Aku?Jadi Pemeran Figuran!!

Aku?Jadi Pemeran Figuran!!
CHAPTER 27


__ADS_3

Sesampainya dikantin arin dan Vika pun segera duduk di bangku yang kosong.


"Mau makan apa Rin"ucap Vika.


"Emm aku nasi goreng sama 2 telur ceplok diatasnya, minumannya es teh. Ini uangnya dan terima kasih"ucapku sambil tersenyum manis membuat Vika tersipu.


"Aku aja tersipu apalagi kalau cowok yang liat. Auto mimisan mereka"batin Vika dengan semburat merah yang ada dipipinya.


"Oo oke , sama sama"ucap Vika cepat kemudian pergi untuk memesan.


Sedangkan Arin yang melihatnya hanya mengedikkan bahu tanda tidak tahu tingkah temannya itu. Sambil menunggu pesanan ia pun membuka ponselnya. Sampai kejadian tidak terduga terjadi yaitu seseorang yang menumpahkan kuah bakso yang masih panas ditangan Arin, membuat Arin sedikit kesakitan.


"Auch apa apaan ini"ucapku sambil mengibaskan tangan yang terkena kuah bakso.


"Mmaaf a arin a aku ttidak sengaja"ucap seseorang sambil menitihkan air mata.


Arin pun segera melirik kearah suara tersebut. Tampak seorang gadis yang terduduk dilantai dengan air mata yang mengalir dipipinya dengan tatapan yang tak berdaya membuat Arin mendengus kesal ternyata orang tersebut tak lain adalah lotus putih siapa lagi kalau bukan Evelyn.


Dengan air mata yang mengalir dan wajah tak berdayanya dan mata bulat yang membulat terlihat polos dan bibir bawahnya ia gigit membuat orang orang memandangnya dengan penuh iba kecuali Arin yang serasa ingin sekali menamparnya.


"Heh mau bermain rupanya"batin Arin menyeringai kemudian mengerutkan alisnya tanda khawatir.


"Evelyn apa kamu baik baik saja, kenapa kamu bisa terjatuh. Padahal kakiku dibawah meja tidak disamping meja. Apakah ada batu yang menghalangi, atau tali sepatumu yang tidak kencang membuatmu terjatuh. Maafkan aku jika aku bersalah. Auch hiks tanganku sakit, hiks apakah kamu juga terkena kuah supnya. Tapi yang kulihat kenapa hanya tanganku yang terkena, kalau tidak sengaja seharusnya kamu juga terkena. Tapi kenapa hanya aku yang terkena seolah olah kamu menargetkannya hiks tanganku sakit"ucapku dramatis sambil menyentuh pundak Evelyn.


"Apa maksudmu Arin, aa ku tidak menargetkanmu. Kamu jangan fitnah aku Arin hiks hiks, aku benar benar tidak sengaja"ucapnya sambil menangis.


"Gila aktingnya, kuakui kamu pandai berakting tapi siapa yang akan menang melawan ratu drama sepertiku"batin Arin.


"Hiks aku tidak menuduhmu hiks aku cuma cuma bilang kalau, kenapa kamu menyatakan seolah olah memang benar kamu menargetkanku. Apakah aku punya salah denganmu, padahal aku hanya duduk menunggu pesananku lalu kamu datang dan terjatuh tepat disampingku"ucpku sambil mengibaskan tanganku seolah olah terasa sangat sakit membuat orang orang memandang iba dan khawatir kepada arin dan langsung menatap tajam dan menyalahkan Evelyn.


'iya ya benar, padahal Arin hanya duduk tapi Evelyn yang jatuh disamping arin'


'iya padahal dari tadi Arin hanya diam saja'


'iya betul dasar pengganggu'


'dasar pembawa masalah'


'huu Evelyn malah nyalain Arin yang jadi korban ya'


'iya apa apaan itu'


Evelyn yang mendengarnya pun menggertakkan giginya menahan amarah, ia pun segera berdiri dan melangkah untuk pergi. Sebelum pergi Arin pun menahan Evelyn dengan menyentuh pundaknya dan membisikkan sesuatu.


