, aku yang tak tega untuk membangunkannya pun meninggalkannya, untuk membersihkan diri.


Setelah mandi aku pun memilih kaos oblong warna putih dengan celana panjang warna hitam dengan jaket warna coklat. Rambut peraknya pun ia ikat. Setalah selesai bersiap Arin pun berniat untuk membangunkan Arion.

__ADS_1


"Kak bangun"ucapku sambil menggoyangkan badan Arion.


"Bentar dek 5 menit"ucapnya sambil menggeliat.


"Oh aku mau kepasar malam dulu ya kak"ucapku dengan senyum licik.


"APA NGGAK BOLEH" Ucap kak Arion langsung melotot mendengar adiknya ingin pergi.


"Loh kok nggak boleh sih, aku nggak sendirian kok. Aku sama Vika"ucapku sambil mengerucutkan bibirku.


"Boleh asalkan sama kakak"ucapnya sambil memandangku.


"Kak nanti kamu jadi obat nyamuk lho"ucapku kesal.


"Nanti aku ajak teman kakak"ucapnya sambil melangkah pergi menuju kamarnya untuk bersiap.


"Gagal deh jalan berdua doang"ucapku. mendengus.


Arin bergegas turun untuk makan malam dan meminta izin kepada kedua orangtuanya.


"Selamat malam yah bun"ucapku sambil menuruni tangga.


"Selamat malam juga arin"ucap mereka.


"Makan dulu ya nak yang banyak, badan kok kecil banget"ucap bunda sambil mengisi piring Arin yang kosong.


(Tin tin tin)


"Yah Bun Arin pamit ya"ucapku sambil menyalami ayah bunda.


"ARIN TUNGGU KAKAK"teriak Arion dari atas. Aku pun hanya menggelengkan kepalaku.


"Cepetan kak, nanti aku tinggal lho"ucapku sedikit teriak, kulihat kak Arion yang terburu buru menuruni tangga.


"Yah Bun Arion mau jaga adek ya"ucap kak Arion sambil menyalami ayah bunda.


"Iya hati hati"ucap ayah bunda.


"Dek kamu bareng kakak ya, kakak mau ambil dulu mobilnya"ucapnya sambil pergi menuju garasi.


"Tapi kak~"ucapku terhenti saat kak Arion menatap tajam kearahku. Aku hanya menghela nafas kasar.


Aku pun menghampiri mobil Vika yang terparkir di halaman mansion.


"Vika"ucapku sambil mengetuk kaca mobil Vika.

__ADS_1


"Ya ada apa"ucapnya sambil menurunkan kaca mobil.


"Aku bareng kakak ya, soalnya nanti kalau nggak, enggak dibolehin pergi. Nanti juga ada temennya kok. Tapi nanti kita pisah aja seneng seneng berdua"ucapku sambil tersenyum.


"Oke nggak masalah, asalkan kita jadi pergi ke pasar malam. Soalnya nanti banyak banget yang menarik"ucapnya antusias.


"Yaudah tunggu kakakku dulu ya"ucapku yang dibalas anggukan Vika.


(Tin tin tin)


"Ayo masuk dek"ucap kak Arion dalam mobil, aku pun segera menuju kearah mobilnya dan masuk kedalamnya.


"Sudah kak"ucapku sambil memasang tali pengaman.


20 menit kemudian kami pun sampai ditempat pasar malam yang diadakan yaitu ditaman kota.


"Wah ramainya"ucapku dengan mata berbinar, saat melihat dari pintu masuk ke pasar malam.


"Ayo kak kita pesan tiket"ucapku menghadap kearah kak Arion.


"Bentar nunggu teman kakak dulu 5 menit lagi paling sampai"ucapnya sambil melirik kearah jam tangannya.


"Oke kak"ucapku dengan menggandeng tangan Vika.


"Hai Rion"ucap seseorang menepuk pundak Arion dari belakang. Sontak aku pun menatap kearah mereka. Aku pun terkejut, begitu pun dengan Vika yang ada di sampingku.


"Oh hai Sean, kenalin ini adikku Arin"ucapnya sambil menghadap kearah mereka. Aku masih terkejut karena teman yang dimaksud kak Arion adalah Sean, Aciel,Michel, dan Azzam.


"Loh kak ini temen kakak"ucapku sambil menarik baju kak Arion.


"Iya dek dia juga sekelas lho sama kamu"ucapnya sambil menganggukan kepala.


"Dasar Arion bego malah ketemuan ama pameran utama prianya, padahal udah susah payah aku jauhin mereka"batinku geram.


"Oh hai aku Arindra biasa dipanggil Arin, adiknya kak Arion"ucapku sedikit menundukkan kepala.


"Hai juga"ucap mereka bersamaan.


"Jadi Arin itu adiknya Arion untunglah"batin Sean, Michel, Aciel, dan Azzam sambil tersenyum tipis.


"Yaudah yuk masuk, aku udah beli tiketnya"ucap Aciel sambil melangkah pergi. Mereka pun mengikuti Aciel sampai di pasar malam ,Arin dan Vika tampak senang dengan senyum mengembang dibibir mereka.


Lanjutannya nanti ya๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜…


~bersambung~

__ADS_1


Jangan lupa like and komen๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜Š


__ADS_2