Aku?Jadi Pemeran Figuran!!

Aku?Jadi Pemeran Figuran!!
CHAPTER 29


__ADS_3

Arion tak sadar jika ada sepasang mata yang mendengar ungkapan tersebut yang tak lain adalah Arin. Ia sedang mematung mendengar ucapan dari kakaknya. Apa yang ia dengar tadi (unknown). Arin tak bisa berkata kata lagi ia mematung mendengar semua curahan hati yang dilontarkan Arion sambil memandangi foto tersebut.


"Jadi selama ini aku punya kakak perempuan. Terus dimana dia"gumamku saat mendengar ucapan kak Arion.


"Aku harus tanya ayah bunda"gumamku sambil melangkah pergi menuju ruang keluarga. Arin dapat melihat wajah mereka yang masih terdiam dan larut dalam kesedihan.


"Ayah bunda"ucapku pelan sambil berjongkok diantara mereka.


"Ayah bunda apakah aku punya kakak perempuan, terus kemana dia pergi. Peristiwa apa yang terjadi saat aku umur 4 tahun ayah. Tolong jelaskan kepada Arin, biar Arin tahu apa yang terjadi"ucapku memohon sambil berlinang air mata.


"Tapi Arin hiks bunda tidak mau kamu depresi lagi karena terus menyalahkan dirimu atas kematian kakakmu"ucap bunda membuatku terdiam sebentar kemudian aku pun tersenyum tipis.


"Bunda jika aku punya masalah, seharusnya aku harus menghadapinya agar tidak menjadi kelemahan ku dimasa depan. Bunda Arin janji setelah mendengar cerita itu Arin tidak akan melakukan hal hal aneh seperti dulu"ucapku mencoba mengingat, tetapi tetap saja hasilnya nihil.


"Baiklah bunda akan cerita tapi kamu tidak boleh melakukan hal hal aneh setelahnya, mengerti"ucap bunda lembut membuatku mengangguk.


Flashback


Saat itu nampak seorang anak kecil perempuan yang berusia 6 tahun yang sedang menjaga kedua adiknya bermain, namanya Viona Abraham. Anak pertama dari keluarga Abraham. Kedua adiknya bernama Arion Abraham yang berumur 5 tahun dan Arindra Queen Abraham yang berumur 4 tahun.


Saat itu Arin sedang bermain bola bersama Arion.


"Kak ayo lempar sini bolanya ke Arin"ucap Arin kecil kepada Arion sambil merentangkan tangannya bersiap untuk menangkap bola.


"Siap siap ya dek, satu dua tiga"ucap Arion sambil melemparkan bola kearah Arin.


Tiba tiba bola tersebut menggelinding sampai kejalan. Arin pun segera mengejar bola tersebut. Sedangkan disisi lain Viona sedang menanam tanaman di depan mansion. Ia sangat menyukai ketenangan dan kesejukan. Sampai ia melihat adik bungsunya yang sedang ketengah jalan, ia pun segera menghampirinya agar tidak terjadi kecelakaan.


Sampai sebuah mobil bewarna hitam tanpa plat mobil menuju Arin sontak hal itu membuat Viona berlari dan berteriak kepada Arin supaya menjauh.


"Arin lari, lari"ucap Viona berteriak sambil melambaikan tangan.


Sedangkan Arin ia tidak mendengar apa yang dikatakan kakaknya ia pun Samapi ketenagh jalan. Tiba tiba ia kaget karena melihat mobil yang menuju kearahnya.


"Aaaa"teriak Arin saat mobil tersebut mulai menabrak dirinya.


Bruk


Bukan, bukan Arin yang tertabrak melainkan Viona. Dimenit terakhir ia mendorong adiknya, tapi tidak untuknya yang sudah tidak ada kesempatan. Viona pun tertabrak mobil tersebut sampai terpental beberapa meter dari lokasi kejadian. Sedangkan Arin saat ia didorong oleh Viona kepalanya terbentur sebuah batu dipinggir jalan membuatnya pingsan tak sadarkan diri.


Sedangkan disisi lain Arion yang melihat kejadian tersebut menagang ia pun berlari kearah mereka berdua.


"Kak Viona, Arin"teriaknya kemudian memangku kepala viona yang tubuhnya sudah berlumuran darah.


"Dek...d..dengerin ..k..k.akak. huh..kamu..h.. harus..ja..ga..a..Arin..ya. ka..lau Kaka sudah t..tidak ada."ucap Viona terbata bata.


"Hiks jangan Kaka hiks jangan tinggalin Arion. Nanti siapa hiks yang dongengin Arion lagi hiks nanti siapa yang bakal dijahilin hiks adek kalau hiks Kaka tidak ada. Nanti kalau Arin tanya kakak hiks gimana ion jawab hah"ucap Arion sambil menangis kencang.

__ADS_1


"AYAH BUNDA, TOLONGIN ADEK. HIKS BUNDA AYAH HIKS TOLONG, TOLONG"teriak Arion mencoba mencari bantuan.


