Aku?Jadi Pemeran Figuran!!

Aku?Jadi Pemeran Figuran!!
CHAPTER 24


__ADS_3

Saat Arin makan ternyata cuaca sedang tidak bagus hujan mulai turun membasahi jalan, banyak sekali pengunjung yang berdatangan untuk menikmati secangkir kopi atau untuk berteduh dari lebatnya hujan.


"Pas sekali, hangat"gumamku sambil memakan sup.


Setelah sup nya habis, Arin menikmati kopinya yang tidak terlalu pahit dan tidak terlalu manis, dengan hawa dingin yang sudah memasuki pori pori kulitnya membuat tanganya sedikit dingin. Terlihat kopi tersebut mengeluarkan asap yang menandakan bahwa kopi tersebut masih panas. Ia menyeruput sedikit demi sedikit sambil memandangi hiruk pikuk pengendara dan orang orang yang ada di jalanan.


"Apakah sudah benar"gumamku kemudian menyeruput kopi kembali sambil memandangi jalanan.


Setelah selesai termenung Arin segera meninggalkan cafe tersebut dengan pakaian yang sudah ia ganti sebelumnya, ia tidak ingin ada orang lain yang mengetahui identitas lain dirinya. Saat ini ia mengenakan celana training warna hitam dengan perpaduan putih disamping dengan kaos warna biru polos yang ditutupi hoddie warna merah maroon. Ia juga mengenakan topi warna hitam dikepalanya.


Setelah selesai bersiap Arin segera memesan sebuah taksi untuk pulang kerumah.


Tak lama sebuah taksi menghampiri Arin dari belakang.


"Mau kemana nona"ucap sopir tersebut sambil melihat Arin yang ada dibelakang dari kaca.


"Tolong antar ke jln**** ya pak"ucapku kemudian menyenderkan kepalanya dikursi.


"Baik nona"ucap sopir sambil menjalankan mobil.


Diperjalanan Arin hanya menikmati pemandangan dari kaca mobil, sampai matanya tertuju kepada seseorang laki laki yang sedang memegang perutnya dengan keadaan menunduk di sebuah gang. Ia dapat melihat darah mengalir dari perut orang tersebut. Walau jarak mobil dan gang tersebut cukup jauh sehingga orang yang tidak jeli tidak akan bisa melihat tapi beda dengan Arin ia bisa merasakan atau melihat dari jarak jauh sekalipun karena sudah terlatih. Di pikiran Arin seseorang tersebut seperti familiar baginya.


"Pak tolong berhenti didekat situ"ucapku sambil menunjuk kearah sebuah gang.


"Baik nona"ucap sopir menganggukkan kepala. Sampai di gang Arin segera menghampiri pemuda tersebut.


"Kamu, Michel kenapa"ucapku terkejut kala seseorang tersebut mendongak dan orang tersebut tak lain adalah Michel.


"Tidak apa apa "ucapnya terbata bata.


Arin pun segera memapah Michel ke taksi tadi karena Arin menyuruh taksi tersebut untuk menunggunya.


Sampai di dalam taksi Arin segera mendudukan Michel tak lupa ia juga mengikat bagian perut Michel yang terluka untuk mencegah darah yang keluar.


"Pak tolong kerumah sakit ya pak, cepat"ucapku.

__ADS_1


"Baik nona"ucapnya.


15 menit kemudian Arin sampai di depan rumah sakit ia segera membayar taksi tersebut dan memapah Michel masuk kerumah sakit.


"Dokter suster tolong"ucapku sedikit teriak, tak lama beberapa perawat datang dengan brankar, Arin dibantu perawat segera menidurkan tubuh Michel ke brankar. Michel pun dibawa ke ruang Operasi karena luka diperutnya cukup dalam.


Sedangkan Arin ia sedang menunggu jalannya operasi di kursi penunggu didekat ruang operasi sambil melamun. Lamunan Arin tersadar kala suara dering ponselnya.


"Halo"ucapku datar.


"Dek kamu kemana ini sudah hampir malam loh, kamu nggak kenapa kenapa kan"ucap kak Arion panik.


"Aku dirumah sakit kak karena ak~"ucapku terhenti saat kak Arion berteriak.


"APA, rumah sakit. Kamu kenapa sayang, apa ada yang luka, rumah sakit mana biar kakak jemput, kamu beneran nggak ada yang luka kan"ucap kak Arion panik.