"Evelyn kamu salah jika menganggapku lemah, sebelumnya kamu telah telah mengibarkan bendera perang kepadaku. Jadi bersiap siaplah menghitung hari hari indahmu"bisikku ditelinganya sambil menyeringai menyeramkan ditambah aura membunuh membuat Evelyn yang berada disampingnya bergidik ngeri.


"Lihat saja si lotus putih yang menang atau aku yang akan menang"lanjutku dengan mencengkram erat pundak Evelyn membuatnya meringis kesakitan.


Arin pun menepuk pundak Evelyn dan segera duduk kembali ketempat lain yang masih belum terisi dan bersih.(karena Arin itu orangnya selalu menjaga kebersihan ya guys biasanya orang bilang punya penyakit myshopobia). Tak lama datanglah Vika dengan membawa makanan ditangannya dengan baki atau apalah itu.

__ADS_1


"Tadi ada apa"ucap Vika mengerutkan dahi saat melihat kerumunan dibangku tempatnya tadi.


"Sebuah drama kecil"ucapku singkat membuat Vika bungkam tapi dipikirannya banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan.


Arin pun mengambil es batu dari minumannya dan mengompres tangannya yang terkena kuah bakso tadi. Terlihat jelas bahwa tangannya sudah memerah karena terkena air panas, apalagi kulit Arin yang putih tampak jelas sekali lukanya.


"Ya ampun Arin ini kenapa"ucap Vika kaget dan khawatir saat melihat Arin mengompres tangannya yang memerah.


"Tidak apa apa hanya terkena kuah panas"ucapku.


"Kayak gini mah bukan apa apa untukku yang sudah terkena ribuan tusukan pisau, peluru yang menembus kulitku dan dibakar hidup hidup ditempat saat menjalankan misi. Untungnya bajuku semuanya tahan api dan goresan, jadi lukanya tidak terlalu parah"batinku tersenyum tipis sambil mengompres tangannya.


Setelah lukanya cukup membaik Arin pun segera makan nasi gorengnya dengan nikmat seolah tidak terjadi apa apa. Padahal Vika yang ada diepannya meringis melihat luka Arin, tapi ia juga tetap memakan makanannya. Setelah selesai makan mereka pun kembali ke dalam kelasnya karena bel masuk sudah berbunyi.


S


K


I


P


Sepulang sekolah Arin menunggu Arion didepan gerbang, tak lama netra matanya melihat kearah mobil sport warna putih yang mendekat kearahnya.


"Kamu nungguin Arion"ucap seseorang yang tak lain Azzam. Arin yang mendengarnya hanya menganggukkan kepala tanda mengiyakan.


"Bareng aku aja ya, kayaknya Arion bakal lama"ucapnya sambil melihat kearah Arin.


"Ayolah ini panas lho emang kamu nggak kepanasan"ucapnya mencoba membujuk Arin.


"Maaf aku tidak takut kepanasan"ucapku keras kepala.


"Dasar kepala batu"gumamnya yang dapat didengar oleh Arin karena pendengarannya yang tajam.


"Apa"ucapku menatap tajam kearah Azzam.


"Tidak apa apa"ucapnya.


"Beneran nih nggak mau dianterin"lanjutnya sambil menaikkan alisnya.


"Nggak, makasih"ucapku ketus sambil mengalihkan pandangan kearah lain. Sampai tak sengaja aku melihat mobil yang mendekat kearahku. Tentu saja aku tahu siapa itu, yaitu kak Arion.


"Itu sudah dijemput, bye"ucapku sambil melambaikan tangan dan melangkah menuju mobil kak Arion.


"Kak kok lama sih"ucapku mendengus kesal sambil memasang tali pengaman.


"Ya maaf dek tadi ngobrol dikit Ama temen"ucapnya sambil menjalankan mobil saat melihat Arin selesai memasang tali pengaman.


"Oh yaudah"ucapku cuek.

__ADS_1


Arion yang mendengar nada Arin kesal pun menoleh sebentar sampai matanya tertuju kearah tangan Arin yang memerah karena luka.


Ckittt


Tiba tiba Arion mengeram mendadak karena melihat luka Arin.