"D..dek dengerin ..ka...kak j..ika..k..kakak b..benar..be..nar...pergi huh ...ja..ngan sala..hin a..arin ya.. k..Kaka nggak ..ma..mau k..kamu c..cu..e..kin..Arin. a..apa..lagi..s..sam..pai..b..benci..a..Arin"ucap Viona terbata bata dengan nafasnya yang mulai melemah.


"Tidak kak, aku akan sayang sama Arin. Aku akan jaga Arin hiks tapi kakak hiks jangan tinggalin aku hiks aku mohon hiks"ucap Arion sambil menggoyangkan badan Viona agar ia tetap terjaga kesadarannya.


"Syukurlah..k..kakak...b.. bisa..t..ting..galin ka..Lian..d..den...gan..te...Nang"ucapnya tersenyum kemudian mengembuskan nafas terakhirnya.


"Tidak kakak kumohon jangan pergi. Hiks jangan pergi hiks jangan ninggalin Arion sama Arin sendiri hiks kakak hiks nanti hiks siapa yang elusin hiks kepala ion"ucap Arion menangis tersedu sedu.


Tak lama ayah bunda pun datang dengan berlari mereka pun membawa tubuh Viona dan Arin ke rumah sakit. Sampai dirumah sakit mereka pun dirawat.


"Dok bagaimana dengan Viona dok"ucap bunda terburu buru.


"Maaf sebelumnya pak Bu, pasien atas nama Viona sudah meninggal sebelum sampai di rumah sakit. Sebelumnya saya turut berbelasungkawa atas kematian anak bapak dan ibu"ucap dokter tersebut.


Jeder


Sontak hal tersebut membuat ayah dan bunda terdiam dan menangis. Ia kehilangan anaknya, tentu saja itu membuat mereka terpukul. Sedangkan Arion yang mendengarnya pun juga sedih. Bagi Arion, Viona adalah sosok kakak yang baik untuknya. Ia akan memberikan solusi saat dirinya dalam masalah, ia juga selalu bermanja-manja kepadanya. Lalu saat ini, apa yang ia dengar. Kakaknya meninggal?orang yang selalu ada untuknya menghilang?temannya saudaranya tiada dan tidak akan kembali?


"Hiks Kaka kenapa tidak dengerin ion hiks kakak nggak hiks sayang ion lagi hiks kakak hiks nibggalin ion hiks"ucap Arion menangis.


"Lalu dok, bagaimana keadaan Arin dok, putri saya"ucap ayah berusaha tegar.


"Maaf pak pasien mengalami Gagar otak karena benturan keras yang ada dikepalanya, juga terdapat beberapa lebam di sekita tubuhnya karena menghantam benda keras. Hal itu membuat pasien mengalami koma, untuk kapan pasien bangun. Saya tidak dapat menjaminnya pak. Karena hal itu bisa cepat atau bahkan sampai berahi tahun. Saya turut berduka cita pak buk, kalau begitu saya permisi."ucap dokter tersebut membuat ayah bunda kembali lemas. Anaknya yang pertama sudah tiada, sekarang kini anaknya yang lain juga koma. Hal itu benar benar membuat keluarga Abraham terpukul atas keadaan tersebut.


Sedangkan Arion ia juga terpukul mendengarnya, di satu sisi ia sudah kehilangan kakaknya disisi lain adiknya juga mengalami koma.


Setelah pemakaman, keluarga Abraham pun segera menuju rumah sakit untuk mengecek keadaan Arin. Walaupun mereka masih diselimuti rasa sedih, tapi mereka masih mempunyai tanggung jawab kepada anak lainnya juga. Sampai dirumah skait mereka pun langsung menuju keruang rawat inap Arin. Dapat mereka lihat Arin dengan wajah yang pucat dan berbagai alat medis menempel ditubuhnya. Diam diam didalam hati mereka meringis melihat anak bungsunya terluka parah seperti itu.


"Sayang cepat bangun ya hiks jangan tinggalin bunda seperti kakak ya. Cepat bangun nak"ucap bunda lirih sambil mengelus kepala arin lembut.


Tiba tiba jari jemari Arin pun bergerak perlahan, matanya pun mulai berkedip menyesuaikan cahaya yang ada disekitarnya. Ia pun kembali menherjap sampai matanya benar benar terbuka. Alat alat medis yang ada ditubuh Arin pun perlahan lahan dilepas karena Arin sudah sadar. Sedangkan Arin ia hanya diam dengan menatap kearah depan dengan tatapan kosong. Hal itu membuat orang tua Arin menjadi sedih karena Arin adalah orang yang ceria dan juga tersenyum. Tapi kini ia serperti orang yang tidak mempunyai harapan hidup.


"Sayang kamu makan ya"ucap bunda lembut sambil menyuapi Arin.


"....."Arin hanya diam tapi ia menerima suapan dari bundanya. Ia pun memakan makanan tersebut sampai habis, setelah itu ia pun tidur.


Bunda dan ayah yang melihat itu hanya menggelengkan nafas panjang. Sekarang anaknya menjadi lebih pendiam. Sedangkan Arion ia hanya memandang datar kearah Arin yang sedang tidur, tapi walau begitu dihatinya terbesit rasa khawatir untuk adiknya.