"Shutt, diem dulu dengerin Arin. Tadi Arin nggak sengaja ketemu Michel, ia sedang terluka jadi kubawa saja kerumah sakit"ucapku mencoba menenangkan kak Arion.


"Huftt syukurlah"ucap kak Arion.


"Maksudku untungnya kamu tidak terluka sayang, kalau begitu kakak kesana ya"ucapnya.


"Nggak usah kak, aku juga mau pulang cuma nunggu operasinya selesai saja"ucapku.


"Baiklah kakak tunggu, hati hati dijalan. Jangan ngebut oke"ucap kak Arion memperingati.


"Siap laksanakan"ucapku tegas sedikit bercanda.


"Oke kalau begitu daa kak"lanjutku sambil mematikan telfon.


Saat mematikan telfon terdengar suara pintu yang terbuka membuat Arin menoleh kebelakang. Ia melihat dokter yang keluar dari ruang operasi.


"Dok bagaimana keadaan teman saya"ucapku sedikit khawatir, bagaimanapun Michel dulu pernah merawatnya juga.


"Keluarganya kemana ya"ucap dokter tersebut.

__ADS_1


"Begini dok keluarganya sedang tidak ada, jadi bagaimana keadaan teman saya dok. Apakah lukanya cukup serius"ucapku sedikit mendesak karena Arin tahu bahwa keluarga Michel tidak menganggap keberadaaan Michel yang dianggap pembawa sial oleh mereka, bahkan mereka tak segan segan melukai atau menghukum berat Michel dari kecil. Karena itulah membuat kepribadian Michel menjadi dingin, datar dan kejam.


"Oh begini lukanya cukup dalam tapi tidak sampai melukai organ dalam jadi tidak perlu khawatir, hanya menunggu pasien sadar dan memberi perawatan"ucapnya.


"Tolong pindahkan keruang VVIP ya dok"ucapku.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu"ucap dokter tersebut sambil melangkah pergi.


"Apakah aku melupakan sesuatu"gumam arin sambil memijit pelipisnya.


"Astaga, bukankah ini kejadian dimana Michel yang diserang oleh salah satu mafia dijalan dengan jumlah yang besar membuat Michel terpojok dan akhirnya terluka diperutnya karena tertembak. Kurasa Michel saat itu ditolong oleh Evelyn, karena Evelyn ingin pergi ke supermarket. Apakah aku telah mengubah ceritanya, apakah itu baik baik saja"batinku polos.(Dasar Arin nggak sadar diri kalau udah bikin alur ceritanya menyimpang😥)


"Au ah, aku menolongnya karena hati nurani ku"gumamku.


"Aku beli makan dulu aja sama buah untuk Michel kalau sudah bangun"ucapku sambil melangkah pergi.


#######


Saat ini Arin berada didepan rumah sakit sembari membawa 2 kantong plastik ditangannya. Ia membawa buah buahan, makanan dan minuman. Segera ia menghampiri resepsionis untuk menanyakan tempat Michel dirawat.


"Sus mau tanya ruang Michel Sanjaya, dimana ya sus"ucapku sambil menatapnya.


"Ruang pasien atas nama Michel Sanjaya di VVIP no 10 lantai 2 ya mbk"ucap suster tersebut.


"Terima kasih sus,kalau begitu saya permisi"ucapkuendapat anggukan kepala dari susuter tersebut.


Arin pun segera menghampiri sebuah lift untuk ke lantai dua, kenapa tidak pakai tangga biar sehat? kalau ada yang instan mengapa tidak ya pikir Arin. Sampai di lantai dua Arin segera mencari ruang VVIP nomor 10.


"6, 8, 10. Nah pasti yang ini"gumamku sambil melihat kearah nomor 10 yang tertera didepan pintu. Arin mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.


Dapat Arin lihat kondisi Michel dengan tangannya yang masih menancap oleh selang infus, matanya yang masih terpejam, bibirnya yang kering dan wajahnya yang pucat tak melunturkan wajah tampannya. Arin pun menghampirinya dan meletakkan plastik yang ia bawa ke meja di samping tempat tidur pasien.


"Hufst kasihan hidup kamu seperti di kehidupanku yang lalu"gumamku pelan sampai tidak ada suara dan mengelus pelan kepala Michel.


~bersambung~

__ADS_1


Jangan lupa like and komen😊😊🤗


__ADS_2