"Yaampun Arin ini luka karena apa, kok bisa merah gini sih. Kalau nggak diobatin nanti infeksi lho. Siapa yang bikin kamu luka kayak gini. Biar kakak gibeng tu orang"ucapnya sambil memegang tangan Arin yang terluka dengan lembut.


"Yaampun kak jangan ngerem dadakan dong, huh ini tu dijalan. Kalau terjadi kecelakaan gimana"ucapku kesal.


"Ya maaf dek, jadi itu luka karena apa"ucap Arion penasaran sambil menjalankan kembali mobilnya dengan pelan.


"Ok jadi gini, tadi pas dikantin aku kan lagi duduk nunggu pesanan makananku. Eh tiba tiba nggak ada angin nggak ada hujan si Evelyn numpahin kuah bakso yang masih panas kearahku, seolah olah disengaja. Padahal kalau tersandung nggak ada kaki ataupun batu yang bisa buat tersandung. Kalau karena tidak sengaja itu juga tidak mungkin. Eh tiba tiba malah nangis didepanku, yang luka siapa yang nangis siapa"ucapku panjang lebar.


Arion yang mendengar penjelasan Arin pun menggertakkan rahangnya. Ia benar benar membenci orang yang bernama Evelyn itu yang selalu melukai Arin pikirnya.


"Evelyn Evelyn lagi, awas aja besok aku akan membalas perbuatannya atas apa yang ia lakukan kepada Arin"batin Arion menyeringai sambil mengepalkan tangannya karena menahan amarah.


"Huftt nanti sampai rumah diobatin dulu ya, biar nggak infeksi. Atau kalau perlu kita kedokter spesialis kulit biar jelas"ucap Arion lembut dan posesif.


Arin pun hanya membalas dengan anggukan kecil dan senyum manisnya membuat Arion memerah melihatnya.


"Dulu saja aku sering luka karena cambukan dan hukuman dari kakakku sekarang hanya terkena air panas saja kakakku sampai sekhawatir ini"batin Arin terharu atas sikap kakaknya itu.


"Nggak usah kak, aku yakin kalau yang ngobatin kakak pasti bakalan sembuh"ucapku dengan candaan membuat muka Arion menjadi memerah karena digoda.


Tak butuh waktu lama mobil Arion pun sampai dimansion keluarga Abraham. Arion pun segera memarkirkan mobilnya dan berlari untuk mencari P3K. Tak lupa ia juga menggandeng tangan Arin pelan dan mendudukan Arin disofa rumah utama.


"Sini biar kakak obatin ya"ucap Arion sambil memilah obat di kotak P3K.


"Oke kak"ucapku sambil menganggukan kepala dan menjulurkan tangan yang terluka.


Arion pun segera mengobatinya dengan hati hati dan lembut, ia juga meniup tangan Arin saat Arin meringis kesakitan membuat Arin terharu atas tindakan Arion yang termasuk kecil tapi perhatian.


"Nah sudah selesai"ucap Arion dengan senyum mengembang saat selesai membalut tangan Arin dengan perban.


"Jangan sampai kena air ingat itu"ucap Arion sambil mengacungkan telunjuknya didepan Arin.


"Oke ship"ucap Arin kemudian melangkah pergi. Baru beberapa langkah Arin pun membalikkan tubuhnya menghadap Arion.


"Terima kasih ya kak"ucapku tersenyum tulus kemudian mengecup singkat kening Arion.


Arion yang melihat senyum tulus dan kecupan singkat dikeningnya dari Arin pun mematung, sampai ia tersadar dan mengulas senyum dibibirnya dan memegang keningnya.


"Dasar kebiasaan "ucapnya sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Arin yang tidak berubah.


~bersambung~


Jangan lupa like and komen๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜Š๐Ÿค—๐Ÿ˜˜

__ADS_1


Hehe maaf ya lama update soalnya author lagi pusing karena tugas yang menumpuk dan kehabisan ide.


Tapi tenang saja novel ini akan aku lanjutkan sampai selesai. kalau bisa sampai season 2 kalau masih ada yang berminat dan selalu mendukung author. Oke tetap jaga kesehatan dimana pun kalian berada๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š๐Ÿ˜˜


__ADS_2