Selama seminggu Arin dirawat inap diruang sakit agar lukanya bisa cepat pulih. Sebenarnya selain luka luar, Arin mengalami depresi karena melihat kematian kakaknya yang tepat berada didepannya membuatnya merasa bersalah dan selalu menyalahkan dirinya dalam pikirannya. Tepat hari ini, Arin sudah diperbolehkan untuk pulang. Keluarganya pun bersyukur karena anaknya sudah sembuh walau masih merasa tertekan.


Sampai dirumah Arin langsung pergi kekematnya dan menutup pintunya. Hal itu terjadi berulang kali, membuat orang tua Arin merasa khawatir dengan sikap anaknya.


Saat ini Arin sedang berada didalam kamarnya ia sedang melamun. Sampai matanya tertuju ke sebuah foto 3 orang anak yang nakal tersenyum dalam foto tersebut. Arin pun segera menghampiri foto tersebut dan mengusap pelan foto tersebut. Orang yang ada didalam foto tersebut tak lain adalah Arin,viona dan Arion Yangs Edang tersenyum sambil merangkul satu sama lain. Tak disangka butiran air menetes dipipinya Arin.


"Hiks aku yang bikin Kaka tiada hiks karena aku kakak hiks harus pergi. Aarrgh hiks kakak Arin kangen hiks Arin kangen sama kakak vio hiks apa hiks kakak tahu hiks kak ion jadi diemin Arin hiks itu pasti, pasti hiks karena Arin yang buat Kaka tiada hiks"ucap Arin sedikit berteriak sambil menangis dengan foto yang ada dipelukannya.

__ADS_1


Arion yang mendengar teriakan adiknya pun segera menghampiri kamar Arin. Ia melihat adiknya yang sedang menangis sambil memeluk foto mereka dan terus menyalahkan dirinya.


"Kak ion hiks aku kan yang bikin hiks kak vio pergi hiks gara gara aku hiks Kaka vio pergi. Hiks kenapa kenapa harus kak vio hiks harusnya aku saja yang tiada hiks "teriak Arin kala melihat Arion yang berada dibelakangnya.


Sedangkan Arion ia hanya diam dan menatap datar kepada Arin.


"IYA INI SEMUA SALAH KAMU, ANDAI SAJA KAMU TIDAK KE JALANAN PASTI KALIAN GIDAK AKAN KECELAKAAN, DAN KAK VIO TIDAK AKAN NINGGALIN KITA. IYA ITU SALAH KAMU"benarkah Arion kemudian meninggalkan Arin sendiri.


Sedangkan Arin ia hanya menangis mendengar bentakan Arion. Ia juga menyalahkan dirinya. Atas kepergian kakaknya.


"Hiks kak vio, kak ion sudah hiks nggak sayang Arin hiks Arin hiks ingin kakak hiks"ucap Arin kemudian ia melihat sebuah pisau buah dimejanya. Karena depresi berat Arin pun menggores lengannya, membuat tanganya mengeluarkan banyak darah. Arin pun pingsan karena kehilangan banyak darah dengan foto yang masih berada dipelukannya.


Sejak kejadian itu Arin mulai melakukan hal hal aneh, ia sering berteriak, menangis dan mencoba untuk bunuh diri ketika ia melamun atau tidak terkendali. Hal itu membuat orang tuan Arin merasa sedih dan tertekan. Mereka pun memutuskan untuk menghipnotis Arin agar tidak dapat mengingat kejadian bersama kakak perempuannya. Orang tua Arin juga membuat sebuah kamar rahasia diperpustakaan untuk menyimpan barang barang viona.


Setelah Arin dihipnotis ia sudah melupakan kenangannya bersama viona, ia tidak akan ingat kepada kakaknya jika tidak dipicu. Sedangkan Arion ia menyalahkan Arin karena membuat kakaknya seperti dihilangkan dari keluarga abraham. Sejak kejadian itu Arion beruabha menjadi pribadi yang dingin dan datar kepada sekitarnya termasuk Arin kecuali orang tuanya.


Flashback off


"Jadi sayang kamu jangan menyalahkan dirimu terus, itu semua sudah tak direstui dari Tuhan"


ucap bunda lembut sambil membelai rambut Arin.


"iya Bun, tenang aja Arin nggak akan negelakuin hal hal aneh lagi kok"ucap arin.


"Bun , yah aku mau Kembali kekamarku dulu ya. aku mau istirahat capek"ucapku beralasan yang sebenarnya ingin menenangkan diri mendengar cerita tersebut.


"baiklah"ucap bunda lembut kemudian arin pun segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


~bersambung~


jangan lupa like and komen๐Ÿ˜‰๐Ÿค—๐Ÿค—


maaf ya kemarin malam nggak jadi update, kemarin author kecapekan buat tak'jil jadi langsung tidur deh sampai lupa up.๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


author mau nanya nih soalnya author bingung mau jodholin ke siapa?


siapa yang jadi jodoh Arin?


A. Sean


B. Michel


C. Aciel


D. Azzam


E. ABCD

__ADS_1


F.karakter lain.


udah itu aja sih mau sarannya dong.


__ADS_2